Sinkhole Muncul di Sumbar, Pakar Geologi UGM Sebut Dampak dari Siklon Senyar

Sumatera Barat belum sepenuhnya pulih dari rangkaian bencana hidrometeorologi, ketika musibah lain datang dari arah yang berbeda: dari perut bumi. Pada Jumat (4/1), tanah di area persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, mendadak ambles dan membentuk lubang raksasa atau sinkhole.

Diameter lubang misterius tersebut lebih dari 10 meter, dan para pakar mengingatkan ukurannya masih berpotensi bertambah, baik melebar maupun semakin dalam.

Sinkhole adalah fenomena geologi yang terjadi ketika lapisan batuan atau tanah di bawah permukaan yang berfungsi sebagai penyangga tiba-tiba runtuh atau terkikis. Akibatnya, material di atasnya kehilangan fondasi dan jatuh ke ruang kosong yang terbentuk di bawah tanah.

Secara kasat mata, sinkhole kerap terlihat seperti cekungan besar menyerupai piring yang mendadak muncul di tanah yang sebelumnya tampak normal.

**Kombinasi Faktor Penyebab**

Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo, menjelaskan sinkhole di Sumatera Barat sangat mungkin dipicu oleh kombinasi beberapa faktor sekaligus. Ia menyebutkan adanya proses pelarutan batu gamping, erosi material yang sudah lapuk, serta curah hujan tinggi sebagai rangkaian penyebab yang saling memperkuat.

Dalam keterangannya di Kampus UGM pada Rabu (7/1), Wahyu menyoroti peran Siklon Senyar yang terjadi pada akhir November 2024. Menurutnya, siklon tersebut memicu curah hujan melimpah, sehingga mempercepat proses yang berlangsung di bawah tanah, terutama di wilayah yang secara geologi rentan.

Wahyu menjelaskan bahwa sinkhole tidak bisa muncul di semua jenis tanah. Fenomena ini lebih sering terjadi di kawasan tertentu, terutama wilayah karst yang didominasi batu gamping atau batu kapur.

**Proses Terbentuknya Lubang Amblas**

Pada kawasan karst, air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat melarutkan batuan secara perlahan. Proses pelarutan itu membentuk rongga-rongga di bawah permukaan. Ketika rongga semakin besar dan tidak lagi mampu menyangga beban tanah di atasnya, permukaan tanah dapat amblas secara tiba-tiba.

Selain karst, sinkhole juga bisa terjadi di tanah yang berongga. Rongga tersebut dapat terbentuk secara alami, misalnya akibat adanya gua bawah tanah, namun bisa juga dipicu aktivitas manusia seperti pertambangan.

Ada pula kondisi lain yang membuat tanah lebih rentan, yakni wilayah yang tersusun oleh material vulkanik lapuk. Material seperti ini cenderung mudah tererosi ketika jenuh air, sehingga struktur tanah menjadi lemah dan berisiko ambles.

Wahyu menambahkan bahwa eksploitasi air tanah secara berlebihan juga dapat menjadi pemicu. Ketika muka air tanah turun drastis, rongga di bawah permukaan bisa membesar, tanah kehilangan dukungan, dan struktur yang tadinya stabil berubah menjadi rapuh hingga akhirnya membentuk sinkhole.

**Dampak Berlapis untuk Lingkungan**

Munculnya sinkhole tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga membawa dampak berlapis bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Lubang amblas yang terbentuk di lahan pertanian membuat area tersebut tidak lagi aman untuk aktivitas produksi.

Dalam skala yang lebih luas, sinkhole dapat merusak ekosistem flora dan fauna di sekitarnya karena habitat tiba-tiba hilang atau berubah drastis.

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah potensi pencemaran air bawah tanah. Wahyu menilai tidak menutup kemungkinan limbah ataupun material berbahaya masuk melalui lubang dan kemudian mencemari aliran air di sungai bawah tanah.

Karakter sinkhole yang bisa muncul tanpa peringatan menjadikan fenomena ini sangat berbahaya. Risiko keselamatan jiwa menjadi perhatian utama, terlebih jika sinkhole terjadi di dekat jalur transportasi atau kawasan pemukiman.

**Penanganan Tidak Sekadar Menutup Lubang**

Menurut Wahyu, penanganan sinkhole tidak cukup dilakukan dengan menutup lubang. Yang lebih penting adalah memahami penyebab dan struktur bawah tanahnya, lalu mengelola air serta memperkuat tanah agar tidak terjadi amblesan lanjutan.

Setelah tahap evakuasi dan pengamanan area, langkah yang diperlukan adalah survei geologi dan geofisika untuk mengidentifikasi kedalaman serta bentuk rongga di bawah tanah. Metode pemeriksaan yang bisa digunakan antara lain geolistrik, seismik, dan ground penetrating radar.

Hasil survei ini akan menjadi dasar untuk menentukan metode stabilisasi tanah, apakah melalui pengisian material padat atau dengan teknik grouting, yaitu penyuntikan semen cair ke rongga bawah tanah untuk memperkuat struktur.

**Tanda-tanda Awal yang Perlu Diwaspadai**

Fenomena sinkhole memang sulit dicegah sepenuhnya karena merupakan proses alam yang dapat berlangsung lama dan tidak selalu terlihat di permukaan. Namun, dampaknya masih bisa diminimalkan apabila masyarakat dan pemerintah lebih peka terhadap tanda-tanda awal.

Wahyu menyebutkan beberapa gejala yang patut diwaspadai, seperti permukaan tanah yang mulai retak dan turun perlahan, bangunan atau pohon yang mendadak miring atau bergeser, perubahan aliran air yang tidak biasa, hingga munculnya lubang kecil yang perlahan membesar.

Wahyu mengimbau agar wilayah-wilayah yang berada di kawasan karst dan area rawan lainnya mendapat perhatian serius dalam hal pemetaan risiko. Pemerintah perlu melakukan survei geologi untuk memetakan zona yang berpotensi sinkhole sehingga pembangunan, aktivitas pertanian, hingga pengelolaan air bisa disesuaikan dengan kondisi geologi setempat.

Kejadian sinkhole di Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi pengingat bahwa ancaman bencana di Sumatera Barat tidak hanya datang dari hujan ekstrem, banjir, atau longsor, tetapi juga dari proses yang terjadi secara diam-diam di bawah tanah. Ketika faktor geologi bertemu dengan cuaca ekstrem seperti yang dipicu Siklon Senyar, risiko sinkhole dapat meningkat.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Sastra Dunia: Catatan dari Bawah Tanah

Indonesia dalam Perspektif Geologi

Jatuh ke Lubang Hitam