Menyatukan Angka Alam dan Angka Kesehatan agar Kebijakan Tidak Pincang

Di ruang rapat pemerintahan, tabel kesehatan dan tabel lingkungan kerap duduk di meja berbeda. Yang satu memajang angka kunjungan puskesmas, jumlah pasien demam berdarah, atau prevalensi penyakit kronis. Yang lain menampilkan tutupan hutan, indeks kualitas air, atau seberapa banyak spesies burung yang masih bertahan. Seolah dua dunia yang terpisah.

Akibatnya, kebijakan sering terasa timpang. Pembangunan drainase bisa menurunkan banjir di kertas, tapi justru memperbanyak genangan tempat nyamuk berkembang biak. Lahan pesisir dibuka untuk properti, pemasukan daerah meningkat, tapi beban kesehatan juga diam-diam membengkak.

Muncul kesadaran baru: kita perlu menaruh angka alam dan angka kesehatan di papan yang sama, supaya arah kebijakan tidak lagi pincang sebelah.

**Mencari Bahasa Bersama Dua Dunia**

Sejumlah pakar lintas bidang sudah lama mengingatkan hal ini. Mereka menyorot bahwa meski negara-negara kerap meminta ukuran yang menyatukan kesehatan dan keanekaragaman hayati, jawaban ilmiah yang praktis belum benar-benar tersedia. Padahal, tanpa angka yang bisa dipakai bersama, perencana daerah bergerak dalam kabut.

Masalah klasiknya adalah perbedaan bahasa. Dunia kesehatan terbiasa dengan ukuran seperti risiko relatif, angka kematian, atau beban penyakit. Dunia konservasi punya bahasa indeks spesies, integritas ekosistem, atau jasa ekosistem. Keduanya jarang saling menyeberang.

Pertanyaan sederhana seperti “berapa banyak pemulihan mangrove yang menurunkan kasus pernapasan dalam tiga tahun ke depan?” sering hanya dijawab dengan perkiraan kasar. Di sinilah jurang yang perlu dijembatani oleh metrik terpadu—bukan angka ajaib yang berlaku di semua tempat, melainkan paket indikator yang saling terhubung, sederhana untuk dipakai pemerintah daerah, dan cukup kuat untuk memandu anggaran lintas sektor.

**Fondasi Pemikiran: One Health dan Determinan Sosial**

Dalam kesehatan masyarakat, sudah lama dikenal gagasan bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh gaya hidup atau pelayanan medis, tetapi juga oleh kondisi tempat tinggal, pekerjaan, hingga lingkungan fisik. Air yang bersih, udara yang sehat, tanah yang subur, dan ekosistem yang berfungsi adalah lapisan luar yang mengelilingi semua faktor lainnya.

Sementara pendekatan One Health memperlihatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem saling berhubungan. Penyakit menular sering menjadi titik tolak, tetapi kini semakin jelas bahwa penyakit tidak menular pun—asma, alergi, penyakit mental—tak bisa dilepaskan dari cara kita mengelola ruang dan alam.

Jika dua lensa ini digabungkan, kesimpulannya jelas: ukuran kesehatan yang baik harus menjejak di lanskap, bukan hanya di ruang rawat.

**Contoh Nyata: Kota Pesisir dalam Satu Papan**

Mari bayangkan sebuah kota pesisir. Dalam lima tahun, mangrove menyusut, kualitas air muara menurun, dan udara musim kemarau tercemar asap kebakaran. Di saat yang sama, rumah sakit daerah mencatat kenaikan pasien sesak napas saat asap datang. Puskesmas kewalahan menghadapi demam berdarah setelah musim hujan ekstrem.

Semua data ini ada, tetapi terpisah. Jika diletakkan di papan yang sama—luas mangrove, kualitas air, indeks penyerbuk, konsentrasi polusi, angka kunjungan pernapasan, kasus demam berdarah, gizi anak—maka terlihat pola yang menyatukan. Restorasi mangrove bukan lagi dilihat hanya sebagai proyek lingkungan, tetapi juga sebagai intervensi kesehatan masyarakat.

**Tiga Lapis Indikator yang Saling Terhubung**

Langkah praktisnya adalah menyepakati bahan baku metrik yang dipantau bersama. Dari sisi ekologi, pilih variabel yang mewakili keutuhan sistem, misalnya indeks integritas pesisir. Dari sisi paparan, ambil mediator yang dekat dengan tubuh: konsentrasi polusi udara, suhu permukaan, atau lama genangan air. Dari sisi kesehatan, gunakan ukuran yang sudah akrab: kasus pernapasan, penyakit akibat vektor, dan gizi anak.

Tiga lapis ini—ekosistem, paparan, hasil—disusun dalam lembar kerja sederhana dan diperbarui secara berkala. Bukan untuk mengejar kesempurnaan, tetapi untuk membangun pola kecenderungan yang bisa diuji dari tahun ke tahun.

**Memahami Hubungan: Keanekaragaman dan Konteks**

Ada beberapa cara berpikir yang bisa membantu membaca kaitan ini. Keanekaragaman yang tinggi membuat ekosistem lebih stabil, sehingga fungsi seperti penyediaan air dan udara lebih tahan guncangan. Paparan beragam mikroorganisme alami pada masa kecil membantu melatih sistem imun.

Namun, kita juga perlu hati-hati, karena keanekaragaman yang tinggi tanpa pengelolaan bisa berarti lebih banyak reservoir penyakit. Maka indikator harus dipilih sesuai konteks: jika ancaman utama adalah demam berdarah, monitor habitat vektor; jika ancaman utama adalah asma, beri perhatian pada polusi dan ruang hijau.

**Prinsip Praktis: Sederhana tapi Konsisten**

Pertanyaan berikutnya soal biaya dan kerumitan. Idealnya, metrik tidak terlalu rumit, murah, dan konsisten. Lebih baik punya indeks sederhana yang bisa diulang setiap tahun dengan kualitas data yang stabil, daripada indeks kompleks yang sulit dijalankan.

Jika data kesehatan sangat rinci sulit didapat, cukup pakai indikator kunjungan dengan keluhan tertentu yang konsisten. Perbaikan kualitas bisa dilakukan bertahap. Yang penting, kebijakan tidak menunggu sempurna baru bergerak.

**Mengubah Arsitektur Kelembagaan**

Supaya tidak terpental oleh kebiasaan lama, arsitektur kelembagaan harus berubah. Dinas kesehatan, lingkungan, dan pekerjaan umum jarang berbagi dashboard. One Health bisa dijadikan kerangka kerja untuk menjelaskan siapa mengukur apa, seberapa sering, dan bagaimana berbagi data.

Rapat koordinasi bukan lagi seremonial, melainkan forum untuk membaca grafik, mendiskusikan penyebab, dan menimbang intervensi. Apakah pem


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Komunikasi Kebijakan