Para peneliti menemukan bahwa sebagian gen yang memengaruhi perilaku anjing golden retriever—mulai dari kemampuan dilatih, rasa takut pada orang asing, hingga agresivitas—juga berperan dalam membentuk kepribadian dan kesehatan mental manusia.
Temuan ini berasal dari penelitian terbaru University of Cambridge yang memberikan gambaran lebih dalam tentang kehidupan emosional anjing, sekaligus menjelaskan mengapa golden retriever bisa memiliki perbedaan besar dalam tingkat ketakutan, energi, dan agresi.
Penelitian yang dipublikasikan pada 24 November di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini menjadi yang pertama menunjukkan bahwa gen yang mempengaruhi perilaku anjing juga terkait dengan kecemasan, depresi, dan kecerdasan pada manusia.
**Analisis Data 1.300 Anjing Golden Retriever**
Untuk memahami keterkaitan tersebut, tim menganalisis data genetik dari sekitar 1.300 golden retriever dan mencocokkannya dengan penilaian perilaku mendetail melalui kuesioner pemilik.
Dari sini, mereka menemukan gen-gen yang berkaitan dengan karakter seperti kemampuan dilatih (trainability), tingkat aktivitas, rasa takut pada orang asing, hingga agresi terhadap anjing lain.
**12 Gen Bersama dengan Manusia**
Ketika data ini dibandingkan dengan data manusia, muncul pola yang mengejutkan: 12 gen yang ditemukan pada golden retriever juga berhubungan dengan perilaku dan karakter emosional manusia.
“Temuan ini sangat mencolok—mereka memberikan bukti kuat bahwa manusia dan golden retriever memiliki akar genetik bersama terkait perilaku,” ujar Dr. Eleanor Raffan, peneliti dari University of Cambridge yang memimpin studi tersebut.
**Gen PTPN1: Dari Agresi hingga Kecerdasan**
Salah satu gen yang menarik perhatian adalah PTPN1. Pada golden retriever, gen ini terkait agresi terhadap anjing lain, sedangkan pada manusia gen yang sama berhubungan dengan kecerdasan dan depresi.
Ada pula varian genetik lain yang muncul pada anjing yang mudah takut terhadap anjing lain. Pada manusia, varian tersebut ternyata terkait dengan kecenderungan “khawatir berkepanjangan setelah rasa malu” serta prestasi pendidikan yang tinggi.
**Memahami Perilaku Anjing Lebih Mendalam**
Menurut para peneliti, temuan ini bisa membantu pemilik anjing memahami akar emosional perilaku peliharaannya—yang mungkin selama ini dianggap sekadar “nakal”.
“Hasil ini menunjukkan bahwa genetika memang mengatur perilaku, membuat sebagian anjing secara alami lebih mudah stres,” kata Enoch Alex, penulis pertama studi tersebut.
“Jika pengalaman hidup memperburuknya, mereka bisa bertingkah seperti ‘berperilaku buruk’, padahal sebenarnya mereka sedang tertekan.”
**Keterkaitan dengan Kecerdasan dan Sensitivitas**
Salah satu temuan menarik adalah sifat trainability atau mudah dilatih pada golden retriever ternyata berkaitan dengan gen ROMO1, yang pada manusia berhubungan dengan kecerdasan serta sensitivitas emosional.
Ini berarti proses melatih anjing tidak hanya soal hadiah atau konsistensi, tetapi juga menerapkan pendekatan yang mempertimbangkan kondisi emosionalnya.
**Potensi untuk Pengobatan Hewan**
Peneliti juga melihat potensi dampak untuk dunia medis hewan. Contohnya, jika rasa takut berlebih pada anjing ternyata ditautkan dengan gen yang sama dengan kecemasan pada manusia, maka obat antikecemasan tertentu bisa membantu.
**Cara Gen Mengatur Emosi**
Gen-gen yang ditemukan tidak langsung menciptakan perilaku tertentu, melainkan mempengaruhi cara anjing mengatur emosi dan reaksi.
Misalnya, perilaku non-social fear—takut terhadap benda atau situasi seperti bus, vacuum cleaner, atau suara keras—berhubungan dengan gen yang pada manusia memicu sifat mudah tersinggung, sensitif, serta kecenderungan “pergi ke dokter karena gugup atau cemas”.
**Empati terhadap Hewan Peliharaan**
“Jika golden retriever Anda selalu bersembunyi setiap kali bel rumah berbunyi, mungkin Anda bisa lebih berempati bila tahu bahwa mereka secara genetik memang lebih sensitif dan cemas,” jelas Dr. Anna Morros-Nuevo, salah satu peneliti yang terlibat.
**Anjing sebagai Model Penelitian**
Prof. Daniel Mills dari University of Lincoln menambahkan bahwa hewan peliharaan berbagi lingkungan yang sama dengan manusia—termasuk stres modern—sehingga anjing bisa menjadi model yang baik untuk memahami gangguan emosional manusia.
**Metodologi Penelitian**
Penelitian ini memanfaatkan data dari Golden Retriever Lifetime Study, program yang dijalankan Morris Animal Foundation sejak 2012.
Para pemilik anjing diminta menilai 73 perilaku berbeda, yang kemudian dikelompokkan menjadi 14 kategori untuk memprediksi berbagai sifat perilaku.
**Pemetaan Genom Lengkap**
Melalui sampel darah, tim memetakan seluruh genom setiap anjing, lalu mencari penanda genetik yang lebih sering muncul pada anjing dengan sifat tertentu.
Teknik ini memungkinkan mereka menautkan wilayah genome tertentu dengan perilaku spesifik—seperti agresivitas, ketakutan sosial maupun non-sosial, energi tinggi, atau kemampuan dilatih.
**Implikasi untuk Masa Depan**
Studi ini mengungkap bahwa golden retriever dan manusia tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga berbagi akar biologis yang memengaruhi emosi dan kepribadian.
Pemahaman ini dapat membuka jalan untuk:
– Pendekatan pelatihan anjing yang lebih berempati
– Perawatan medis hewan yang lebih tepat
– Pemahaman baru mengenai bagaimana gen memengaruhi kesehatan mental manusia
**Cermin Evolusioner**
Dengan kata lain, anjing kesayangan kita mungkin tidak hanya menjadi teman, tetapi juga cermin evolusioner yang membantu kita lebih memahami diri sendiri.
Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami hubungan antara manusia dan anjing, tidak hanya sebagai hubungan pemilik-hewan peliharaan, namun sebagai makhluk yang memiliki kesamaan genetik emosional yang mendalam.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: