Sulawesi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu panggung paling menarik dalam kisah evolusi manusia. Dari sebuah ceruk batu (rock-shelter) bernama Leang Bulu Bettue di kawasan karst Maros-Pangkep, para peneliti menemukan jejak hunian manusia purba yang sangat panjang dan berlapis-lapis—bahkan disebut sebagai salah satu rekaman okupasi manusia awal paling lengkap di Wallacea, wilayah peralihan penting di antara Asia dan Australia.
Temuan ini bukan hanya memperkaya peta arkeologi Indonesia. Lebih dari itu, ia membuka kemungkinan besar: Homo sapiens (manusia modern) mungkin pernah hidup sezaman—dan berpotensi berinteraksi—dengan hominin arkais yang kini sudah punah di Sulawesi, puluhan ribu tahun lalu.
**Catatan Pleistosen di Wilayah Peralihan**
Penelitian yang dipimpin oleh kandidat Ph.D. Griffith University, Basran Burhan, bersama timnya, menggali lapisan-lapisan endapan di Leang Bulu Bettue yang berisi artefak batu, sisa tulang hewan, serta jejak aktivitas manusia yang mencakup sebagian besar zaman Pleistosen.
Kekuatan utama situs ini terletak pada dua hal: kedalaman dan kontinuitas lapisan budaya. Artinya, Leang Bulu Bettue bukan sekadar “spot” temuan sesaat, melainkan semacam linimasa panjang yang memungkinkan para ilmuwan melacak perubahan teknologi dan perilaku manusia dari masa ke masa.
Burhan menyebut, rekaman budaya yang kaya dan menyambung ini membuat Leang Bulu Bettue berpotensi menjadi situs unggulan untuk menguji satu pertanyaan besar: apakah dua garis keturunan manusia—hominin arkais dan Homo sapiens—pernah bertumpang tindih waktunya di Sulawesi?
Adapun hominin arkais adalah sebutan untuk kelompok spesies manusia purba yang hidup sebagai bentuk transisi antara Homo erectus dan Homo sapiens modern, ditandai dengan ciri-ciri seperti otak lebih besar dari H. erectus tapi tengkorak tebal, tonjolan alis kuat, dan dagu tidak menonjol.
**Lapisan Paling Tua: 208.000 Tahun Lalu**
Menurut studi tersebut, fase hunian paling awal di Leang Bulu Bettue diperkirakan berumur hingga sekitar 208.000 tahun. Lapisan awal ini ditandai oleh alat batu sederhana, dan jejak pemotongan atau pengolahan hewan, yang menunjukkan aktivitas subsistensi.
Namun yang paling mencolok adalah ditemukannya alat batu berat jenis picks—alat seperti “patuk” atau “pahat besar” yang biasa dipakai untuk kerja keras. Bagi para arkeolog, ini bukan sekadar batu yang dibentuk asal-asalan. Keberadaan picks mengindikasikan adanya tradisi budaya yang mapan dari kelompok hominin arkais, jauh sebelum manusia modern datang ke pulau itu.
Profesor Adam Brumm dari Griffith University menekankan bahwa aktivitas-aktivitas awal tersebut tampaknya mewakili tradisi budaya hominin arkais yang bertahan di Sulawesi hingga Pleistosen Akhir. Dengan kata lain: sebelum Homo sapiens muncul, Sulawesi kemungkinan sudah lama “ramai” oleh kerabat manusia yang berbeda.
**Revolusi Teknologi 40.000 Tahun Lalu**
Lalu terjadi perubahan yang sangat tegas sekitar 40.000 tahun lalu. Di periode ini, para peneliti menemukan rangkaian teknologi alat batu yang berbeda, dan bukti perilaku simbolik—ciri yang sering dikaitkan dengan Homo sapiens.
Burhan menjelaskan bahwa kelompok manusia lebih muda ini memuat “toolkit” yang khas, serta bukti paling awal ekspresi artistik dan perilaku simbolik di pulau tersebut. Ini sejalan dengan temuan-temuan lain di Sulawesi yang sebelumnya sudah mengguncang dunia arkeologi, seperti seni cadas (rock art) kuno dan alat-alat yang tergolong canggih.
Perubahan mendadak ini dinilai bukan sekadar inovasi kecil. Tim peneliti menduga, “patahan” budaya tersebut bisa mencerminkan transisi demografis dan budaya besar—kemungkinan kedatangan Homo sapiens ke Sulawesi, disusul penggantian populasi hominin sebelumnya.
**Posisi Strategis Sulawesi dalam Sejarah Manusia**
Secara geografis, Sulawesi berada di posisi strategis: di antara Asia daratan dan Sahul, daratan purba yang dulu menghubungkan Australia dan Papua. Dalam narasi migrasi manusia, wilayah ini adalah semacam persimpangan yang mungkin dilalui gelombang-gelombang penyebaran manusia purba.
Namun ironisnya, karena hutan lebat, medan yang sulit, serta laut dalam yang mengisolasi pulau-pulau Wallacea, data arkeologinya selama ini relatif jarang dibanding wilayah lain. Itulah sebabnya temuan berlapis dan “panjang” seperti di Leang Bulu Bettue menjadi sangat berharga.
**Harapan Menemukan Bukti Koeksistensi Dua Spesies**
Salah satu implikasi paling menarik dari riset ini adalah kemungkinan adanya tumpang tindih waktu antara Homo sapiens dan kerabat manusia yang lebih tua—yang kini telah punah. Para peneliti menyebut, Leang Bulu Bettue berpotensi memberikan bukti arkeologis langsung pertama mengenai tumpang tindih kronologis tersebut di Sulawesi—dan, bila beruntung, mungkin juga memberi petunjuk apakah mereka berinteraksi.
Brumm menggambarkan mengapa Sulawesi terasa seperti “mesin waktu” bagi arkeolog. Di Australia, misalnya, sedalam apa pun menggali, Anda tidak akan menemukan jejak manusia sebelum Homo sapiens—karena Australia hanya pernah dihuni manusia modern. Tetapi di Sulawesi, hominin diduga telah hadir jauh lebih lama, bahkan disebut telah ada selama sekitar satu juta tahun sebelum Homo sapiens datang.
Jadi, jika penggalian dilakukan lebih dalam lagi, ada peluang untuk menemukan lapisan ketika dua spesies manusia benar-benar hidup berdekatan. Basran bahkan menyebut masih ada kemungkinan beberapa meter lapisan arkeologi di bawah titik terdalam penggalian saat ini.
Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Desember 2025 di jurnal PLOS ONE. Ke depan, penggalian lanjutan di Leang Bulu Bettue diharapkan dapat menghadirkan temuan baru yang berpotensi mengubah pemahaman kita tentang sejarah awal manusia di
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: