Drone Ungkap Kehidupan Rahasia Gajah, Apa yang Ditemukan?

Dahulu, drone identik dengan suara bising yang membuat kawanan gajah berlari menjauh dari ladang. Bahkan, tim konservasi sempat memanfaatkan reaksi tersebut untuk menggiring gajah menjauhi area pertanian.

Namun sebuah riset terbaru dari Save the Elephants (STE) dan University of Oxford mengubah paradigma tersebut. Ketika diterbangkan pada ketinggian stabil dan cukup tinggi, drone ternyata tidak lagi membuat gajah panik.

Justru, hewan cerdas ini dengan cepat beradaptasi dan kembali beraktivitas seperti biasa. Temuan ini mentransformasi drone dari sekadar alat pengusir menjadi platform penelitian bernilai tinggi yang minim gangguan.

**Perspektif Baru dari Udara**

Selama puluhan tahun, kajian perilaku gajah mengandalkan mobil pengamatan, tenda kamuflase, hingga menara. Pendekatan klasik itu terbatas pada apa yang bisa dilihat dari permukaan tanah.

Drone kini membuka perspektif baru: bidikan vertikal yang memperlihatkan dinamika kelompok dalam satu frame. Dengan kamera stabil dan sensor canggih, peneliti dapat mengamati jarak antarindividu, cara berjalan, pola interaksi, hingga respons mereka terhadap lingkungan.

Ketika dipadukan dengan kecerdasan buatan, data tersebut bisa mengungkap pola-pola halus yang sulit, bahkan mustahil, ditangkap oleh mata manusia.

**Pernyataan CEO tentang Inovasi Teknologi**

“Keanekaragaman hayati sedang mengalami krisis, namun kita tidak tinggal diam,” ujar CEO Save the Elephants, Frank Pope.

“Teknologi baru memperluas kemampuan kita untuk memahami, menganalisis, dan mengamati dunia liar… Penelitian ini menjanjikan untuk membuka jendela baru mengenai kehidupan gajah.”

**Hasil Studi di Kenya: Adaptasi Cepat**

Penelitian dilakukan melalui 35 penerbangan quadcopter di atas 14 keluarga gajah yang sudah teridentifikasi di Cagar Alam Samburu dan Buffalo Springs, Kenya bagian utara. Hasilnya menarik:

– Sekitar setengah kelompok menunjukkan respons kecil seperti mengangkat belalai atau berhenti sesaat pada paparan pertama
– Reaksi tersebut hilang dalam waktu sekitar enam menit
– Pada penerbangan berikutnya, kemungkinan mereka kembali terganggu berkurang hingga 70%

**Kunci Protokol Penerbangan**

“Kunci utamanya ada pada cara drone diterbangkan,” jelas penulis utama, Angus Carey-Douglas.

“Tidak semua gajah terganggu… dan gajah yang tadinya terganggu lama-lama menjadi kurang gelisah baik selama penerbangan tunggal maupun setelah paparan berulang.”

Ia juga menambahkan bahwa efek habituasi ini kemungkinan bertahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, menunjukkan kemampuan belajar dan adaptasi gajah yang sudah dikenal luas.

**Mengungkap Rahasia Perilaku Alami**

Ketika gajah sudah terbiasa, drone dapat merekam perilaku alami tanpa gangguan: siapa yang memulai perpindahan kelompok, bagaimana anak gajah dilindungi, bagaimana struktur kawanan berubah ketika menghadapi ancaman, hingga bagaimana individu menjaga jarak satu sama lain.

**Terobosan Kamera Termal untuk Aktivitas Nokturnal**

Pada malam hari, kamera termal menjadi kunci. Teknologi ini memperlihatkan perilaku tidur gajah—kapan, di mana, dan berapa lama mereka beristirahat—serta aktivitas sunyi lain yang sulit diamati manusia.

“Kamera termal pada alat menembus kegelapan, membuka studi terperinci tentang perilaku malam hari dan pola tidur,” kata Profesor Fritz Vollrath.

**Inovasi Computer Vision**

Yang lebih menjanjikan, tim peneliti kini hampir merampungkan alat computer vision yang mampu memperkirakan usia dan jenis kelamin gajah secara otomatis dari cuplikan udara, sehingga analisis demografis dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

**Transformasi Peran Drone dalam Konservasi**

Meski drone tetap berfungsi sebagai alat pengusir di area pertanian, perannya kini semakin besar dalam riset dan perlindungan satwa. Dengan protokol penerbangan yang tepat—ketinggian lebih tinggi, jalur stabil, dan durasi singkat—drone menjadi cara berbiaya rendah, tidak invasif, dan efektif untuk memantau perilaku, pergerakan, serta respons gajah terhadap perubahan lingkungan.

**Manfaat Jangka Panjang**

Dalam jangka panjang, data yang terkumpul dapat membantu:

– Merancang koridor satwa yang lebih aman
– Menentukan prioritas patroli anti-perburuan
– Mengembangkan strategi koeksistensi manusia-gajah

**Dukungan dari Colossal Foundation**

“Kolaborasi ini adalah contoh yang kuat… bahwa alat yang kami kembangkan untuk mengembalikan masa lalu sama pentingnya untuk melindungi keanekaragaman hayati saat ini,” ujar Matt James, direktur eksekutif Colossal Foundation yang mendukung proyek ini.

**Regulasi Ketat untuk Perlindungan Satwa**

Para peneliti menegaskan bahwa drone bisa sangat bermanfaat, tetapi harus diatur dengan ketat agar tidak menambah stres satwa liar. Kenya, misalnya, melarang penerbangan drone wisata atau rekreasi di taman nasional.

Dalam studi ini, seluruh penerbangan dilakukan dengan izin khusus dari Otoritas Penerbangan Sipil Kenya serta Wildlife Research and Training Institute, mengikuti protokol yang dirancang untuk meminimalkan gangguan.

**Pendekatan Berbasis Sains yang Bertanggung Jawab**

Pendekatan “legal, hati-hati, dan berbasis data” inilah yang menjadikan drone bukan ancaman, tetapi aset konservasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa gajah bukan hanya mampu beradaptasi, tetapi juga dapat menjadi subjek kolaboratif dalam studi jangka panjang.

**Dampak Bagi Masa Depan Konservasi**

Ketika mereka terbiasa, drone menjadi “mata di langit” yang dapat dipercaya, memberikan wawasan perilaku yang mendalam tanpa intervensi. Ini adalah kemenangan bagi ilmu pengetahuan sekaligus dukungan nyata bagi upaya perlindungan gajah di tengah dunia yang terus berubah.

**Publikasi dan Validasi Ilmiah**

Studi ini telah dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, memastikan temuan tersebut telah melalui proses peer review yang ketat dan dapat diandalkan oleh komunitas ilmiah internasional.

**Implikasi Global**

Temuan ini tidak hanya berdampak bagi konservasi gajah di Kenya, tetapi juga dapat diterapkan untuk pemant


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kaum Demokrat Kritis: Analisis Perilaku Pemilih Indonesia