Perubahan iklim global telah menjadi ancaman nyata bagi petani kopi di berbagai belahan dunia. Di banyak lokasi, peningkatan suhu udara rata-rata dan pola curah hujan yang tidak teratur telah mengganggu ekosistem tempat kopi Arabika berkembang.
Sebagai tanaman khas dataran tinggi, kopi Arabika sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, dengan kondisi tumbuh optimal pada suhu 18-22°C dan curah hujan yang merata. Ketika suhu meningkat di atas kisaran tersebut, proses pematangan buah dan biji kopi mengalami gangguan, menyebabkan penurunan produktivitas dan perubahan cita rasa.
**Produktivitas Menurun, Kualitas Tergerus**
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa petani yang tidak memperoleh informasi iklim memiliki risiko gagal panen yang tinggi. Peningkatan suhu dan kekeringan yang berkepanjangan seringkali menyebabkan produktivitas menurun, sehingga luas lahan coffee belt yang sesuai mengalami penyusutan.
Penelitian Schroth et al. (2015) membuktikan bahwa perubahan iklim akan menurunkan luas dan kesesuaian lahan untuk kopi Arabika di banyak wilayah, memaksa pergeseran ke dataran yang lebih tinggi atau lebih sesuai secara iklim.
Variasi cuaca yang semakin ekstrem juga mengubah profil rasa kopi Arabika. Di dataran tinggi tropis, kombinasi suhu sejuk, sinar matahari sedang, dan hujan teratur memicu pembentukan senyawa asam dan aroma kompleks khas Arabika. Namun ketika intensitas matahari bertambah dan suhu meningkat, kopi cenderung kehilangan keasaman dan menjadi hambar.
Penelitian di Nikaragua melaporkan penurunan kualitas biji pada cuaca ekstrem, yang berdampak langsung pada “rasa dan aroma kopi”. Kondisi serupa berlaku di Indonesia, dimana peningkatan kadar karbon dioksida dan suhu tinggi dapat mengubah metabolisme tanaman, yang pada akhirnya menurunkan intensitas aroma dan keunikan profil kopi Nusantara.
**Data Produksi Nasional Fluktuatif**
Dampak perubahan iklim lebih mudah diukur pada tingkat produksi. Data Badan Pusat Statistik dan SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia) menunjukkan produktivitas Indonesia sangat berfluktuasi. Produksi total kopi nasional tercatat 758.700 ton pada 2023, turun 2,09% akibat kemarau panjang dan serangan hama.
Musim kemarau yang berkepanjangan memang menurunkan hasil panen Arabika karena tanaman kekurangan air pada fase berbunga dan pembuahan. Perubahan pola hujan, baik fase hujan yang tertunda atau terlalu cepat, akan mengganggu siklus berbunga kopi sehingga hasil panen menurun.
Selain itu, suhu tinggi mempercepat pertumbuhan hama dan munculnya penyakit baru. Penelitian di Bandung mencatat dampak nyata, dimana kenaikan suhu mengurangi hasil panen sambil meningkatkan serangan hama penyakit, sehingga kopi cepat rusak dan kadar biji pun menurun.
**Pergeseran Zona Budidaya ke Elevasi Lebih Tinggi**
Di Indonesia yang berpulau-pulau, efek perubahan iklim bervariasi menurut wilayah. Konsentrasi sentra Arabika saat ini berada di daerah dataran tinggi beriklim sejuk seperti Gayo (Aceh), Toraja (Sulawesi Selatan), Flores, dan Kintamani (Bali). Namun kenaikan suhu memaksa sentra-sentra ini mencari lokasi baru.
Studi pemetaan iklim kopi menunjukkan kebun di dataran rendah semakin kurang sesuai, sebagian petani mulai menanam Arabika di ketinggian lebih tinggi daripada sebelumnya. Sebagai contoh, kopi Gayo yang secara tradisional tumbuh di 1200-1500 mdpl kini ada yang mencobanya di atas 1600 mdpl untuk mempertahankan suhu optimal.
Di banyak daerah, area kebun kopi berpindah lebih tinggi di lereng bukit. Hal ini tidak hanya mengkhawatirkan keberlanjutan lingkungan dan mengancam keragaman genetik kopi, tetapi juga mempersempit basis produksi nasional.
**Petani Kecil Paling Terpukul**
Petani kopi skala kecil adalah pihak yang paling terdampak. Kurangnya akses informasi iklim membuat mereka sulit merencanakan penanaman agar berbuah maksimal. Ekstremnya cuaca juga menyebabkan kerugian pendapatan akibat hama penggerek buah kopi (CBB), layu kekeringan, hingga peningkatan gulma ketika curah hujan tidak teratur.
Akibat kondisi tersebut, banyak petani terpaksa berbudidaya dengan biaya tinggi dan produktivitas turun, sementara biaya input (pupuk, pestisida) terus meningkat.
Secara ekonomi, kondisi tersebut mengancam volume ekspor kopi specialty Indonesia. Kualitas specialty bergantung pada konsistensi rasa dan proses pascapanen. Fluktuasi iklim memudarkan karakteristik unik tersebut.
Para pengkaji di Kementerian Pertanian mencatat bahwa berbagai varietas lokal unggul (misalnya Gayo 1, Toraja 18) membutuhkan “suasana iklim ideal” yang kini semakin sempit arealnya. Bila penurunan kualitas kopi ini berlanjut, reputasi specialty Indonesia di pasar dunia bisa tergeser dan pendapatan petani semakin mengecil.
**Strategi Adaptasi Berbasis Sains**
Menghadapi tantangan tersebut, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas harus digencarkan. Strategi adaptasi yang telah disarankan meliputi beberapa aspek.
Sistem bercocok tanam kopi di bawah naungan pohon atau disebut wanatani dianggap salah satu kunci adaptasi iklim. Conservation International menegaskan, “Agroforestri harus segera diwujudkan, tutupan pohon di kebun kopi harus ditingkatkan.”
Keuntungan agroforestri sudah diteliti oleh ICCRI (Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute). Naungan pohon pelindung menjaga suhu mikro kebun, menjadikan proses pemasakan buah kopi lebih lambat dan merata, sehingga cita rasa kopi meningkat dibanding tanam tanpa naungan.
Sistem agroforestri juga meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta menambah penyimpanan karbon. Keberadaan varietas unggul lokal (seperti Sigarar Utang, ATENG, Kartika) harus ditingkatkan risetnya agar lebih tahan panas dan kering.
Lembaga penelitian disarankan mempercepat program persilangan dan seleksi varietas adaptif. Pendanaan pemerintah perlu dialih
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: