Mengenal Wepet Renpet, Rahasia Tahun Baru Mesir Kuno yang Tanggalnya Terus Berubah

Jika saat ini kita merayakan pergantian tahun dengan kembang api dan hitung mundur, masyarakat Mesir Kuno memiliki cara yang jauh lebih sakral dan unik. Dikenal dengan sebutan Wepet Renpet, tahun baru bagi bangsa Mesir Kuno adalah simbol pembaruan kosmik bagi manusia, alam, hingga para dewa.

Berbeda dengan kalender masehi yang tetap, Tahun Baru Mesir Kuno bersifat dinamis. Hal ini disebabkan kalender mereka terdiri dari 365 hari tanpa sistem tahun kabisat.

“Akibatnya, Wepet Renpet perlahan ‘bergeser melintasi musim’,” jelas Juan Antonio Belmonte, peneliti di Institut Astrofisika Kepulauan Canary.

**Sinkronisasi dengan Alam dan Bintang Sirius**

Sekitar 4.800 tahun lalu, Wepet Renpet biasanya jatuh bertepatan dengan titik balik matahari musim panas di akhir Juni. Momen ini sangat krusial karena berbarengan dengan meluapnya Sungai Nil yang menyuburkan lahan pertanian.

Yang unik adalah orang Mesir Kuno terkadang merayakan lebih dari satu kali tahun baru dalam setahun. Di Kuil Khnum, Esna, terdapat catatan kalender yang menunjukkan tiga perayaan berbeda: pada hari pertama tahun kalender, pada hari ulang tahun kaisar (saat masa Romawi), dan saat munculnya bintang Sirius.

Kembalinya bintang Sirius di ufuk timur setelah menghilang berbulan-bulan dianggap sebagai pertanda suci akan datangnya banjir Nil dan awal siklus kehidupan baru.

**Ritual Suci dan Penjemur Patung Dewa**

Perayaan ini melibatkan ritual keagamaan yang kental. Di lokasi-lokasi megah seperti Piramida Giza dan Saqqara, festival besar digelar untuk menghormati dewa sekaligus memperingati leluhur.

Salah satu ritual paling mencolok adalah membawa patung dewa ke ruang terbuka.

“Patung-patung tersebut dibawa keluar ke tempat terbuka. Misalnya ke atap kuil, agar dapat diregenerasi melalui sinar matahari,” tulis arkeolog Simon Connor.

**Tradisi Tukar Hadiah dengan Labu Parfum**

Tak hanya ritual suci, suasana meriah pun hadir lewat jamuan makan keluarga dan tradisi tukar kado. Salah satu hadiah ikonik saat itu adalah “Labu Tahun Baru”, sebuah wadah keramik kecil yang estetik.

“Labu-labu ini untuk cairan dan memiliki kapasitas yang agak kecil, mungkin lebih cocok untuk minyak wangi daripada minuman,” ungkap John Baines, profesor emeritus Egiptologi di Universitas Oxford.

Labu tersebut sering bertuliskan doa dan harapan baik, menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu, keinginan untuk memulai tahun dengan kegembiraan dan keberkahan sudah menjadi bagian dari jiwa manusia. Bagi mereka, tahun baru adalah saat matahari, sungai, dan manusia kembali selaras dalam harmoni kehidupan yang baru.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Di Balik Bintang: Jan Djuhana dalam Industri Musik Indonesia

Abridged Classic Series Sherlock Holmes: The Musgrave Ritual

Nat Geo Mesir Kuno