55 Paus Terdampar di Rote NTT, Sensor Rusak akibat Polusi Suara?

Fenomena terdamparnya puluhan paus pilot di pesisir Pantai Mbadokai, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur pada Senin (9/3/2026) menjadi perhatian serius para ahli. Peristiwa ini melibatkan 55 ekor paus pilot, di mana 21 ekor ditemukan mati dan 34 lainnya berhasil digiring kembali ke laut.

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, S.Si., M.Sc., menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian ini. Paus pilot merupakan hewan dengan status konservasi dalam perlindungan penuh, namun data populasi globalnya masih menjadi misteri.

“Kalau kita lihat dari data IUCN, kita tidak punya data populasi globalnya, jadi kita tidak tahu apakah populasinya meningkat, menurun, stabil atau bagaimana,” ujar Akbar, dikutip dari laman UGM pada Selasa (31/3/2026).

**Sinyal Bahaya Gangguan Ekosistem Perairan**

Akbar menekankan bahwa kejadian berulang ini merupakan “alarm” adanya gangguan ekologis di sekitar perairan. Catatan menunjukkan peristiwa serupa pernah terjadi di Alor (2024) dengan 50 ekor, Sabu Raijua (2020) sebanyak 11 ekor, hingga di Madura dengan 52 ekor paus.

“Memang kejadian ini sudah terjadi beberapa kali, meskipun sering terjadi, bukan berarti hal ini natural,” jelasnya.

Wilayah NTT, khususnya Laut Sawu dan sekitar Kupang bagian barat, merupakan jalur migrasi tahunan. Dari awal hingga pertengahan tahun, paus-paus ini bermigrasi dari perairan dingin di selatan Australia menuju perairan tropis yang lebih hangat.

**Kerusakan Organ Ekolokasi: Penyebab Utama Terdampar**

Untuk mengetahui penyebab pasti kematian, diperlukan prosedur nekropsi atau bedah bangkai. Berdasarkan penelitian sebelumnya, salah satu temuan utama adalah kerusakan pada organ ekolokasi—sistem navigasi paus yang mengandalkan pantulan gelombang suara.

Beberapa faktor diduga menjadi pemicu kerusakan organ vital ini:

**Aktivitas Manusia yang Mengganggu:**
– Survei seismik dan eksplorasi migas (sonar)
– Intensitas tinggi lalu lintas kapal
– Pencemaran lingkungan (plastik dan jaring nelayan)
– Kondisi substrat pantai (lumpur/pasir) yang lemah dalam memantulkan gelombang

“Berkaitan dengan kerusakan organ ekolokasi, hal ini bisa makin parah karena kalau organ tersebut rusak ketika paus pilot bergerak ke area dangkal, mereka jadi tidak tahu apakah sudah dangkal atau masih dalam. Ibaratnya sensornya rusak,” papar Akbar.

**Faktor Sosial yang Memperparah Kondisi**

Selain faktor teknis, sifat sosial paus pilot yang hidup berkelompok turut memperparah keadaan. Jika pemimpin kelompok (betina dewasa) tersesat, maka seluruh anggota kelompok akan mengikuti hingga ikut terdampar.

Perilaku sosial ini menciptakan efek domino yang fatal. Ketika satu individu mengalami disorientasi akibat kerusakan ekolokasi, kawanan akan tetap mengikuti meski menuju area berbahaya.

**Protokol Penanganan yang Krusial**

Akbar mengimbau masyarakat untuk mengikuti protokol penanganan yang tepat jika menemukan paus terdampar:

– Jangan menduduki atau naik di atas hewan
– Hindari melakukan selfie atau foto terlalu dekat
– Jangan menutupi lubang napas (blowhole)
– Pastikan tubuh paus tetap basah dengan air laut

“Kalau lubang napas ditutupi, paus akan semakin cepat mati dan lemas, termasuk kepanasan karena memiliki jaringan lemak yang banyak, sehingga harus kena air dalam jumlah banyak. Protokol-protokol ini sangat penting,” tegasnya.

**Keterbatasan Riset dan Investigasi**

Hingga saat ini, tantangan terbesar dalam mengungkap penyebab pasti kematian paus di Indonesia adalah keterbatasan peralatan dan jumlah dokter hewan yang memiliki kapasitas khusus untuk melakukan nekropsi pada mamalia laut berukuran besar.

Kondisi ini menyulitkan upaya identifikasi penyebab pasti dan pola terdamparnya paus di perairan Indonesia. Tanpa data nekropsi yang komprehensif, sulit untuk merancang strategi konservasi yang efektif.

**Urgensi Perlindungan Jalur Migrasi**

Peristiwa berulang di kawasan NTT menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap jalur migrasi paus. Area ini menjadi koridor penting bagi pergerakan mamalia laut antara perairan Australia dan Asia Tenggara.

Gangguan terhadap jalur migrasi ini tidak hanya mengancam paus pilot, tetapi juga spesies lain yang menggunakan rute yang sama. Diperlukan regulasi ketat terhadap aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu navigasi alami mamalia laut.

**Dampak Jangka Panjang pada Ekosistem**

Kematian massal paus pilot dapat berdampak pada keseimbangan ekosistem laut. Sebagai predator puncak, paus berperan penting dalam mengontrol populasi cumi-cumi dan ikan kecil. Penurunan populasi paus dapat menyebabkan ledakan populasi mangsa mereka, yang pada akhirnya mengganggu rantai makanan.

Selain itu, paus juga berperan dalam sirkulasi nutrisi laut melalui pergerakan vertikal mereka dari permukaan ke kedalaman. Hilangnya fungsi ekologis ini dapat mempengaruhi produktivitas perairan secara keseluruhan.

**Catatan**: Artikel ini menggunakan referensi tanggal masa depan (Maret 2026) yang mungkin merupakan proyeksi atau simulasi dalam artikel sumber.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

No Pain No Gain