Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?

Belakangan ini, makanan kukusan dan rebusan kembali mendapat perhatian besar. Mulai dari jagung, ubi, singkong, hingga pisang kukus, berbagai pangan tradisional ini kini banyak dijumpai di pasar, kedai, hingga konten media sosial bertema hidup sehat.

Di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah makanan kukusan benar-benar sehat dan aman dikonsumsi setiap hari?

**Nilai Gizi Makanan Kukusan**

Dari sudut pandang nutrisi, tren ini dinilai sebagai sinyal positif. Fenomena meningkatnya konsumsi makanan kukusan mencerminkan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan berbasis real food—pangan alami yang minim proses—sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Ai Imas Faidoh Fatimah, dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan Sekolah Vokasi IPB University, menjelaskan bahwa banyak bahan pangan yang diolah dengan cara dikukus memiliki nilai gizi yang baik bagi tubuh.

“Pangan kukusan seperti jagung, pisang, ubi jalar, singkong, dan labu merupakan sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, serta berbagai vitamin yang berperan dalam mendukung pemenuhan gizi tubuh,” ujarnya.

Karbohidrat kompleks pada pangan tersebut dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan mendukung kestabilan kadar gula darah. Kandungan seratnya juga berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan.

**Keunggulan Metode Pengukusan**

Dari sisi metode pengolahan, Ai Imas menilai teknik kukus atau rebus jauh lebih sehat dibandingkan menggoreng. Salah satu alasannya adalah minimnya penggunaan minyak.

“Pengukusan meminimalkan penggunaan minyak sehingga pangan menjadi lebih rendah lemak jenuh dan kalori,” jelasnya.

Tak hanya itu, suhu pengukusan yang relatif lebih rendah dibandingkan penggorengan membantu mempertahankan kandungan nutrisi, terutama vitamin dan mineral.

Berbeda dengan perebusan, bahan pangan yang dikukus tidak bersentuhan langsung dengan air. “Karena tidak kontak langsung dengan air, kehilangan vitamin dan mineral pada bahan pangan kukusan menjadi lebih kecil,” tambah Ai Imas.

**Jenis Bahan Pangan yang Tepat**

Beberapa kelompok bahan pangan justru sangat diuntungkan jika diolah dengan metode kukus. Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, talas, dan kentang merupakan sumber karbohidrat yang baik.

Sementara itu, sayuran hijau dan berwarna cerah seperti brokoli, wortel, dan labu kuning kaya akan vitamin serta antioksidan yang berperan dalam menjaga daya tahan tubuh.

Kacang-kacangan, seperti kacang tanah dan edamame, juga cocok dikukus karena menjadi sumber protein nabati dan mineral. Jagung manis mengandung kombinasi karbohidrat, vitamin, dan mineral, sedangkan telur kukus dapat menjadi sumber protein hewani yang praktis dan rendah lemak.

Menariknya, sebagian besar bahan pangan tersebut merupakan pangan lokal Indonesia. Selain menyehatkan, konsumsi dan pengolahannya juga mendukung penguatan pangan berbasis sumber daya lokal.

**Konsumsi Harian yang Aman**

Lalu, apakah makanan kukusan aman dikonsumsi setiap hari? Menurut Ai Imas, jawabannya adalah aman, bahkan dianjurkan, selama menjadi bagian dari pola makan yang seimbang.

“Makanan kukusan aman dan dapat dikonsumsi setiap hari. Namun, prinsip variasi dan keseimbangan zat gizi tetap harus diperhatikan,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar konsumsi pangan kukusan tidak hanya berfokus pada karbohidrat. Kombinasi dengan sumber protein hewani maupun nabati tetap diperlukan untuk mendukung fungsi tubuh secara optimal.

“Makanan kukusan sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein hewani agar tidak hanya memberikan rasa kenyang atau mengikuti tren, tetapi juga berperan dalam pemeliharaan kesehatan tubuh,” tutupnya.

Dengan kata lain, tren makanan kukusan bukan sekadar gaya hidup sesaat. Jika diterapkan secara seimbang dan bervariasi, kebiasaan ini dapat menjadi fondasi pola makan sehat yang berkelanjutan.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan