Selama puluhan tahun, Jupiter dikenal sebagai raksasa tata surya dengan ukuran yang nyaris “pasti”: terbesar, masif, dan mendominasi. Namun temuan terbaru dari misi Juno milik NASA menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang ukuran dan bentuk Jupiter perlu sedikit direvisi. Planet gas raksasa ini ternyata lebih kecil dan lebih “gepeng” dibandingkan estimasi yang selama ini digunakan para ilmuwan.
Temuan ini berasal dari analisis data presisi tinggi yang dikumpulkan wahana antariksa Juno saat mengelilingi Jupiter. Dengan teknik pengukuran yang jauh lebih canggih dibandingkan misi-misi era 1970-an, para peneliti kini mampu memetakan bentuk Jupiter dengan tingkat ketidakpastian yang turun hingga satu orde magnitudo—atau sekitar sepuluh kali lebih akurat.
**Bentuk Planet yang Tidak Sempurna**
Secara bentuk, Jupiter bukanlah bola sempurna. Planet ini termasuk oblate spheroid, yakni sedikit pipih di kutub dan mengembung di bagian khatulistiwa. Penyebabnya adalah rotasi Jupiter yang sangat cepat—satu hari di Jupiter hanya sekitar 9 jam 55 menit.
Menurut Dr. Eli Galanti dari Weizmann Institute of Science dan timnya, bentuk ini merupakan hasil keseimbangan dua gaya utama: gravitasi yang menarik massa ke pusat planet dan gaya sentrifugal akibat rotasi yang mendorong materi ke arah luar.
Pada Jupiter, efek rotasi ini sangat kuat sehingga jari-jari khatulistiwa sekitar 7 persen lebih besar dibandingkan jari-jari kutubnya. Jika Jupiter memiliki kepadatan yang seragam, bentuknya akan menyerupai elipsoid yang “rapi”. Namun kenyataannya jauh lebih kompleks.
**Interior yang Bervariasi**
Kepadatan interior Jupiter berubah drastis dari lapisan awan hingga ke bagian dalam yang sangat dalam. Di tingkat awan, pada tekanan sekitar 1 bar, kepadatannya kurang dari 1 kilogram per meter kubik. Namun semakin ke dalam, kepadatan ini melonjak hingga ribuan kilogram per meter kubik.
Perbedaan ekstrem ini membuat bentuk Jupiter menyimpang dari elipsoid ideal hingga puluhan kilometer. Penyimpangan tersebut tercermin dalam variasi medan gravitasi Jupiter di berbagai lintang.
Belum lagi faktor lain yang ikut “mengubah” bentuk planet ini: angin zonal. Jupiter terkenal dengan sistem angin zonalnya yang sangat kuat dan persisten. Angin-angin ini, yang bergerak sejajar garis lintang, tidak hanya memengaruhi tampilan awan, tetapi juga turut memodifikasi gaya sentrifugal planet.
Hasilnya, muncul variasi tambahan pada bentuk Jupiter hingga sekitar 10 kilometer, terutama di wilayah lintang rendah. Faktor ini sebelumnya belum sepenuhnya diperhitungkan dalam pengukuran dimensi Jupiter.
**Teknologi Pengukuran Canggih**
Selama ini, ukuran fisik Jupiter didasarkan pada enam eksperimen radio occultation dari misi Pioneer dan Voyager NASA pada 1970-an. Kini, Juno menghadirkan lompatan besar. Dalam studi terbaru, para peneliti menganalisis data radio occultation dari 13 lintasan dekat Juno di sekitar Jupiter.
Teknik ini memungkinkan ilmuwan “melihat” menembus awan tebal Jupiter yang opak. Caranya, Juno mengirimkan sinyal radio ke Bumi melalui jaringan Deep Space Network NASA. Saat sinyal tersebut melewati ionosfer Jupiter—lapisan atmosfer atas yang bermuatan listrik—gelombang radio akan dibelokkan dan diperlambat oleh gas-gas di atmosfer.
Dari perubahan frekuensi sinyal ini, para ilmuwan dapat menghitung suhu, tekanan, serta kerapatan elektron di berbagai kedalaman atmosfer Jupiter. Informasi inilah yang menjadi kunci untuk menentukan bentuk planet dengan sangat presisi.
**Dimensi Baru Jupiter**
Hasilnya cukup mengejutkan. Jupiter ternyata sekitar 8 kilometer lebih sempit di daerah khatulistiwa dan 24 kilometer lebih pipih di wilayah kutub dibandingkan estimasi sebelumnya. Pada tingkat tekanan 1 bar, tim peneliti menemukan:
– Jari-jari kutub: 66.842 km
– Jari-jari khatulistiwa: 71.488 km
– Jari-jari rata-rata: 69.886 km
Angka-angka ini masing-masing 12 km, 4 km, dan 8 km lebih kecil dari nilai yang selama ini digunakan berdasarkan data Pioneer dan Voyager.
Dengan memasukkan pengaruh angin zonal, ketidakpastian pengukuran bentuk Jupiter berhasil ditekan secara signifikan, menjadikan hasil ini sebagai standar baru dalam pemahaman kita tentang planet terbesar di tata surya.
**Implikasi Ilmiah yang Luas**
Meski selisihnya “hanya” beberapa kilometer, temuan ini sangat penting bagi ilmu planet. Bentuk Jupiter berkaitan langsung dengan struktur internal, distribusi massa, hingga evolusi planet raksasa gas. Data yang lebih akurat membantu ilmuwan menyempurnakan model pembentukan planet, tidak hanya untuk Jupiter, tetapi juga untuk planet raksasa di sistem bintang lain.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy, menegaskan kembali peran misi Juno sebagai salah satu sumber pengetahuan terpenting tentang Jupiter—planet yang ternyata masih menyimpan banyak kejutan.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: