Kemunculan sinkhole di persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota sejak awal Januari lalu tidak hanya menarik perhatian aparat dan pemerintah daerah, tetapi juga menimbulkan keingintahuan publik yang meluas.
Lubang amblas berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman diperkirakan mencapai 20 meter itu hingga kini masih menunjukkan aktivitas alam yang patut diwaspadai. Air dari dasar lubang terus meluap dan mengaliri sawah warga di sekitarnya, sementara kondisi tanah di sekitar lokasi dinyatakan labil dan berpotensi membahayakan keselamatan jika didekati terlalu dekat.
**Minat Publik yang Keliru**
Fenomena ini menjadi semakin kompleks ketika air yang keluar dari sinkhole mulai menarik minat masyarakat, bahkan warga dari luar daerah. Pada beberapa hari terakhir, terlihat antrean warga yang datang silih berganti untuk mengambil air dari lokasi tersebut, dibungkus dalam kantong plastik dan dialirkan menggunakan pipa sederhana.
Di tengah situasi ini, muncul berbagai narasi di ruang publik—mulai dari klaim air “berkhasiat”, dikaitkan dengan hal mistis, hingga spekulasi bahwa air tersebut terhubung dengan sumber-sumber air suci. Padahal, para ahli dan pemerintah daerah telah berulang kali mengingatkan agar masyarakat memandang fenomena ini secara rasional dan ilmiah.
**Karakteristik Air Sinkhole**
Berdasarkan hasil pengecekan yang dihimpun dari media lokal dan keterangan aparat, air yang mengalir dari lubang sinkhole tersebut memiliki kadar pH sekitar 5,4. Angka ini berada di bawah pH netral 7, yang berarti air tersebut bersifat asam lemah.
Dalam ilmu hidrologi dan geologi, kondisi ini bukanlah hal yang aneh. Sinkhole umumnya terbentuk akibat proses pelarutan batuan kapur (karst) atau material tanah tertentu oleh air yang mengandung asam karbonat. Asam karbonat sendiri terbentuk secara alami dari percampuran air hujan dengan karbon dioksida (CO2) di atmosfer dan di dalam tanah.
**Proses Pembentukan yang Panjang**
Menurut para ahli geologi, proses pelarutan ini berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai ratusan hingga ribuan tahun. Rongga-rongga bawah tanah perlahan terbentuk, hingga pada titik tertentu atap rongga tidak lagi mampu menahan beban tanah di atasnya dan akhirnya runtuh.
Ketika runtuhan itu terjadi, muncullah lubang amblas di permukaan tanah yang dikenal sebagai sinkhole. Air yang keluar dari rongga tersebut membawa karakter kimia lingkungan bawah tanah, termasuk mineral terlarut dan senyawa organik alami, sehingga sifatnya berbeda dengan air permukaan biasa.
Dalam banyak penelitian geologi karst, air tanah yang melewati lapisan tanah kaya bahan organik juga sering mengandung senyawa seperti asam humat dan asam fulvat. Senyawa-senyawa ini berasal dari pelapukan bahan organik dan berkontribusi terhadap rendahnya nilai pH air.
Oleh karena itu, pH air sinkhole yang cenderung asam bukanlah indikasi keanehan, apalagi bukti adanya “keistimewaan” tertentu. Justru, kondisi tersebut menandakan adanya proses geokimia alamiah yang sedang berlangsung di bawah permukaan tanah.
**Peringatan Kesehatan**
Dari perspektif kesehatan lingkungan, air dengan pH 5,4 belum memenuhi standar air layak konsumsi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun standar kualitas air minum nasional umumnya merekomendasikan pH air berada pada kisaran 6,5 hingga 8,5.
Air yang terlalu asam berpotensi menimbulkan dampak negatif jika dikonsumsi secara rutin, antara lain iritasi saluran pencernaan, gangguan lambung, serta kerusakan enamel gigi. Selain itu, air asam juga dapat mempercepat korosi pada wadah atau pipa logam yang digunakan untuk menyimpan atau menyalurkannya.
Peringatan ini diperkuat oleh pernyataan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, yang turun langsung ke lokasi sinkhole. Ia menyampaikan bahwa hasil kajian awal menunjukkan air di dalam lubang tersebut mengandung bakteri dalam jumlah cukup tinggi.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak meminum air tersebut secara langsung. Jika pun digunakan, air harus melalui proses pemasakan yang memadai untuk meminimalkan risiko kesehatan.
**Klarifikasi Pejabat**
Lebih jauh, Wagub juga menegaskan bahwa fenomena ini murni kejadian alam dan tidak memiliki kaitan dengan air zamzam atau klaim penyembuhan penyakit. Penegasan semacam ini penting disampaikan secara berulang, mengingat dalam banyak peristiwa alam di berbagai daerah, sering kali muncul kecenderungan masyarakat untuk mengaitkannya dengan aspek supranatural.
Dalam kajian sosiologi kebencanaan, fenomena tersebut dikenal sebagai upaya manusia mencari makna di tengah ketidakpastian. Namun, ketika makna itu dibangun di atas informasi yang keliru, risiko yang muncul justru semakin besar—baik bagi keselamatan individu maupun ketertiban sosial.
**Potensi Bahaya Struktural**
Dari sudut pandang ilmu kebencanaan, sinkhole bukan hanya soal lubang yang terlihat di permukaan. Ia adalah indikator adanya ketidakstabilan struktur tanah di area yang lebih luas.
Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa kemunculan satu sinkhole dapat menjadi tanda potensi amblasan susulan di sekitarnya, terutama jika kondisi geologi dan hidrologi bawah tanah masih aktif.
Aktivitas pengambilan air secara masif, lalu lintas manusia yang padat, atau beban tambahan di sekitar lokasi justru dapat mempercepat keruntuhan tanah. Karena itu, para ahli geologi dan teknik sipil menekankan pentingnya penetapan zona aman di sekitar sinkhole.
Area tersebut seharusnya dibatasi dari aktivitas masyarakat, setidaknya hingga kajian teknis yang komprehensif selesai dilakukan. Kajian itu mencakup pemetaan struktur bawah tanah, analisis aliran air, serta uji stabilitas tanah.
**Pentingnya Literasi Sains**
Fenomena di Situjuah Batua juga membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang literasi sains di tengah masyarakat. Di era media sosial, informasi menyebar dengan
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: