Dua Spesies Australopithecus Hidup Bersamaan 3,4 Juta Tahun Lalu

Penemuan fosil kaki purba di Ethiopia kembali merombak pemahaman kita tentang evolusi manusia. Fosil yang dijuluki “Burtele foot” ini membuktikan bahwa dua spesies hominin — Australopithecus deyiremeda dan Australopithecus afarensis — ternyata hidup sezaman di wilayah dan masa yang sama, sekitar 3,4 juta tahun silam.

Temuan ini tidak hanya memperkaya kompleksitas silsilah keluarga manusia, tetapi juga membuka pandangan baru tentang cara berjalan, kemampuan memanjat, serta jenis makanan para nenek moyang awal kita.

**Misteri Fosil Berusia 14 Tahun**

Pada 2009, tim paleoantropolog menemukan delapan tulang kaki purba di situs Woranso-Mille, Afar Rift, Ethiopia. Fosil itu diperkirakan berusia 3,4 juta tahun. Setelah penelitian panjang, para ilmuwan akhirnya memastikan bahwa fosil ini berasal dari spesies Australopithecus deyiremeda.

Profesor Yohannes Haile-Selassie dari Arizona State University mengatakan: “Saat kami menemukan kaki itu pada 2009 dan mengumumkannya pada 2012, kami tahu bahwa fosil tersebut berbeda dari spesies Lucy, yang merupakan Australopithecus afarensis.”

**Keraguan Ilmiah dan Pencarian Bukti Tambahan**

Namun kala itu, para peneliti enggan menamai spesies baru hanya berdasarkan tulang kaki. Mereka menunggu temuan tambahan seperti tengkorak, rahang, atau gigi — elemen yang biasanya menjadi dasar penentuan spesies.

Setelah bertahun-tahun kembali ke lapangan, kini para peneliti menemukan lebih banyak fosil yang dapat dikaitkan dengan jelas dengan Burtele foot dan mengukuhkan status A. deyiremeda sebagai spesies tersendiri.

**Gaya Berjalan yang Berbeda dari Lucy**

Salah satu aspek paling menarik dari Australopithecus deyiremeda adalah bentuk kakinya. Dibandingkan A. afarensis, spesies ini memiliki struktur kaki yang lebih primitif, termasuk ibu jari kaki yang masih dapat mencengkeram (opposable big toe), penting untuk memanjat pohon.

Saat berjalan di tanah, ia tetap berdiri tegak dengan dua kaki, tetapi kemungkinan bertumpu pada jari kaki kedua, bukan ibu jari seperti manusia modern.

**Beragam Model Bipedalisme Purba**

Profesor Haile-Selassie menjelaskan: “Ada banyak cara berjalan dengan dua kaki pada leluhur manusia awal. Fosil Burtele menunjukkan bahwa tidak hanya ada satu bentuk bipedalisme pada masa itu.”

Penemuan ini semakin mengejutkan karena pada periode yang sama, A. afarensis — termasuk individu terkenal bernama Lucy — sudah memiliki ibu jari yang lurus (adducted), ciri khas pelaku bipedalisme modern.

**Analisis Gigi Mengungkap Menu Makanan**

Untuk memahami pola makan A. deyiremeda, para peneliti mengambil sampel isotop dari 8 dari 25 gigi yang ditemukan di wilayah Burtele. Prosesnya melibatkan pengeboran enamel gigi dengan alat mirip bor gigi medis.

Profesor Naomi Levin dari University of Michigan mengatakan: “Hasilnya mengejutkan. Sementara spesies Lucy adalah pemakan campuran C3 dan C4, Australopithecus deyiremeda justru lebih banyak memanfaatkan sumber makanan C3.”

**Perbedaan Diet dengan Spesies Lucy**

Makanan C3 berasal dari pohon dan semak, sedangkan C4 berasal dari rumput tropis dan sedge. Dengan kata lain, A. deyiremeda memiliki pola makan lebih mirip hominin lebih tua seperti Ardipithecus ramidus dan A. anamensis.

Profesor Levin menambahkan: “Data isotop menunjukkan dengan jelas bahwa A. deyiremeda tidak mengakses sumber makanan seluas A. afarensis, yang merupakan hominin pertama yang memanfaatkan makanan berbasis rumput C4.”

**Penelitian Stratigrafi untuk Memastikan Usia**

Selain menganalisis morfologi dan gigi, peneliti juga melakukan studi stratigrafi mendetail untuk memastikan usia lapisan fosil.

Profesor Beverly Saylor dari Case Western Reserve University menjelaskan: “Kami melakukan banyak pekerjaan lapangan untuk memahami hubungan antar lapisan fosil. Ini sangat penting untuk mengetahui kapan dan dalam lingkungan apa spesies ini hidup.”

**Temuan Rahang Individu Muda**

Tim peneliti juga menemukan rahang individu muda berusia sekitar 4,5 tahun yang jelas termasuk A. deyiremeda.

Menurut Profesor Gary Schwartz: “Kami melihat pola pertumbuhan gigi depan dan geraham yang mirip dengan kera modern dan australopith awal lainnya. Meski beragam dalam ukuran tubuh, diet, hingga gaya bergerak, pola pertumbuhan mereka tampak serupa.”

**Revolusi Pemahaman Evolusi Manusia**

Penemuan Burtele foot dan fosil-fosil pendukung lainnya menunjukkan bahwa:

– Pada 3,4 juta tahun lalu, lebih dari satu spesies hominin hidup bersamaan di Afrika Timur
– Evolusi berjalan dua kaki tidak berlangsung secara linear, tetapi dalam berbagai bentuk dan variasi
– Pola makan dan adaptasi ekologis pun sangat beragam, bahkan di wilayah dan periode yang sama

**Kompleksitas Pohon Silsilah Manusia**

Penelitian lengkap ini telah diterbitkan di jurnal Nature, menambah bukti bahwa evolusi manusia bukanlah jalur tunggal, melainkan jaringan bercabang yang kompleks.

Temuan ini menegaskan bahwa perjalanan evolusi manusia jauh lebih rumit dari yang selama ini dibayangkan, dengan berbagai spesies mengembangkan strategi bertahan hidup yang berbeda-beda dalam lingkungan yang sama.

**Implikasi untuk Penelitian Masa Depan**

Penemuan ini membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang bagaimana berbagai spesies hominin berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan mereka. Hal ini juga menunjukkan pentingnya terus menggali situs-situs fosil di Afrika untuk memahami asal-usul manusia secara lebih lengkap.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia