Kita umumnya memandang pergantian musim sebagai ritme sederhana: dingin, semi, panas, dan gugur. Namun, riset terbaru mengungkap bahwa “kalender alam” ternyata jauh lebih rumit dan beragam, bahkan untuk dua lokasi yang letaknya sangat berdekatan.
Studi yang diterbitkan di jurnal Nature memperlihatkan bahwa siklus musim Bumi dapat berbeda drastis dalam jarak pendek, meski berada di garis lintang yang sama. Perbedaan ini ternyata berdampak pada kekayaan hayati, kemunculan spesies baru, hingga jadwal panen kopi di Kolombia.
**Fenomena Asinkroni Musiman**
Selama ini, pola pertumbuhan musiman yang sederhana dianggap berlaku umum bagi tumbuhan, khususnya di wilayah lintang tinggi seperti Eropa dan Amerika Utara. Namun, pola ini tidak berlaku di ekosistem tropis atau wilayah gersang.
Drew Terasaki Hart, ekolog dan analis data dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) Australia, menjelaskan bahwa pemahaman selama ini mungkin terlalu menyederhanakan fenomena alam.
“Musim sering dianggap sebagai ritme sederhana—musim dingin, semi, panas, gugur—tetapi pekerjaan kami menunjukkan bahwa kalender alam jauh lebih kompleks,” ujar Terasaki Hart.
Menggunakan data satelit selama 20 tahun, para peneliti memetakan siklus pertumbuhan vegetasi di seluruh dunia. Mereka menemukan wilayah di lereng pegunungan tropis atau daerah beriklim Mediterania sering memperlihatkan “asinkroni musiman”—di mana waktu mekarnya bunga atau tumbuhnya daun sangat berbeda meski jarak geografisnya dekat.
**Dampak pada Pertanian dan Biodiversitas**
Salah satu temuan paling menarik adalah bagaimana fenomena ini memengaruhi pertanian. Di Kolombia, dua perkebunan kopi yang hanya berjarak sehari perjalanan melewati pegunungan bisa memiliki siklus panen yang sangat kontras, seolah-olah kedua kebun tersebut berada di belahan bumi berlawanan.
Ketidaksinkronan musim ini juga menjadi kunci mengapa wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Karena tanaman dan hewan di area berdekatan memiliki siklus reproduksi berbeda, mereka secara perlahan mulai terpisah dan berevolusi menjadi spesies yang benar-benar baru.
“Peta kami memprediksi perbedaan geografis yang mencolok dalam waktu berbunga dan keterkaitan genetik di berbagai spesies tanaman dan hewan,” tambah Terasaki Hart.
**Implikasi untuk Masa Depan**
Penemuan ini tidak hanya membantu ahli biologi evolusi memahami bagaimana spesies terbentuk, tetapi juga memberikan cara baru melihat dampak perubahan iklim. Lingkungan saat ini tengah beradaptasi dengan perubahan suhu dan ketersediaan air, dan peta musiman ini menjadi alat penting untuk memprediksi masa depan ekosistem.
Pemahaman baru ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi besar bagi ilmu pertanian hingga epidemiologi, mengingat waktu pertumbuhan tanaman sering berkaitan erat dengan penyebaran hama maupun penyakit.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: