Beberapa tahun silam, blockchain dibicarakan dengan nada yang sangat menjanjikan. Teknologi ini disebut sebagai fondasi dunia pasca-Google: sebuah era baru internet yang tidak lagi terpusat, tidak bergantung pada raksasa platform, dan menjanjikan kedaulatan data di tangan pengguna.
Dalam berbagai seminar dan diskusi, blockchain diposisikan bukan sekadar teknologi, melainkan paradigma—tentang kepercayaan, transparansi, dan distribusi kekuasaan di ruang digital.
Namun kini, gaung tersebut terasa meredup. Panggung publik hampir sepenuhnya dikuasai oleh kecerdasan buatan (AI). Media, korporasi, pemerintah, bahkan percakapan sehari-hari, lebih banyak membahas ChatGPT, otomasi, dan kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan. Blockchain, yang dulu dielu-elukan sebagai masa depan, seolah tenggelam di balik gelombang besar AI.
Apakah ini pertanda bahwa blockchain gagal? Atau justru kita sedang salah membaca arah sejarah teknologi?
**AI Versus Blockchain: Instan Melawan Struktural**
Perbedaan paling mendasar antara AI dan blockchain terletak pada sifat manfaatnya. AI menawarkan hasil instan. Dalam hitungan menit, seseorang bisa menulis artikel, membuat kode, menganalisis data, atau merangkum dokumen. Dampaknya langsung terasa, personal, dan mudah dipahami. AI memuaskan kebutuhan manusia modern akan kecepatan dan efisiensi.
Blockchain sebaliknya. Teknologi ini tidak menawarkan kemudahan instan, melainkan perubahan struktural. Blockchain menantang cara kita membangun kepercayaan—dari kepercayaan pada institusi dan perantara, menjadi kepercayaan pada sistem dan kriptografi.
Tentu ini bukan perubahan kecil. Transformasi tersebut menyentuh hukum, tata kelola, model bisnis, bahkan otoritas negara. Wajar jika adopsinya lambat dan penuh resistensi. Dalam dunia yang terbiasa dengan solusi cepat, teknologi yang menuntut kesabaran hampir selalu akan kalah sorotan.
**Janji yang Belum Matang**
Harus diakui, sebagian euforia blockchain di masa lalu dibangun di atas janji yang belum sepenuhnya matang. Isu skalabilitas, biaya transaksi, pengalaman pengguna yang rumit, serta persoalan tata kelola membuat banyak implementasi blockchain terasa elitis dan sulit diakses publik luas. Narasi besar tentang “desentralisasi” sering kali kalah oleh kenyataan teknis yang membingungkan.
Bagi banyak organisasi—termasuk pemerintah—tujuan utama mereka sebenarnya bukan desentralisasi ideologis, melainkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas. Ketika tujuan tersebut bisa dicapai dengan teknologi lain yang lebih sederhana, blockchain pun ditinggalkan, setidaknya di permukaan.
**Politik Teknologi yang Jarang Dibahas**
Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu politik teknologi. Blockchain, dalam bentuk paling murninya, mengurangi peran perantara—termasuk negara dan korporasi besar—dalam mengendalikan data dan transaksi. Hal ini membuatnya secara inheren “mengganggu” pihak-pihak status quo.
AI, sebaliknya, relatif lebih mudah dijinakkan dalam kerangka yang ada. Teknologi ini bisa dikembangkan oleh korporasi besar, diatur oleh negara, dan dimasukkan ke dalam model ekonomi lama. Tidak mengherankan jika negara dan pasar lebih nyaman mengadopsi AI ketimbang desentralisasi radikal ala blockchain.
**Perubahan Fase, Bukan Kematian**
Namun mengatakan bahwa blockchain mati tentu adalah kesimpulan yang tergesa-gesa. Yang terjadi lebih tepat disebut sebagai perubahan fase. Blockchain tidak lagi tampil sebagai jargon revolusioner di panggung depan, tetapi bekerja di balik layar.
Saat ini, blockchain lebih banyak hadir sebagai lapisan pendukung—seperti untuk pencatatan jejak data, integritas informasi, identitas digital, ketertelusuran rantai pasok, hingga audit transaksi. Teknologi ini tidak lagi dijual sebagai “masa depan segalanya”, melainkan sebagai solusi spesifik untuk masalah spesifik.
Ironisnya, justru ketika AI berkembang pesat, kebutuhan akan fungsi-fungsi blockchain ini semakin besar.
**AI Meningkatkan Kebutuhan Akan Kepercayaan**
AI mempercepat pengambilan keputusan, tetapi juga memperbesar risiko. Ketika algoritma menentukan kelayakan kredit, diagnosis medis, atau rekomendasi kebijakan, pertanyaan tentang akuntabilitas menjadi krusial. Dari mana data berasal? Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan? Apakah prosesnya bisa diaudit?
Di sinilah blockchain berpotensi menemukan kembali relevansinya. Bukan sebagai pesaing AI, melainkan sebagai pasangan yang melengkapinya. AI menyediakan kecerdasan dan efisiensi, sedangkan blockchain menyediakan kepercayaan, jejak, dan pertanggungjawaban.
**Pelajaran untuk Indonesia**
Bagi Indonesia, fenomena ini menyimpan pelajaran penting. Kita kerap tergoda oleh hype teknologi terbaru, lalu meninggalkan diskursus yang lebih mendasar. AI memang penting, tetapi tanpa fondasi tata kelola data, kepercayaan digital, dan akuntabilitas sistem, AI justru bisa memperbesar masalah lama—seperti penyalahgunaan data, bias keputusan, dan ketimpangan akses.
Blockchain mungkin tidak lagi menarik sebagai slogan, tetapi nilai-nilai yang dibawanya—seperti transparansi, integritas, dan distribusi kepercayaan—akan tetap relevan, bahkan semakin penting di era AI.
**Fondasi di Balik Layar**
Sejarah teknologi jarang bergerak lurus. Teknologi yang paling menentukan sering kali bukan yang paling ramai dibicarakan, melainkan yang menjadi fondasi penting untuk menopangnya. Jika AI adalah otak yang berpikir cepat, maka blockchain berpeluang menjadi tulang punggung kepercayaan yang menjaga agar keputusan hasil AI tetap bisa dipertanggungjawabkan.
Mungkin blockchain memang tenggelam dari headline. Tetapi justru di kedalaman itulah, teknologi ini menemukan peran vitalnya sambil menunggu momentum berikutnya.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: