Spesies Burung Baru Ditemukan di Papua Nugini, Sekaligus Ancamannya

Para peneliti berhasil mengidentifikasi spesies burung baru di Papua Nugini setelah bertahun-tahun melakukan pemantauan hutan dengan kamera jebakan. Spesies tersebut merupakan jenis jewel-babbler, burung berkicau penghuni lantai hutan yang terkenal pemalu dan sulit diamati langsung.

Burung ini kini diresmikan sebagai spesies baru dengan nama hooded jewel-babbler (Ptilorrhoa urrissia). Penemuannya terjadi di kawasan karst berhutan di Southern Fold Mountains, tepatnya di Iagifu Ridge, sebuah punggungan batu kapur di Provinsi Southern Highlands, Papua Nugini. Makalah ilmiahnya dipublikasikan pada 26 November 2024 di jurnal Ibis.

**Burung Pemalu yang Sulit Dideteksi**

Jewel-babbler adalah kelompok burung endemik New Guinea yang hidup di lantai hutan dan memakan serangga. Ornitolog dari Australian Museum Research Institute, Iain Woxvold, menjelaskan burung-burung ini termasuk dalam genus Ptilorrhoa, bagian dari keluarga Cinclosomatidae.

“Jewel-babbler adalah kelompok burung pengicau pemakan serangga yang hidup di permukaan tanah, endemik di New Guinea dan beberapa pulau satelit yang dulu terhubung lewat jembatan darat,” ujar Woxvold.

Secara fisik, jewel-babbler berbentuk gempal dengan sayap pendek, memiliki “topeng” hitam di wajah, serta bercak putih di tenggorokan atau pipi. Pada sebagian besar spesies, bulunya dihiasi pola berwarna biru dan cokelat kemerahan. Meski vokal, mereka tetap sulit ditemui karena pemalu dan lebih sering bersembunyi di bagian dalam hutan.

“Mereka memang bersuara, tetapi sangat pemalu. Burung ini lebih sering terdengar daripada terlihat,” tambah Woxvold.

Sebelum temuan ini, ilmuwan mengakui empat spesies jewel-babbler. Tiga di antaranya menyebar luas di Papua, namun “membagi wilayah” berdasarkan ketinggian: blue jewel-babbler di dataran rendah, chestnut-backed jewel-babbler di perbukitan dan pegunungan rendah, serta spotted jewel-babbler di hutan pegunungan.

**Jejak Fotografi Sejak 2017**

Penemuan spesies baru ini tidak terjadi spontan. Semua bermula pada 2017, saat Woxvold dan koleganya Leo Legra dari Lihir Gold Limited menjalankan studi pemantauan dua tahunan menggunakan kamera jebakan untuk burung dan mamalia penghuni lantai hutan.

Studi dilakukan di Iagifu Ridge, yang dalam bahasa lokal Fasu disebut uri (gunung) urrissia. Lokasinya adalah punggungan batu kapur berhutan di ujung tenggara Agogo Range.

Di antara ribuan rekaman, mereka melihat jewel-babbler dengan bentuk yang tidak sesuai dengan spesies yang sudah dikenal. Selama lebih dari 1.800 hari kamera aktif, mereka hanya mendapat 10 foto dalam tiga rangkaian kejadian.

Tim kemudian mencoba menangkap dan mengamati burung tersebut secara langsung pada November 2018 selama delapan hari, namun tidak berhasil.

Kamera jebakan diulang pada 2019, 2021, dan 2024. Kali ini datanya jauh lebih kuat: total 94 foto, 7 video berdurasi 30 detik, dengan sedikitnya 3 sampai 6 individu, dari 11 kamera yang mencakup area 16 hektare.

**Konfirmasi Spesies Baru**

Setelah membandingkan foto dan video lapangan dengan spesimen museum, peneliti memastikan burung itu berbeda dari semua bentuk Ptilorrhoa yang telah dikenal.

“Pemeriksaan terhadap spesimen museum dan materi foto lapangan menegaskan bahwa burung yang kami foto ini berbeda dari semua bentuk Ptilorrhoa yang diketahui,” kata tim peneliti.

Menariknya, burung ini tampaknya merupakan penghuni tetap. Ia terekam pada 10 bulan berturut-turut (Juni–Maret) selama 7 tahun. Namun populasinya sangat kecil: kemungkinan kurang dari 10 individu selama keseluruhan masa pemantauan.

**Perilaku Sosial dan Habitat Terbatas**

Data menunjukkan pola sosial yang mirip dengan jewel-babbler lainnya. Mereka sering terfoto berdua, dan sebagian besar rekaman terkonsentrasi di area 7 hektare, yang mungkin menunjukkan keberadaan pasangan yang menetap plus satu anak dalam dua kejadian berkembang biak.

Peneliti menduga Iagifu Ridge hanya bagian dari populasi yang lebih luas namun sangat terfragmentasi. Kemungkinan lokasi yang cocok bahkan bisa sangat sempit, hanya terbatas di area antara Gunung Bosavi dan Gunung Karimui di Papua Nugini bagian selatan.

**Ancaman Konservasi yang Serius**

Keberadaan hooded jewel-babbler di Iagifu Ridge menghadapi berbagai risiko. Predator asli yang dipastikan ada mencakup setidaknya tiga marsupial dan sejumlah pemangsa burung besar, yang mampu menangkap mangsa dari tanah.

Predator asing menjadi ancaman tambahan yang serius. Kucing domestik terekam kamera jebakan di Iagifu Ridge pada tiga kesempatan pada 2021 dan 2024. Anjing juga secara rutin terdeteksi di lokasi, baik bersama para pemburu maupun berkeliaran bebas.

Ancaman jangka panjang lainnya adalah perubahan iklim, terutama bagi burung pegunungan tropis dengan kemampuan menyebar rendah dan tidak memiliki akses ke ketinggian lebih tinggi.

Penemuan Ptilorrhoa urrissia memperlihatkan bahwa hutan tropis masih bisa menghadirkan kejutan. Namun, ketika sebuah spesies baru justru terdeteksi dalam jumlah sangat kecil, tantangan ilmiah berubah menjadi tantangan konservasi—dunia mungkin baru mengenal burung ini tepat sebelum ia berisiko menghilang.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Kembali ke Kampung Adat: Meniti Jalan Perubahan di Tanah Papua

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab