Tak Sekadar Cap Tangan, Gambar Cadas Leang Metanduno Rekam Narasi Hidup Manusia

Dunia arkeologi internasional kembali menaruh perhatian pada Indonesia. Kali ini, sorotan tertuju ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, setelah ditemukannya gambar cadas tertua di dunia berupa stensil cap tangan manusia yang berusia setidaknya 67.800 tahun.

Temuan monumental ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Namun, penemuan ini bukan hanya soal usia tertua. Lebih dari itu, situs-situs gambar cadas di Sulawesi—khususnya Leang Metanduno—mengungkap bahwa seni prasejarah Nusantara menyimpan narasi kehidupan manusia modern (Homo sapiens) yang jauh lebih kompleks daripada sekadar jejak telapak tangan.

**Leang Metanduno: Jendela Kehidupan Manusia Purba**

Peneliti Pusat Riset Arkeometri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adhi Agus Octavian, menjelaskan bahwa Leang Metanduno merupakan salah satu situs kunci yang memperlihatkan kekayaan narasi tersebut. Di gua ini, seni cadas tidak hanya hadir dalam bentuk cap tangan, tetapi juga menggambarkan relasi manusia dengan hewan, alam, teknologi, dan aktivitas sosial.

“Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Banyak yang sudah tertutup koraloid. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya,” ujar Adhi dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1).

Untuk memahami komposisi gambar secara menyeluruh, tim peneliti bahkan telah membuat model tiga dimensi (3D) dari kondisi gua Leang Metanduno. Dari pemodelan ini terlihat jelas bahwa panel-panel gambar di gua tersebut didominasi oleh representasi budaya penutur Austronesia, yang mencerminkan fase kehidupan manusia yang lebih maju dibanding masa pemburu-peramu awal.

**Dari Pelayaran hingga Domestikasi Hewan**

Berbeda dengan situs seni cadas tertua yang umumnya hanya menampilkan stensil cap tangan prasejarah, Leang Metanduno juga memperlihatkan lapisan budaya yang lebih muda. Pada fase ini, manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi hewan, serta perburuan yang dilakukan secara terstruktur.

Dalam salah satu panel, tampak figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, berdampingan dengan gambar perahu—sebuah bukti kuat bahwa tradisi maritim telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan ini.

“Salah satu yang paling besar terlihat seperti gambar kuda atau sapi besar. Lalu ada gambar perahu, ini bukti-bukti maritim. Ada juga domestikasi dan adegan perburuan,” jelas Adhi.

Tak hanya itu, figur manusia juga mendominasi panel gambar. Beberapa di antaranya tampak berinteraksi dengan hewan, bahkan ada yang digambarkan menunggang kuda sambil memegang senjata, kemungkinan parang. Meski sebagian gambar kini tertutup lapisan mineral koraloid dan mengalami perubahan warna, narasi visualnya masih dapat dikenali dengan cukup jelas.

“Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” kata Adhi.

**Arsip Sosial di Dinding Gua**

Temuan di Leang Metanduno memperkuat pandangan bahwa seni cadas prasejarah bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan juga arsip sosial. Melalui gambar-gambar ini, manusia purba merekam cara mereka memahami dunia, membangun relasi dengan alam dan hewan, serta mengembangkan teknologi dan sistem sosial.

Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai lokasi seni cadas tertua di dunia, tetapi juga sebagai ruang penting narasi panjang peradaban manusia di kawasan Asia–Pasifik.

**Stensil Jari Sempit yang Misterius**

Di sisi lain, arkeolog Griffith University, Prof. Maxime Aubert, menekankan bahwa temuan stensil cap tangan berusia 67.800 tahun ini juga istimewa dari sisi gaya visual. Menurutnya, ini bukan cap tangan biasa.

“Ini adalah jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Kami menyebutnya stensil jari sempit,” ungkap Maxime.

Ciri khasnya terletak pada bentuk jari yang tampak runcing dan memanjang. Teknik pembuatannya hingga kini masih menjadi misteri. Para peneliti belum dapat memastikan apakah manusia purba sengaja memodifikasi bentuk tangan mereka, atau menggerakkan jari saat meniup pigmen ke permukaan dinding gua.

“Yang jelas, ini menunjukkan pemikiran yang lebih maju. Bahkan kami menduga bentuknya mungkin terinspirasi dari cakar hewan, meski maknanya belum bisa dipastikan,” kata Maxime.

Menariknya, gaya visual serupa juga ditemukan pada lukisan berusia sekitar 20 ribu tahun di Sulawesi, menandakan bahwa tradisi simbolik ini bertahan sangat lama lintas generasi.

**Kolaborasi Internasional Berbuah Manis**

Kepala Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Marlon Nicolay Ramon Ririmasse, menjelaskan bahwa publikasi di jurnal Nature ini merupakan hasil kolaborasi riset jangka panjang antara BRIN dan Griffith University, Australia.

Kolaborasi multi-tahun tersebut telah menghasilkan sedikitnya 12 publikasi ilmiah internasional di berbagai jurnal bereputasi. Selain itu, hasil riset juga dimanfaatkan dalam pengembangan museum dan platform budaya global, termasuk sebagai materi untuk Museum George Lucas di Amerika Serikat melalui kerja sama dengan Google Arts & Culture.

Tak hanya berorientasi pada temuan ilmiah, riset ini juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui pendanaan pendidikan doktoral. Ke depan, BRIN bersama mitra internasional dan pemerintah daerah berencana melanjutkan penelitian di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua guna memperkaya narasi prasejarah Indonesia.

Penemuan di Leang Metanduno sekali lagi menegaskan bahwa dinding-dinding gua di Nusantara bukan sekadar batu bisu, melainkan halaman awal sejarah manusia yang masih terus dibaca dan dipahami hingga hari ini.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Aku Senang Ada: Manusia dan Hewan

Ensiklopedia Aku Ingin Tahu: Dunia Hewan

Ensiklopedia Saintis Junior: Hewan