Banjir dan kekeringan selama ini dipahami sebagai dua bencana yang bertolak belakang. Banjir diasosiasikan dengan hujan berlebih, sementara kekeringan dianggap sebagai akibat kemarau panjang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pemisahan sederhana ini semakin tidak relevan.
Perubahan iklim dan rapuhnya tata kelola air membuat bencana hidrometeorologi hadir secara berantai. Banjir ekstrem tidak lagi menjadi akhir dari sebuah krisis, tetapi justru dapat menjadi awal dari kekeringan berikutnya.
Fenomena ini mulai terlihat di berbagai kota di Indonesia, termasuk Kota Padang.
**Kasus Padang: Dari Kota Basah Menjadi Kekurangan Air**
Sebagai kota dengan curah hujan tinggi, Padang selama ini jarang dipersepsikan sebagai wilayah rawan kekeringan. Namun setelah mengalami banjir besar dan banjir bandang pada akhir 2025, krisis air bersih justru muncul hanya dalam hitungan hari ketika hujan berhenti.
Sumur warga mengering, debit sungai menurun, dan pasokan air terganggu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekeringan tidak selalu berakar pada absennya hujan, melainkan pada rusaknya sistem air yang seharusnya menyimpan dan mengelola air secara berkelanjutan.
Kota Padang memberikan ilustrasi yang sangat jelas tentang paradoks tersebut. Sebagai kota pesisir di wilayah dengan curah hujan tinggi, Padang jarang dibayangkan sebagai daerah rawan kekeringan. Namun pada awal 2026, krisis air bersih muncul hanya setelah hujan berhenti sekitar beberapa hari.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin kota basah bisa kehabisan air dalam waktu sesingkat itu?
**Dampak Tersembunyi Banjir Bandang**
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi sebelumnya. Banjir besar dan banjir bandang yang melanda Padang pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik yang kasat mata, tetapi juga meninggalkan dampak laten pada sistem air kota.
Bendung dan intake air tertimbun sedimen, saluran irigasi dan sungai mengalami pendangkalan, alur sungai berubah, serta kawasan resapan air di hulu terdegradasi. Air hujan yang turun setelah bencana tersebut tidak lagi berfungsi sebagai cadangan, melainkan langsung mengalir cepat ke laut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Padang sedang mengalami kekeringan hidrologis, bukan sekadar kekeringan meteorologis. Sungai, mata air, dan air tanah dangkal tidak lagi mampu menopang kebutuhan air bersih masyarakat.
Dalam sistem yang rapuh seperti ini, jeda hujan yang singkat pun cukup untuk memicu krisis. Kekeringan menjadi cepat, tiba-tiba, dan terasa luas.
**Perubahan Iklim Memperburuk Situasi**
Fenomena ini semakin diperparah oleh perubahan iklim. Pola hujan menjadi semakin ekstrem dan tidak merata. Hujan lebat turun dalam waktu singkat, diselingi periode tanpa hujan yang tidak terlalu lama, tetapi berdampak besar.
Dalam kondisi sistem air yang sehat, variasi ini masih dapat diserap. Namun dalam sistem yang rusak, fluktuasi kecil sekalipun langsung menimbulkan krisis.
**Akar Masalah Tata Kelola Air**
Kasus Padang memperlihatkan bahwa masalah utama bukan terletak pada berkurangnya hujan semata, melainkan pada ketiadaan daya simpan air. Kota terlalu bergantung pada aliran sesaat, tanpa cadangan yang memadai.
Daerah aliran sungai tidak dikelola sebagai sistem ekologis yang utuh, melainkan diperlakukan sebagai ruang bebas aktivitas. Tata ruang perkotaan berjalan sendiri, terpisah dari pertimbangan risiko hidrometeorologi.
Kekeringan yang terjadi seharusnya dibaca sebagai cermin tata kelola air perkotaan. Ia mengungkap lemahnya perlindungan kawasan hulu, buruknya integrasi kebijakan air dengan perencanaan ruang, serta ketergantungan berlebihan pada infrastruktur yang tidak dirancang untuk menghadapi bencana berulang.
Selama ini, air sering dipandang sebagai urusan teknis, bukan sebagai fondasi ketahanan kota.
**Pelajaran untuk Kota Lain**
Pengalaman Padang memberi pelajaran penting bagi kota-kota lain di Indonesia. Bencana hidrometeorologi kini hadir secara berantai. Banjir ekstrem tidak menutup kemungkinan melahirkan kekeringan ekstrem di waktu berikutnya.
Jika kekeringan terus dipahami sebagai sekadar persoalan musim, maka respons yang lahir akan selalu bersifat darurat dan sementara.
Ketika kota basah seperti Padang bisa kehabisan air hanya karena hujan berhenti beberapa hari, itu bukan sekadar ironi. Itu adalah peringatan keras bahwa tata kelola air kita sedang bermasalah, dan perubahan cara pandang tidak bisa lagi ditunda.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: