Babi Fukushima Berubah Cepat Secara Genetik Setelah Bencana Nuklir

Setelah bencana nuklir Fukushima pada 2011, wilayah yang ditinggalkan manusia berubah menjadi laboratorium alam tak terduga. Di tengah ladang dan hutan yang kosong, babi domestik yang lepas dari peternakan kawin silang dengan babi hutan liar.

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, sebuah studi genetika mengungkap fakta mengejutkan: garis keturunan induk babi domestik justru mempercepat perputaran generasi dan mempercepat “pengenceran” gen babi dalam populasi babi hutan.

Temuan ini tidak hanya penting untuk memahami dampak ekologis pasca kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi, tetapi juga memberi wawasan baru tentang mekanisme hibridisasi antara babi liar dan babi hutan di berbagai belahan dunia.

**Eksperimen Alam yang Unik**

Hibridisasi antara hewan domestik dan satwa liar menjadi perhatian global, terutama karena populasi babi liar dan babi hutan semakin sering tumpang tindih. Selama ini, kawin silang tersebut kerap dikaitkan dengan ledakan populasi dan kerusakan ekosistem. Namun, mekanisme biologis yang mendasarinya masih belum sepenuhnya dipahami.

Kecelakaan nuklir Fukushima membuka peluang penelitian yang sangat jarang terjadi. Setelah evakuasi besar-besaran, aktivitas manusia praktis berhenti. Babi domestik yang terlepas dari kandang menyebar ke lahan pertanian dan hutan yang ditinggalkan, lalu kawin silang dengan babi hutan setempat.

Berbeda dari kasus lain yang melibatkan pelepasan berulang atau campur tangan manusia, di Fukushima hampir tidak ada intervensi lanjutan. Situasi ini menciptakan “eksperimen alam” yang bersih dan terisolasi untuk mengamati bagaimana hibridisasi berkembang dari waktu ke waktu.

**Penelitian Genetika Terbaru**

Penelitian yang dipimpin Profesor Shingo Kaneko bersama Dr. Donovan Anderson dari Hirosaki University ini dipublikasikan di Journal of Forest Research pada 22 Januari 2026. Alih-alih memperpanjang dominasi gen babi domestik dalam populasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa garis keturunan induk babi domestik justru mempercepat perputaran generasi.

Artinya, gen babi domestik di tingkat inti lebih cepat “diencerkan” melalui perkawinan berulang dengan babi hutan.

“Studi ini menunjukkan—melalui analisis peristiwa hibridisasi skala besar setelah kecelakaan nuklir Fukushima—bahwa siklus reproduksi cepat pada babi domestik diwariskan melalui garis maternal,” jelas Prof. Kaneko.

**Pola Reproduksi sebagai Faktor Kunci**

Perbedaan mendasar antara babi domestik dan babi hutan terletak pada pola reproduksinya. Babi domestik berkembang biak cepat dan sepanjang tahun, sedangkan babi hutan umumnya hanya bereproduksi sekali dalam setahun.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sifat reproduksi cepat tersebut tetap bertahan setelah babi domestik lepas ke alam liar. Lebih penting lagi, sifat ini diwariskan melalui garis keturunan induk (maternal lineage).

Untuk mengungkap mekanisme ini, tim peneliti menganalisis DNA mitokondria—yang diwariskan dari induk betina—serta penanda genetik nuklir dari 191 babi hutan dan 10 babi domestik yang dikumpulkan antara 2015 hingga 2018.

Melalui model genetika populasi, mereka memperkirakan berapa generasi telah berlalu sejak kawin silang pertama terjadi dan seberapa besar sisa “jejak” gen babi domestik dalam populasi saat ini.

“Kami menduga bahwa sifat unik babi domestik, yaitu siklus reproduksi cepat sepanjang tahun, menjadi kunci,” kata Dr. Anderson.

**Hasil yang Berlawanan dengan Dugaan**

Hasilnya justru berlawanan dengan dugaan awal banyak pihak. Babi hutan yang membawa DNA mitokondria dari babi domestik ternyata memiliki proporsi gen inti babi yang jauh lebih rendah dibandingkan hibrida yang berasal dari garis induk babi hutan.

Banyak individu dengan garis induk babi domestik sudah lebih dari lima generasi terpisah dari persilangan awal. Ini menunjukkan bahwa perputaran generasi terjadi sangat cepat.

Dengan kata lain, sifat reproduksi cepat membuat populasi berkembang lebih pesat, tetapi sekaligus mempercepat proses kawin balik (backcrossing) dengan babi hutan murni. Akibatnya, gen babi domestik di tingkat inti cepat “tercerai-berai” dalam populasi.

**Kondisi Khusus Fukushima**

Prof. Kaneko menekankan bahwa kondisi Fukushima memang unik. Hilangnya aktivitas manusia secara mendadak memungkinkan populasi babi hutan berkembang tanpa gangguan. Lingkungan yang kosong memberi ruang ekspansi besar-besaran.

Di saat yang sama, warisan sifat reproduksi cepat dari induk babi domestik mempercepat proses introgresi genetik.

Namun, temuan ini diyakini tidak terbatas pada Fukushima saja. “Kami ingin menekankan bahwa mekanisme ini kemungkinan juga terjadi di wilayah lain di dunia, tempat babi liar dan babi hutan saling kawin silang,” ujar Dr. Anderson.

**Implikasi untuk Pengendalian Spesies Invasif**

Penelitian ini bukan hanya memperkaya pemahaman dasar tentang biologi satwa liar dan genetika populasi. Temuannya juga memiliki implikasi praktis yang signifikan.

Menurut Prof. Kaneko, pemahaman bahwa garis keturunan induk babi mempercepat perputaran generasi dapat membantu otoritas memperkirakan risiko ledakan populasi lebih akurat. Artinya, strategi pengendalian spesies invasif bisa menjadi lebih terarah, misalnya dengan memprioritaskan pengendalian individu hibrida dengan latar belakang genetik tertentu.

Di banyak negara, populasi babi liar terus meluas dan menjadi ancaman bagi pertanian, keanekaragaman hayati, serta kesehatan hewan ternak. Mengetahui bagaimana garis maternal membentuk perubahan genetik dalam populasi dapat menjadi alat penting dalam konservasi dan manajemen satwa liar di masa depan.

**Pelajaran dari Bencana**

Bencana Fukushima memang menyisakan luka mendalam. Namun, dari wilayah yang sunyi itu, para ilmuwan mendapatkan pelajaran berharga tentang bagaimana genetika, reproduksi, dan lingkungan berinteraksi secara kompleks.

Kisah hibrida babi dan babi hutan ini menunjukkan bahwa evolusi dapat bergerak cepat—terutama ketika alam dibiarkan berjalan tanpa campur tangan manusia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Hikayat si Induk Bumbu

Evolusi Reproduksi Manusia