Lalat Lentera Tutul Menginvasi AS, Setelah Berevolusi di China

Invasi spotted lanternfly atau lalat lentera tutul di Amerika Serikat berlangsung cepat dan semakin mengkhawatirkan. Serangga invasif ini kini telah menyebar ke hampir 20 negara bagian di wilayah timur AS. Namun pertanyaan besarnya adalah: mengapa spesies ini begitu cepat beradaptasi dan sulit dikendalikan?

Penelitian terbaru memberikan petunjuk penting. Jawabannya mungkin berawal jauh sebelum serangga ini tiba di Amerika—tepatnya di kota-kota besar di China.

**Lingkungan Urban sebagai Laboratorium Evolusi**

Menurut riset yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, kota-kota besar ternyata bisa berperan sebagai “inkubator evolusi” bagi spesies invasif. Lingkungan perkotaan dengan suhu tinggi, polusi, dan paparan bahan kimia seperti pestisida mendorong organisme tertentu untuk berevolusi lebih cepat agar mampu bertahan.

“Kota dapat membantu spesies invasif mengembangkan ketahanan terhadap tekanan seperti panas dan pestisida, yang kemudian memudahkan mereka beradaptasi di lingkungan baru,” ujar Fallon (Fang) Meng, ahli biologi dari New York University dan penulis utama studi ini.

**Perjalanan dari China ke Amerika**

Spotted lanternfly (Lycorma delicatula) merupakan serangga pengisap cairan tumbuhan yang berasal dari China. Dengan mulutnya yang panjang, serangga sejenis wereng ini menghisap getah tanaman inang. Dari China, spesies ini menyebar ke Korea Selatan dan Jepang, sebelum akhirnya terdeteksi di Amerika Serikat pada 2014 di Pennsylvania.

Dalam satu dekade, penyebarannya melonjak drastis. Saat ini, lalat lentera tutul telah ditemukan di 19 negara bagian AS, menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Tanaman favorit spotted lanternfly adalah tree of heaven (Ailanthus altissima), yang ironisnya juga merupakan spesies invasif. Namun serangga ini tidak pilih-pilih. Ia juga menyerang tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti anggur, hop, maple, pohon buah, dan kayu keras.

**Kerusakan Ekonomi dan Lingkungan**

Akibat serangan tersebut, tanaman menjadi lemah. Tak hanya itu, spotted lanternfly juga menghasilkan cairan lengket kaya gula yang memicu pertumbuhan jamur jelaga. Cairan ini bahkan dapat memengaruhi lebah.

Ketika lebah mengumpulkan cairan tersebut alih-alih nektar bunga, madu yang dihasilkan beraroma asap dan memiliki rasa pahit—meski tetap aman dikonsumsi.

Dampak ekonominya sangat besar. Sebuah studi pada 2019 memperkirakan bahwa kerugian akibat spotted lanternfly di Pennsylvania saja bisa mencapai 324 juta dolar AS per tahun jika tidak dikendalikan.

**Perbedaan Genetik Kota vs Desa**

Untuk memahami kemampuan adaptasi serangga ini, para peneliti menganalisis genom spotted lanternfly dari wilayah perkotaan dan pedesaan di Shanghai, serta dari New York City, Connecticut, dan New Jersey.

Hasilnya mencengangkan. Di China, populasi yang hidup di kota dan desa menunjukkan perbedaan genetik yang sangat jelas, meskipun jaraknya hanya sekitar 30 kilometer.

Hal ini terjadi karena meskipun dapat terbang, spotted lanternfly harus terus makan, sehingga cenderung menetap di sekitar tanaman inangnya. Akibatnya, populasi perkotaan di Shanghai berevolusi secara terpisah dan mengembangkan ketahanan genetik terhadap panas, polusi, serta kemampuan detoksifikasi racun dan pestisida—kemampuan yang tidak dimiliki populasi pedesaan.

**Gen “Juara” Dibawa ke Amerika**

Berbeda dengan China, populasi spotted lanternfly di Amerika Serikat secara genetik sangat mirip satu sama lain, meskipun jaraknya bisa mencapai 200 kilometer. Ini menandakan bahwa hanya sebagian kecil individu yang menjadi “pendiri” populasi di AS, tetapi mereka membawa gen-gen unggul hasil adaptasi di kota-kota China.

Model demografi genetik menunjukkan adanya tiga penyempitan populasi (genetic bottleneck) penting:

– Lebih dari 170 tahun lalu, saat urbanisasi besar-besaran terjadi di Shanghai
– Tahun 2004, ketika spotted lanternfly menyebar ke Korea Selatan
– Tahun 2014, saat serangga ini tiba di Pennsylvania, kemungkinan menumpang barang impor

Adaptasi di kota-kota China tampaknya telah “melatih” spotted lanternfly untuk bertahan di lingkungan panas, tercemar, dan penuh tekanan—kondisi yang juga banyak ditemukan di kota-kota Amerika.

**Strategi Pengendalian Baru**

Menurut Zach Ladin, ahli ekologi dari University of Delaware yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kemampuan genetik untuk menghadapi racun kemungkinan besar membantu spotted lanternfly beralih ke tanaman inang lain, mempercepat penyebarannya di AS.

Namun di sisi lain, informasi genetik ini juga membuka peluang baru. “Kini kita tahu gen mana yang berperan dalam ketahanan terhadap bahan kimia. Ini penting agar pengendalian tidak justru memicu resistansi baru,” jelas Ladin.

Penelitian ini menegaskan bahwa urbanisasi dan invasi spesies asing saling berkaitan erat. Kota bukan sekadar tempat penyebaran, tetapi juga arena evolusi yang membentuk makhluk hidup menjadi lebih tangguh.

“Kita perlu mempelajari spesies invasif dan urbanisasi sebagai satu kesatuan,” kata Meng. “Jika dipisahkan, kita akan kehilangan gambaran besar tentang bagaimana keduanya saling memperkuat dampaknya—sering kali dengan cara yang mengejutkan.”


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo Seranggapedia

Lentera Batukaru