Kehidupan di kota kerap identik dengan hiruk-pikuk, kepadatan, dan tekanan. Jalan beton, deretan gedung tinggi, serta lalu lintas padat menjadi pemandangan sehari-hari. Di tengah kondisi tersebut, ruang hijau sering dianggap sebagai oase yang memberikan ketenangan sekaligus manfaat kesehatan.
Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa tidak semua ruang hijau memberikan dampak yang sama bagi kesehatan jantung. Pepohonan, khususnya, ternyata memiliki peran jauh lebih besar dibandingkan rumput atau tanaman rendah lainnya dalam melindungi sistem kardiovaskular.
**Riset Berskala Besar Ungkap Perbedaan Dampak**
Sebuah penelitian skala besar yang dipimpin oleh University of California, Davis, meneliti hubungan antara jenis vegetasi di lingkungan perkotaan dengan risiko penyakit kardiovaskular. Penyakit ini mencakup berbagai kondisi serius seperti serangan jantung, stroke, gagal jantung, hingga pembekuan darah.
Hasilnya cukup mengejutkan. Lingkungan perkotaan dengan tutupan pohon yang lebih tinggi menunjukkan penurunan risiko penyakit kardiovaskular hingga 4 persen. Sebaliknya, area yang didominasi rumput justru mengalami peningkatan risiko sebesar 6 persen. Tanaman semak dan perdu pun dikaitkan dengan kenaikan risiko sekitar 3 persen.
Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan ruang hijau saja tidak cukup. Jenis vegetasi menjadi faktor penentu utama.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat seharusnya memprioritaskan pelestarian dan penanaman kanopi pohon di lingkungan permukiman,” ujar Peter James, profesor madya di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat.
**Mekanisme Perlindungan Pohon**
Manfaat pepohonan bagi kesehatan jantung bekerja melalui berbagai jalur biologis dan lingkungan. Pertama, pohon membantu menyaring polusi udara dengan menangkap partikel berbahaya di daun dan kulit batangnya. Udara yang lebih bersih mengurangi beban pada pembuluh darah dan jantung.
Kedua, pepohonan mampu meredam kebisingan lalu lintas. Paparan suara bising yang terus-menerus diketahui dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga pengurangan kebisingan berkontribusi langsung pada kesehatan kardiovaskular.
Selain itu, bayangan dari kanopi pohon menurunkan suhu lingkungan. Suhu yang lebih sejuk mengurangi stres panas, kondisi yang dapat membebani kerja jantung, terutama di kawasan perkotaan yang rawan efek panas.
Dari sisi psikologis, pemandangan jalan yang dipenuhi pepohonan terbukti meningkatkan suasana hati dan menurunkan tingkat stres. Lingkungan yang lebih tenang membantu menjaga ritme jantung dan keseimbangan hormon.
Tak kalah penting, jalan yang rindang mendorong orang untuk berjalan kaki dan beraktivitas di luar ruangan. Kombinasi udara sejuk, rasa aman, dan kenyamanan meningkatkan aktivitas fisik serta interaksi sosial—dua faktor penting dalam menjaga kesehatan jantung jangka panjang.
**Alasan Rumput Tidak Memberikan Manfaat Serupa**
Meski sama-sama hijau, rumput tidak menawarkan perlindungan yang setara dengan pepohonan. Perawatan rumput, seperti pemotongan rutin, justru menghasilkan polusi udara tambahan. Selain itu, penggunaan pestisida dan bahan kimia dalam perawatan taman rumput dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.
Rumput juga hampir tidak memberikan keteduhan. Tanpa bayangan, panas mudah terperangkap, terutama di area perkotaan. Dibandingkan kanopi pohon, rumput dan semak menyerap lebih sedikit polusi udara dan kebisingan.
Para peneliti juga mencatat bahwa area dengan hamparan rumput luas sering kali mencerminkan desain kota yang menyebar (urban sprawl). Pola ini cenderung mengurangi keterjangkauan berjalan kaki dan meningkatkan ketergantungan pada kendaraan bermotor—dua hal yang berdampak negatif pada kesehatan jantung.
**Metodologi Inovatif dengan Gambar Jalan**
Menariknya, penelitian ini tidak mengandalkan citra satelit, melainkan gambar tingkat jalan. Jika citra satelit melihat kota dari atas dan menyamaratakan semua tanaman, gambar jalan menampilkan ruang hijau dari sudut pandang manusia sehari-hari.
Lebih dari 350 juta gambar jalan dari berbagai wilayah di Amerika Serikat dianalisis menggunakan teknologi deep learning dan machine learning. Sistem komputer menghitung seberapa besar proporsi pohon, rumput, dan tanaman lain yang terlihat.
Data kesehatan diambil dari hampir 89.000 perempuan yang tergabung dalam Nurses’ Health Study, dengan catatan medis yang dipantau selama 18 tahun. Lingkungan hijau dalam radius sekitar 500 meter dari rumah masing-masing peserta kemudian dikaitkan dengan hasil kesehatan jangka panjang.
**Konsistensi di Berbagai Kondisi**
Manfaat pepohonan terhadap kesehatan jantung muncul secara konsisten di berbagai wilayah, tingkat pendapatan, kepadatan penduduk, dan tingkat polusi udara. Faktor ekonomi lingkungan tidak menjelaskan hasil tersebut.
Para peneliti juga menguji banyak kemungkinan lain, mulai dari aktivitas fisik, pola makan, depresi, hingga keterlibatan sosial. Tidak ada satu faktor tunggal yang sepenuhnya menjelaskan hubungan ini. Kemungkinan besar, berbagai efek kecil bekerja bersama dalam jangka panjang.
Meski kuat, penelitian ini memiliki keterbatasan. Seluruh peserta adalah perempuan dan mayoritas berkulit putih, sehingga hasilnya mungkin berbeda pada kelompok populasi lain. Alamat rumah juga tidak mencerminkan waktu yang dihabiskan di tempat kerja atau lokasi lain, dan gambar jalan hanya menangkap ruang publik, bukan taman pribadi.
Namun, durasi pemantauan yang panjang dan analisis mendalam membuat bukti yang dihasilkan tetap solid.
“Penelitian ini membuka jalan baru yang menjanjikan: meningkatkan kesehatan jantung melalui perubahan lingkungan di tingkat komunitas, bukan hanya mengandalkan pilihan gaya hidup individu,” kata Eric B. Rimm, profesor kedokteran di Harvard Medical School.
**Implikasi bagi Perencanaan Kota**
Bagi perencana kota, pesan penelitian ini sangat jelas. Penanaman pohon bukan sekadar soal estetika. Pepohonan membantu melindungi kesehatan jantung dengan
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara