Alasan Unta Liar Bisa Minum Air Lebih Asin dari Laut

Di padang gurun, air merupakan sumber daya paling berharga. Banyak hewan mampu bertahan beberapa hari tanpa minum, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar “akur” dengan kondisi ekstrem: panas menyengat, angin kering, dan sumber air yang kadang tidak layak diminuman karena terlalu asin.

Di antara para “juara ketahanan hidup” tersebut, ada satu spesies yang membuat ilmuwan terpana: unta Baktria liar (Camelus ferus). Unta berpunuk dua ini bukan hanya kuat menahan dahaga. Mereka terkenal mampu meminum air dengan kadar garam lebih tinggi daripada air laut—sesuatu yang bagi kebanyakan mamalia besar dapat berakibat dehidrasi cepat atau bahkan keracunan.

**Menegak Air Asin Tanpa Tumbang**

Di habitat aslinya—barat laut Tiongkok dan barat daya Mongolia—unta liar ini dapat terlihat meminum air dari mata air asin seolah itu hal biasa. Padahal, untuk banyak hewan besar lainnya, air seasin itu merupakan masalah serius.

Pada manusia, misalnya, meminum air yang sangat asin membuat tubuh kewalahan. Ginjal tidak mampu membuang kelebihan garam secepat masuknya garam ke tubuh. Akibatnya, kadar natrium dalam darah meningkat. Secara alamiah, tubuh akan “menyeimbangkan” kondisi itu melalui osmosis—air di dalam sel ditarik keluar untuk mengencerkan darah yang terlalu asin. Hasilnya: sel-sel mengalami dehidrasi, tubuh mengalami stres, dan bisa muncul gangguan elektrolit yang mengancam jiwa.

Camelus ferus seolah memiliki “kartu as” yang belum sepenuhnya dipahami oleh sains. Spesies ini diduga telah berevolusi dengan sistem ginjal yang sanggup menangani salinitas ekstrem tanpa membuat tubuhnya ambruk. Masalahnya: ilmuwan belum benar-benar yakin bagaimana mekanisme detailnya bekerja. Para peneliti tahu mereka bisa melakukannya—tetapi “bagaimana persisnya” masih menjadi teka-teki.

**Bukan Unta Domestik Biasa**

Penting dicatat: unta Baktria liar bukanlah unta yang biasa dipelihara manusia di berbagai wilayah Asia dan Afrika Utara. Jadi, jangan pernah mengira semua unta bisa meminum air asin.

Unta liar ini tidak pernah didomestikasi manusia dan secara genetik berbeda dari spesies unta lainnya. Kerabat terdekatnya adalah unta Baktria domestik (Camelus bactrianus), yang sering dimanfaatkan sebagai hewan pengangkut di Asia. Meski tampak mirip dari jauh—sama-sama berpunuk dua—mereka bukan “versi liar vs versi jinak” dari satu hewan yang sama dalam pengertian sederhana.

Unta Baktria liar sangat erat kaitannya dengan wilayah Lop Nur di Xinjiang, Tiongkok bagian utara—hamparan gurun yang memiliki sejarah unik. Daerah ini pernah digunakan sebagai lokasi uji coba senjata nuklir antara 1955 hingga 1996.

Ironisnya, situasi itu sempat “menguntungkan” unta liar—setidaknya dalam satu hal: minimnya kehadiran manusia karena wilayah tersebut sangat dibatasi. Selama mereka tidak berada di zona ledakan, keterpencilan ini membantu populasi unta bertahan dari tekanan aktivitas manusia.

**Ancaman Kepunahan di Tengah Keunikan**

Namun, setelah uji coba nuklir berhenti, ancaman lama kembali muncul: perburuan ilegal dan kegiatan pertambangan. Karena itu, unta Baktria liar kini masuk daftar terancam punah di IUCN Red List.

John Hare, pendiri Wild Camel Protection Foundation, pernah menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan. Menurut laporan BBC News (2001), ia menyebut ditemukannya ranjau di sekitar mata air asin. Ia mengatakan: “Ketika unta-unta datang untuk minum, mereka menginjak ranjau dan – bum! Unta-unta itu hancur berkeping-keping dan dagingnya diambil untuk dimakan.”

Gambaran ini brutal, namun menunjukkan betapa sumber air—yang seharusnya menjadi “tempat aman” di gurun—bisa berubah menjadi perangkap.

**Adaptasi Biologis yang Luar Biasa**

Kemampuan menenggak air asin bukan satu-satunya adaptasi ekstrem pada genus Camelus. Ada detail biologis yang sering luput dari perhatian, tetapi sangat menentukan ketahanan mereka.

Salah satunya: sel darah merah berbentuk oval. Pada banyak mamalia, sel darah merah cenderung berbentuk cakram. Bentuk oval pada unta membuat sel-sel ini lebih tahan terhadap stres osmotik—yang sangat penting ketika tubuh mengalami dehidrasi parah lalu tiba-tiba mendapat banyak cairan.

Dengan kata lain, unta bisa bertahan saat sangat kering dan kemudian rehidrasi cepat tanpa sel darah merahnya mudah “pecah” karena perubahan tekanan osmotik.

**Mitos Punuk dan Kemampuan Minum yang Menakjubkan**

Ada juga “mitos klasik” tentang punuk. Banyak orang masih percaya punuk unta adalah tempat menyimpan air. Faktanya, punuk berisi jaringan lemak—semacam “tabungan energi” yang bisa dipakai saat makanan sulit ditemukan. Jadi punuk itu lebih mirip bekal darurat ketimbang tangki air.

Meski begitu, unta tetap memiliki kemampuan minum yang membuat siapa pun tercengang: Sekali minum, bisa puluhan ember! Dalam kondisi tepat, unta bisa meminum sangat banyak dalam waktu sangat singkat. Disebutkan bahwa unta dapat menenggak hingga sekitar 200 liter dalam tiga menit—angka yang sulit dibayangkan jika dibandingkan dengan kapasitas manusia.

Kemampuan ini masuk akal di gurun: saat menemukan air, kesempatan itu belum tentu datang lagi dalam waktu dekat. Tubuh unta dirancang untuk memaksimalkan momen tersebut.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Ensiklopedia Saintis Junior: Tubuh Manusia