Misteri Cahaya Aneh di Langit 70 Tahun Lalu, Uji Nuklir atau UFO?

Lebih dari 70 tahun lalu, jauh sebelum satelit pertama Sputnik 1 mengorbit Bumi, astronom di Observatorium Palomar, California, menangkap sesuatu yang tidak biasa: kilatan cahaya kecil mirip bintang yang muncul dan lenyap hanya dalam hitungan menit.

Kini, dua studi terbaru yang telah melewati proses peer review kembali membuka arsip foto teleskop lama tersebut dan memicu perdebatan besar di kalangan ilmuwan.

**Ribuan Kilatan Cahaya Era Perang Dingin**

Dalam ribuan foto langit era 1949-1958, para peneliti menemukan ribuan kilatan cahaya misterius, atau transients, yang tampaknya muncul pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan uji coba senjata nuklir era Perang Dingin.

Bahkan, ada peningkatan kemunculan kilatan ini bersamaan dengan melonjaknya laporan UFO pada periode yang sama.

**Pola yang Mengejutkan**

Beatriz Villarroel, astronom dari Nordic Institute for Theoretical Physics, bersama peneliti sekaligus dokter anestesi Universitas Vanderbilt, Stephen Bruehl, menemukan pola yang membuat mereka terkejut. Mereka mencatat:

– Kilatan cahaya ini muncul pada 310 malam dalam arsip Palomar
– Pada salah satu hari, muncul hingga 4.528 kilatan di berbagai area langit
– Transients ini tidak muncul pada foto sebelum atau sesudahnya
– Ketika dicocokkan dengan database UFOCAT, fenomena ini 45% lebih sering terjadi dalam 24 jam sekitar uji coba nuklir AS, Uni Soviet, dan Inggris
– Setiap tambahan satu laporan UFO pada hari tertentu, kilatan meningkat 8,5%

**Spekulasi tentang Objek Buatan**

Villarroel dan Bruehl menyebut temuan ini sebagai “asosiasi yang lebih dari sekadar kebetulan.” Namun Bruehl menambahkan pernyataan yang lebih provokatif: “Kita harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa ini mungkin objek buatan… dan jika benda-benda ini berada di orbit sebelum Sputnik, siapa yang menempatkannya di sana?”

**Teori Debu Radioaktif**

Tidak semua ilmuwan sepakat dengan kesimpulan tersebut. Beberapa ahli berpendapat fenomena itu bisa jadi lebih sederhana: efek samping dari ledakan nuklir.

Michael Wiescher, astrofisikawan nuklir dari University of Notre Dame, mengusulkan bahwa ledakan nuklir mungkin menyebarkan debu radioaktif dan serpihan logam ke atmosfer atas. Melalui teleskop, partikel-partikel itu dapat muncul sebagai kilatan pendek mirip bintang.

**Sanggahan terhadap Teori Debu**

Namun Villarroel dan Bruehl menolak penjelasan ini. Menurut mereka, partikel radioaktif akan tampak sebagai noda kabur atau garis, bukan titik cahaya tajam seperti bintang dalam posisi tetap selama 50 menit pemotretan Palomar.

Bruehl bahkan menyatakan: “Jika kilatan itu berasal dari fragmen bom yang terlontar ke orbit, mereka harus mencapai ketinggian sekitar 35.000 km—sesuatu yang mustahil kecuali terjadi keajaiban.”

**Keraguan tentang Kualitas Data**

Beberapa astronom lebih berhati-hati dan mengingatkan bahwa kesimpulan luar biasa membutuhkan bukti luar biasa. Michael Garrett dari Jodrell Bank Centre for Astrophysics mengatakan: “Yang menjadi kekhawatiran saya adalah kualitas datanya, bukan timnya.”

**Masalah Teknologi Fotografi Era 1940-an**

Foto-foto tua Palomar dibuat menggunakan pelat kaca berlapis emulsi—teknologi yang sangat rentan terhadap:
– Debu dan rambut
– Goresan
– Jejak material kimia
– Distorsi selama proses penyalinan dan digitalisasi

**Kemungkinan Artefak Kamera**

Nigel Hambly dari University of Edinburgh, yang meneliti persoalan ini pada 2024, menjelaskan bahwa pola lurus yang dilaporkan tim Villarroel dapat berasal dari artefak kamera, bukan objek nyata di langit.

“Fitur linear bisa muncul dari debu, goresan, atau paku difraksi dari bintang terang,” katanya.

Kesalahan interpretasi data serupa pernah terjadi saat astronom pada 1960-an mengira quasar berpasangan adalah objek fisik yang terhubung—padahal hanya kebetulan posisi.

**Rekomendasi Verifikasi**

Para ahli sepakat bahwa langkah paling penting adalah verifikasi independen. Beberapa rekomendasi yang muncul:

– Meneliti ulang foto-foto lama Palomar, idealnya pelat kaca asli—bukan hasil scan digital
– Mengkaji arsip observatorium lain yang aktif sebelum 1957
– Melakukan pemeriksaan mikroskopis untuk membedakan cahaya asli dari cacat emulsi

Hambly menekankan bahwa: “Melihat pelat asli dengan mata jauh lebih akurat dibanding melihat versi digitalnya.”

**Potensi Titik Balik Studi UFO**

Terlepas dari kesimpulannya, banyak ilmuwan menganggap penelitian ini penting karena membuka kembali pembahasan tentang fenomena udara tak dikenal (UAP) secara ilmiah.

David Windt dari Columbia University mengatakan: “Kita mungkin akan melihat publikasi ini sebagai titik balik bagi penerimaan UFO sebagai topik penelitian ilmiah yang sah.”

**Konteks Historis Era Perang Dingin**

Periode 1949-1958 merupakan masa puncak Perang Dingin dengan intensitas uji coba senjata nuklir yang tinggi. AS dan Uni Soviet berlomba mengembangkan arsenal nuklir mereka, sementara fenomena UFO mulai menjadi perhatian publik setelah insiden Roswell 1947.

**Metodologi Penelitian Modern**

Para peneliti menggunakan teknik digital canggih untuk menganalisis ribuan foto lama, termasuk algoritma untuk mendeteksi pola dan korelasi statistik yang tidak mungkin dilakukan pada era 1950-an.

**Dampak pada Astronomi Modern**

Temuan ini juga menunjukkan pentingnya preservasi data astronomis historis. Arsip foto lama dapat memberikan wawasan baru dengan teknologi analisis modern.

**Skeptisisme Ilmiah yang Sehat**

Komunitas ilmiah menunjukkan respons yang beragam, mulai dari antusiasme hingga skeptisisme yang sehat. Hal ini mencerminkan proses peer review yang normal dalam sains.

**Apa pun jawabannya kelak—apakah kilatan itu bukti intervensi makhluk cerdas, teknologi militer rahasia, atau hanya noda debu pada pelat kaca tua—perdebatan ini menegaskan satu hal: Sains terus bergerak maju dengan mempertanyakan hal-hal luar biasa, termasuk kilatan cahaya yang


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Misteri Favorit 7: Misteri Kampung Hitam

Toos, Pilot Uji Helikopter

Ikan Adalah Pertapa: Kumpulan Puisi dan Prosa