Hoaks Energi: Antara Harapan dan Hukum Alam

Peran vital energi dalam menopang kehidupan dan peradaban menjadikan upaya penyediaannya yang andal dan terjangkau selalu menarik perhatian. Di tengah semakin langkanya sumber energi fosil serta meningkatnya tekanan lingkungan, riset dan sumber daya telah dicurahkan secara serius untuk mencari solusi alternatif.

Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa di sela-sela upaya tersebut kerap muncul klaim penyediaan energi yang terdengar terlalu sempurna, tetapi sering kali tidak bertumpu pada dasar ilmiah yang kokoh.

**Video “Free Energy” Meraih Jutaan Penonton**

Maraknya platform media sosial saat ini membuat video-video bombastis tentang “energi gratis” seperti pompa air atau motor magnet tanpa input energi beredar luas dan meraih jutaan penonton. Daya tariknya bukan semata visual atau narasi, melainkan harapan: adanya jalan pintas menuju energi yang murah, bersih, dan nyaris tanpa batas.

Tidak mengherankan jika buku teks yang luas digunakan di dunia akademik, seperti “Thermodynamics: An Engineering Approach” karya Çengel dan Boles, masih menyisipkan bahasan mengenai upaya pembuatan perpetual motion machine—mesin gerak abadi—sebagai contoh pelanggaran hukum pertama dan kedua termodinamika.

Sisipannya bukan sekadar pelajaran teknis, melainkan pengingat tentang bagaimana hoaks energi kerap berulang dalam sejarah dengan wajah yang berbeda.

**Kantor Paten AS Tutup Pintu Sejak 1918**

Berulang kali, gagasan tentang mesin yang dapat bekerja tanpa henti muncul dan memikat publik. Sebagian runtuh oleh kenyataan teknis, sementara sebagian lain justru “bertahan” bukan karena keberhasilan rekayasa, melainkan karena kemampuannya menjual janji—sebuah praktik yang lebih dekat pada manipulasi kepercayaan publik daripada inovasi teknologi.

Sejak 1918, Kantor Paten Amerika Serikat bahkan secara tegas menutup pintu bagi paten mesin semacam ini. Polanya relatif konsisten: ide terdengar segar dan revolusioner, tetapi kerap lahir dari pemahaman keteknikan yang tidak memadai.

Pesannya sederhana, namun tetap relevan hingga kini—jika sebuah klaim energi terdengar terlalu baik untuk menjadi kenyataan, besar kemungkinan memang demikian adanya.

**Teori Konspirasi Muncul Saat Dibantah**

Di sisi lain, muncul para komunikator sains—termasuk kreator konten—yang berupaya memberi penjelasan ilmiah sebagai penyeimbang. Sayangnya, upaya ini tidak jarang disambut penolakan, bahkan kecaman.

Ketika akademisi atau pembuat kebijakan ikut bersuara, sering kali muncul narasi teori konspirasi: seolah para ilmuwan atau pemerintah hanyalah perpanjangan kepentingan bisnis energi yang merasa terancam oleh “penemuan baru”. Tidak jarang pula, gagasan yang tidak pernah terbukti justru terus memperoleh panggung dan dukungan publik.

**Pentingnya Pemahaman Termodinamika**

Fenomena semacam ini sesungguhnya dapat diminimalkan apabila prinsip-prinsip dasar termodinamika lebih dikenal dan dipahami masyarakat luas. Ilmu ini adalah fondasi seluruh proses konversi energi, namun ironisnya masih relatif asing dalam diskursus publik—bahkan kerap terpinggirkan dalam pengambilan kebijakan energi.

Tanpa pijakan ini, perbincangan tentang energi mudah terombang-ambing antara harapan yang melambung dan kekecewaan yang berulang.

**Hukum Pertama dan Kedua Termodinamika**

Secara mendasar, hukum pertama termodinamika menegaskan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan hanya berubah bentuk. Ketika prinsip sederhana ini disalahpahami—terlebih jika hukum kedua termodinamika diabaikan—muncullah ilusi tentang “energi yang tidak pernah habis”.

Padahal, hukum kedua menyatakan bahwa setiap proses nyata selalu disertai peningkatan entropi, yakni bertambahnya ketidakteraturan, sehingga setiap konversi energi niscaya diiringi oleh disipasi: berkurangnya energi yang benar-benar dapat dimanfaatkan.

Implikasinya jelas. Meskipun jumlah energi secara total tetap, setiap proses konversi selalu menurunkan porsi energi yang berguna. Inilah alasan mengapa efisiensi menjadi perhatian utama dalam teknologi energi.

**Keseimbangan Efisiensi dan Kenyamanan**

Namun dalam praktik kehidupan modern, kenyamanan kerap mengalahkan efisiensi—dan hal ini sah. Energi dikonversi menjadi listrik, bahan bakar cair, atau bentuk lain karena lebih mudah, fleksibel, dan nyaman digunakan, meskipun sebagian energi harus “dikorbankan”.

Batas antara efisiensi dan kenyamanan memang relatif. Yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir yang jernih: menetapkan tingkat kenyamanan yang wajar lalu memaksimalkan efisiensinya, atau menetapkan batas sumber daya dan mengoptimalkan kenyamanan di dalam batas tersebut.

**Peran Akademisi dalam Pencerahan**

Meski kerap melelahkan dan seringkali mendapat kecaman, peran akademisi dan praktisi dalam memberi pencerahan tetap krusial—baik bagi mereka yang tulus mencari solusi, maupun bagi pihak-pihak yang berpotensi terseret oleh klaim semu berkedok inovasi.

Klaim energi semestinya harus didukung oleh bukti ilmiah dan disampaikan ke ruang publik setransparan mungkin. Di lain pihak, para penyandang dana perlu dibekali literasi dasar agar mampu menilai kelayakan sebuah gagasan secara rasional.

**Verifikasi Teknologi yang Kompleks**

Tantangan berikutnya—yang sering kali lebih kompleks—adalah memahami kelayakan teknologi konversi energi itu sendiri. Secara termodinamik, suatu teknologi bisa saja sepenuhnya memungkinkan, tetapi dalam praktik dapat menuntut biaya yang sangat tinggi. Klaim teknologi murah tidak mudah diverifikasi dan memerlukan pengujian yang transparan serta independen.

Hoaks mengenai teknologi energi yang mudah dan murah silih berganti hadir, dipicu oleh kebutuhan hidup modern yang semakin kompleks dan terus meningkat. Namun, dengan pemahaman yang sederhana namun menyeluruh, masyarakat dapat bersikap lebih kritis, sekaligus lebih mampu membedakan inovasi sejati yang berakar pada sains dari ilusi yang sekadar tampak meya


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan: Satu Isu Beragam Dilema

Kebohongan di Dunia Maya

Perencanaan Pembangunan, Keuangan, dan Transisi Energi Daerah