Riset genetik terkini akhirnya memberikan jawaban atas perdebatan panjang tentang kapan manusia modern pertama kali menginjakkan kaki di benua Australia. Selama puluhan tahun, para ahli terpecah antara kronologi pendek (47.000-51.000 tahun lalu) dan kronologi panjang (60.000-65.000 tahun lalu).
Kini, sebuah studi baru menyatukan bukti genetik dan arkeologi yang mendukung kedatangan manusia jauh lebih awal—sekitar 60.000 tahun yang lalu.
**Analisis Genom Terbesar dalam Sejarah**
Penelitian yang diterbitkan di Science Advances ini menganalisis 2.456 genom, baik dari manusia purba maupun populasi Aborigin kontemporer di seluruh Oseania. Data ini digunakan untuk menelusuri jejak perjalanan manusia dari Sunda—daratan purba yang kini mencakup Indonesia, Filipina, dan Semenanjung Malaysia—menuju Sahul, yang dahulu merupakan satu daratan besar mencakup Australia, Tasmania, dan Papua Nugini.
“Ini adalah studi genetik paling komprehensif sejauh ini, dan temuan kami memberikan dukungan kuat pada kronologi panjang,” ujar Martin Richards, ahli arkeogenetik dari University of Huddersfield.
Penelitian ini tidak hanya memperkuat kapan manusia tiba, tetapi juga bagaimana mereka tiba.
**Dua Jalur Migrasi Bersamaan**
Hasil analisis menunjukkan bahwa manusia datang ke Australia melalui dua rute berbeda pada periode yang sama, sekitar 60.000 tahun lalu:
– **Rute Selatan**: melalui wilayah yang kini menjadi Indonesia
– **Rute Utara**: melalui kepulauan yang sekarang menjadi Filipina
Richards menjelaskan bahwa dua kelompok ini berasal dari populasi yang sama ketika keluar dari Afrika sekitar 70.000-80.000 tahun lalu. Mereka kemudian berpisah saat bergerak ke timur, mungkin di Asia Selatan atau Asia Tenggara, 10.000-20.000 tahun sebelum akhirnya mencapai Australia.
**Metode Jam Molekuler Mendukung**
Penelitian yang menggunakan pendekatan “molecular clock”—metode yang mengukur perbedaan mutasi genetik untuk memperkirakan waktu evolusi—menunjukkan konsistensi waktu kedatangan di Australia pada sekitar 60.000 tahun lalu berdasarkan analisis DNA mitokondria dan kromosom Y.
“Aborigin Australia dan masyarakat Papua Nugini memiliki garis keturunan tak terputus paling kuno di luar Afrika,” tegas Richards.
**Kemungkinan Perkawinan Silang dengan Spesies Purba**
Salah satu temuan paling menarik adalah kemungkinan bahwa manusia modern kala itu berkawin silang dengan spesies manusia purba, termasuk dengan Homo longi, Homo luzonensis, dan bahkan dengan “manusia hobbit” (Homo floresiensis) dari Flores.
Meskipun demikian, seberapa jauh interaksi genetik ini terjadi masih belum jelas. Namun kemungkinan ini memperkaya gambaran tentang keragaman manusia yang pernah hidup di Asia Tenggara dan Australasia.
**Dukungan dari Komunitas Ilmiah**
Adam Brumm, arkeolog dari Griffith University yang tidak terlibat dalam studi tersebut, mengakui kekuatan bukti ini.
“Saya akan bertaruh pada model kronologi panjang,” ujarnya, merujuk pada semakin solidnya bukti bahwa manusia telah menginjakkan kaki di Sahul sejak 60.000 tahun silam.
**Makna Mendalam bagi Masyarakat Aborigin**
Penelitian ini memiliki signifikansi mendalam bagi masyarakat Aborigin. Banyak dari mereka meyakini bahwa leluhur mereka telah “selalu berada di tanah ini”. Temuan genetik ini menguatkan keyakinan tersebut.
Helen Farr, arkeolog dari University of Southampton, mengatakan: “Data ini mendukung warisan budaya yang sangat dalam bagi komunitas Aboriginal.”
Ia menambahkan bahwa hubungan manusia dengan daratan—”Country dan Sea Country”—telah terjalin setidaknya selama 60.000 tahun.
**Bukti Kemampuan Teknologi Maritim Kuno**
Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kemampuan berlayar—kemampuan teknologis yang tak tercatat dalam artefak arkeologi—sudah dimiliki manusia purba. Mereka mampu menyeberangi laut untuk mencapai Sahul, sebuah prestasi luar biasa untuk masa itu.
**Konsistensi Multi-Disiplin**
Dengan kombinasi bukti genetika, arkeologi, dan pengetahuan tradisional Aborigin, penelitian ini mempertegas satu hal: Manusia modern telah tiba di Australia sekitar 60.000 tahun lalu, melalui dua gelombang migrasi besar, dan membawa garis keturunan paling kuno di luar Afrika.
**Revolusi Pemahaman Sejarah Manusia**
Temuan ini tidak hanya memecahkan perdebatan ilmiah, tetapi juga mengembalikan narasi sejarah kepada para penjaga Tanah Aborigin yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.
**Implikasi untuk Penelitian Masa Depan**
Penelitian ini membuka jalan untuk investigasi lebih lanjut tentang migrasi manusia purba dan interaksi dengan spesies lain. Data genetik yang komprehensif ini dapat menjadi dasar untuk memahami pola migrasi manusia di wilayah Asia-Pasifik yang lebih luas.
**Teknologi Genetik Modern Memecahkan Misteri Kuno**
Keberhasilan penelitian ini menunjukkan bagaimana teknologi analisis genetik modern dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang sejarah manusia yang telah diperdebatkan selama dekade.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: