Bayangkan seekor badak raksasa di sabana Afrika. Di punggungnya sering terlihat burung-burung kecil hinggap dengan tenang. Selama bertahun-tahun, kita mengira burung ini adalah “pahlawan” yang membersihkan kutu dari kulit badak. Namun, riset terbaru mengungkap sisi yang jauh lebih kompleks dan agak mengerikan.
Burung bernama Oxpecker ini di Afrika Timur dijuluki Askari wa kifaru dalam bahasa Swahili yang berarti “pengawal badak”. Nama ini ternyata bukan sekadar sebutan, melainkan gambaran akurat dari hubungan unik yang berada di perbatasan antara saling menguntungkan (simbiosis) dan merugikan (parasit).
**Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan**
Awalnya, para ilmuwan yakin Oxpecker membantu badak dengan memakan kutu dan parasit kecil lainnya. Namun, studi terbaru menunjukkan fakta mengejutkan: burung ini sebenarnya tidak secara signifikan mengurangi jumlah kutu pada mamalia.
Sebaliknya, Oxpecker memiliki kebiasaan yang menyeramkan. Mereka sering mematuk luka di kulit badak hingga terbuka kembali demi meminum darah. Kebiasaan ini justru memperlambat proses penyembuhan luka dan merugikan badak.
“Oxpecker, dan memang semua spesies dalam hubungan simbiosis, dapat dan memang melampaui batas dengan inang mereka,” ujar Dr. Roan Plotz, ekolog perilaku dari Victoria University, Australia.
**Sistem Peringatan Dini untuk Badak “Buta”**
Jika burung ini sangat menyebalkan dan menyakitkan, mengapa badak tetap membiarkan mereka hinggap? Jawabannya terletak pada keselamatan hidup badak.
Badak hitam (Diceros bicornis) memiliki penglihatan sangat buruk. Meskipun indra penciuman mereka luar biasa, mereka hampir “buta” terhadap ancaman dari jarak jauh. Di sinilah peran vital Oxpecker sebagai sistem alarm alami.
Dalam eksperimen di Taman Hluhluwe-iMfolozi, Afrika Selatan, tim peneliti menemukan badak tanpa burung Oxpecker hanya mampu mendeteksi manusia yang mendekat sebanyak 23 persen dari total percobaan. Namun, saat ada burung di punggungnya, tingkat deteksi melonjak drastis hingga 100 persen.
“Berkat panggilan alarm burung tersebut, badak dengan Oxpecker mendeteksi manusia yang mendekat dalam 100 persen percobaan kami dan pada jarak rata-rata 61 meter—hampir empat kali lebih jauh dibandingkan saat badak sendirian,” jelas Plotz.
**Pertukaran Nyawa Demi Keamanan**
Burung-burung ini akan mengeluarkan suara peringatan saat ada bahaya mendekat. Mendengar sinyal tersebut, badak langsung berputar menghadap ke arah bawah angin—posisi paling rentan di mana mereka tidak bisa mencium bau predator atau pemburu.
Bagi badak yang kini terancam punah akibat perburuan manusia, rasa sakit akibat patukan burung adalah harga yang layak dibayar demi mendapatkan “satpam” pribadi.
“Pekerjaan saya menunjukkan bahwa badak hitam, yang saya amati sangat toleran terhadap burung yang memakan luka mereka, menerima hal ini karena mereka mendapatkan manfaat penjaga yang sangat dibutuhkan, terutama ketika manusia hampir memusnahkan mereka sebagai spesies,” pungkas Plotz.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: