Inilah Dinosaurus Kepala Batu dari Meksiko yang Diduga Suka Adu Kepala

Fosil seekor dinosaurus kecil-gesit, mirip burung, bermata tajam dan berotak relatif besar—ternyata menunjukkan pemiliknya memiliki tengkorak supertebal dan berkubah seperti helm. Itulah kejutan yang baru saja diungkap tim paleontolog dari Meksiko dan Amerika Serikat lewat identifikasi spesies baru troodontid yang diduga mengandalkan “adu kepala” saat berkonflik dengan sesamanya.

Spesies ini hidup sekitar 73 juta tahun lalu, pada Kapur Akhir (Late Cretaceous), ketika ekosistem Amerika Utara bagian selatan masih dipenuhi beragam dinosaurus pemangsa maupun herbivor. Temuan tersebut dilaporkan dalam sebuah artikel ilmiah di jurnal Diversity.

**Dinosaurus “Jenius” dengan Kepala Helm**

Dinosaurus baru ini diberi nama Xenovenator espinosai. Ia termasuk Troodontidae, kelompok dinosaurus theropoda yang terkenal lincah, cerdas, dan secara evolusioner berkerabat dekat dengan burung. Troodontid sendiri sering disebut “si jenius” di dunia dinosaurus karena ukuran otaknya relatif besar dan indra yang tajam.

Namun Xenovenator espinosai menonjol karena satu hal yang tidak biasa: atap tengkoraknya menebal ekstrem dan membentuk kubah.

Spesimen kunci (holotipe dan paratipenya) ditemukan melalui surface collecting—pengumpulan fosil di permukaan—di Formasi Cerro del Pueblo, Coahuila, Meksiko utara, pada awal tahun 2000-an.

Holotipe yang paling informatif menyimpan banyak bagian braincase (rongga pelindung otak), termasuk tulang frontal dan parietal yang membentuk kubah. Pada puncaknya, ketebalan tulang dapat mencapai hingga 1,2 cm—angka yang tergolong mencolok untuk theropoda bertubuh relatif ringan.

**Struktur Internal yang Menakjubkan**

Tim peneliti melakukan pemindaian CT (computed tomography) untuk melihat struktur internal tengkorak. Hasilnya menunjukkan tulang tengkorak tersusun sangat padat, dengan sutura (sambungan antartulang) yang saling mengunci rapat, dan permukaan luar tulang yang kasar dan beralur (striated).

Arsitektur seperti ini mengingatkan pada kelompok dinosaurus lain yang terkenal berkepala kubah: pachycephalosaurid (dinosaurus “kepala kubah”). Menariknya, troodontid dan pachycephalosaurid berkerabat jauh—jadi kemiripan ini kemungkinan besar bukan karena garis keturunan yang dekat, melainkan karena evolusi konvergen: dua kelompok berbeda mengembangkan solusi anatomi yang mirip untuk fungsi yang serupa.

**Adaptasi untuk Pertarungan Sesama Spesies**

Menurut para paleontolog, kombinasi tengkorak menebal, kubah kranium, kekasaran permukaan tulang, dan sutura yang kompleks konsisten dengan adaptasi untuk pertarungan antarindividu dalam spesies yang sama—terutama perilaku head-butting.

Dalam dunia dinosaurus, struktur pajangan dan “senjata” (tanduk, jambul, tonjolan, frill, dan sejenisnya) memang sering ditemukan. Namun yang membuat temuan ini spesial adalah klaimnya: adaptasi tengkorak yang terkait langsung dengan pertarungan sebelumnya belum terdokumentasi pada kelompok theropoda maniraptora non-unggas.

Jika interpretasi ini benar, maka ini bisa menjadi contoh pertama modifikasi tengkorak untuk duel sesama spesies pada paravian (kelompok yang mencakup dinosaurus dekat-burung).

**Variasi Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin**

Spesimen paratipe dari Xenovenator espinosai menunjukkan kubah dan ketebalan yang lebih ringan dibanding holotipe. Variasi ini penting karena bisa mengisyaratkan beberapa hal:

Perbedaan umur: “helm” tengkorak mungkin berkembang semakin ekstrem ketika individu makin dewasa. Perbedaan jenis kelamin: ada kemungkinan hanya salah satu jenis kelamin (misalnya jantan) yang mengembangkan penguatan tengkorak paling menonjol—mirip pola dimorfisme pada banyak hewan modern.

Penulis utama, Dr. Hector Rivera-Sylva (Museo del Desierto) dan kolega menekankan bahwa fungsi tengkorak tebal ini memang “tidak langsung jelas” pada awalnya. Namun di banyak mamalia dan burung modern, fitur kranial yang tampak “berlebihan” sering terkait seleksi seksual—dipakai untuk pamer, menarik pasangan, atau sebagai senjata dalam kompetisi.

**Fenomena Umum pada Troodontid**

Para peneliti juga mencatat sesuatu yang menarik: pada beberapa troodontine, tulang frontal kadang memang kasar, dan kekasaran juga dapat terlihat pada tulang lain seperti maxillae dan nasals. Ini memberi petunjuk bahwa pertarungan sesama spesies mungkin cukup umum pada Troodontinae—meski pada Xenovenator espinosai intensitasnya diduga lebih ekstrem, sampai memunculkan kubah dan penguatan tengkorak yang sangat jelas.

Analisis kekerabatan (phylogenetic analyses) menempatkan Xenovenator espinosai dalam kelompok troodontid Amerika Utara yang bertubuh besar. Namun, tengkorak tebal berkubah tetap menjadi spesialisasi yang unik di dalam grup tersebut.

Tim juga menyoroti adanya spesies terkait, Xenovenator robustus, di New Mexico. Kehadiran kerabat dekat di lokasi berbeda ini mengarah pada dugaan adanya klade troodontid tengkorak tebal yang endemik di wilayah barat daya (Southwest), memperkuat gambaran bahwa fauna zaman Kapur Akhir di wilayah selatan Laramidia sangat beragam dan memiliki banyak jalur evolusi lokal.

**Bukti Seleksi Seksual pada Dinosaurus**

Temuan ini memperluas daftar keragaman troodontid di wilayah selatan Laramidia dan, yang tak kalah menarik, memberi bukti langka bahwa bahkan theropoda yang relatif kecil dan bertubuh ringan bisa berevolusi memiliki struktur khusus untuk pertarungan fisik.

Lebih jauh, peneliti mengaitkan fenomena ini dengan pola besar pada Kapur: berulangnya kemunculan “senjata” dan fitur pajangan yang rumit mengisyaratkan seleksi seksual makin berperan dalam evolusi dinosaurus—bukan cuma seleksi alam soal bertahan hidup, tetapi juga kompetisi dan “pamer” untuk reproduksi.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Saintis Cilik: Dinosaurus

Buanglah Hajat pada Tempatnya

Nat Geo Dinopedia Edisi Kedua