Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bersiap melaksanakan misi bersejarah Artemis II pada 2026, yang akan menjadi penerbangan berawak pertama mengelilingi Bulan setelah 50 tahun terakhir.
Misi ini akan mengirim empat astronaut dalam perjalanan sekitar 10 hari mengorbit Bulan, menjadi penerbangan berawak terdekat manusia ke satelit alami Bumi dalam lebih dari lima dekade terakhir.
Dalam Misi Artemis II, astronaut tidak akan mendarat di permukaan Bulan, melainkan terbang mengelilingi Bulan menggunakan wahana antariksa Orion yang diluncurkan dengan roket Space Launch System (SLS). Meskipun demikian, ini akan menjadi pencapaian penting untuk program kepulangan Amerika ke Bulan yang telah tertunda selama bertahun-tahun.
**Uji Coba Sistem Roket Terbaru**
Penerbangan Artemis II yang dijadwalkan meluncur antara Februari hingga April 2026 akan menjadi uji coba krusial bagi roket Space Launch System (SLS) generasi baru milik NASA dan pesawat ruang angkasa Orion.
Kedua sistem ini telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade, menghadapi berbagai kemunduran dan pembengkakan anggaran. Roket SLS secara khusus belum pernah membawa kru sebelumnya.
Misi ini bukan sekadar upaya teknis, melainkan juga memiliki implikasi geopolitik yang kuat di tengah perlombaan antariksa yang semakin intensif antara AS dan China. China sendiri berencana mendaratkan astronaut mereka di permukaan Bulan pada 2030.
“Dalam tiga tahun ke depan, kita akan mendaratkan astronaut Amerika lagi di Bulan, tetapi kali ini dengan infrastruktur untuk tinggal,” kata Jared Isaacman, Administrator baru NASA.
**Mengungkap Misteri Pembentukan Bulan**
Selain persaingan global, para ilmuwan antariksa memiliki alasan mendalam untuk antusias menyambut Misi Artemis II. Mereka berharap dapat mengungkap misteri abadi tentang pembentukan dan evolusi Bulan, seperti tabrakan dahsyat di tata surya awal yang melahirkannya dan asal usul airnya.
Brett Denevi, ilmuwan planet di Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, menjelaskan bahwa Bulan adalah “penyimpan catatan” sejarah tata surya yang jauh lebih baik dibandingkan Bumi.
“Bumi adalah pencatat sejarah yang buruk. Dengan lempeng tektonik, cuaca, hal-hal ini telah menghapus sejarah awalnya secara total. Tetapi di Bulan, Anda memiliki medan yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, dan itu hanya tergeletak di permukaan untuk kita jelajahi,” ungkap Denevi.
Meskipun Misi Artemis II tidak mendarat, penerbangan ini akan menguji berbagai teknologi penting, manuver docking, dan sistem pendukung kehidupan, baik di orbit Bumi maupun di orbit Bulan. Semua ini esensial untuk misi-misi masa depan yang akan membawa manusia tinggal lebih lama di Bulan, bahkan suatu hari nanti ke Mars.
**Target Kutub Selatan Bulan**
Misi Artemis II adalah pembuka jalan bagi Misi Artemis III pada 2027, yang diharapkan akan mendaratkan empat astronaut di dekat Kutub Selatan Bulan. Wilayah ini sangat berbeda dari lokasi pendaratan astronaut Apollo, dengan medan penuh kawah dan cekungan yang selalu teduh.
Kawasan kutub selatan diperkirakan menyimpan cadangan es air yang melimpah, sebuah sumber daya berharga untuk membangun keberadaan jangka panjang di Bulan dan untuk misi berawak masa depan yang lebih jauh ke tata surya.
“Apollo memberi kami kerangka kerja untuk memahami Bulan, dan sekarang kami memiliki dasar untuk mengajukan pertanyaan yang berbeda,” tutur Denevi.
Denevi, yang memimpin tim geologi untuk penerbangan Artemis III, akan terlibat dalam menentukan lokasi jelajah kru, jenis pekerjaan lapangan yang akan mereka lakukan, dan sampel yang akan mereka kumpulkan untuk dibawa pulang.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: