Mengapa Nenek Moyang Kita Punya Gigi Rapi Tanpa Behel?

Setiap tahun, jutaan anak dan remaja menjalani “ritual” tumbuh dewasa: memakai behel. Bahkan, menurut data Cleveland Clinic, sekitar 20% pasien ortodonti baru berusia di atas 18 tahun. Artinya, kawat gigi bukan lagi urusan anak-anak saja.

Behel—baik model logam klasik, keramik yang lebih samar, maupun aligner transparan—membantu mengatasi berbagai masalah gigi: berjejal, renggang, tonggos (overbite), gigitan terbalik (underbite), hingga crossbite. Diperkirakan hingga 93% anak dan remaja memiliki bentuk gigitan yang tidak ideal dan berpotensi membutuhkan perawatan ortodonti.

Namun, muncul satu pertanyaan menarik: mengapa manusia purba atau nenek moyang kita tampak memiliki gigi yang lebih rapi, padahal belum ada behel?

Jawabannya ternyata bukan soal estetika atau ketahanan terhadap rasa sakit. Ini adalah contoh klasik dari apa yang disebut ilmuwan sebagai evolutionary mismatch—ketidaksesuaian antara tubuh kita yang berevolusi ribuan tahun lalu dengan gaya hidup modern yang berubah sangat cepat.

**Rahang Besar Masa Lalu vs Rahang Kecil Era Modern**

Peter Ungar, antropolog biologi dan ahli evolusi dari University of Arkansas, memberi analogi menarik. Rumah-rumah lama dulu memiliki kusen pintu yang lebih pendek dan kecil. Bukan karena manusia dulu lebih pendek secara genetik, melainkan karena asupan nutrisi tidak cukup untuk mencapai tinggi maksimal.

Pada rahang manusia, ceritanya justru terbalik. Sebelum pertanian dan makanan olahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, manusia harus mengunyah makanan yang jauh lebih keras: daging liar, umbi-umbian berserat, kacang-kacangan mentah.

Aktivitas mengunyah yang intens ini memberikan “latihan” berat bagi rahang atas (maksila) dan rahang bawah (mandibula). Tekanan kunyahan tersebut merangsang sel pembentuk tulang (osteoblas) untuk memperbesar dan memperkuat rahang—baik dalam ketebalan, tinggi, maupun panjangnya.

**Ukuran Gigi Tidak Berubah, Rahang Mengecil**

Singkatnya: semakin keras kita mengunyah, semakin besar dan kuat rahang kita berkembang. Sebaliknya, ukuran gigi tidak bisa “dilatih”. Gigi terbentuk berdasarkan cetak biru genetik—ukuran email, dentin, dan struktur di dalamnya sudah ditentukan sejak awal.

Masalahnya, evolusi tidak sempat memperbarui ukuran gigi ketika gaya hidup kita berubah drastis.

Anak-anak modern tumbuh dengan makanan yang jauh lebih lunak: bubur, nasi lembek, roti empuk, saus apel, makanan olahan, dan sebagainya. Rahang mereka tidak lagi mendapatkan “latihan” berat seperti yang dialami nenek moyang pemburu-pengumpul.

Akibatnya, rahang berkembang lebih kecil. Namun ukuran gigi tetap sama seperti nenek moyang kita yang memiliki rahang besar.

**Dampak Ketidaksesuaian Evolusi**

Ketika gigi permanen tumbuh, ruang di dalam mulut tidak lagi cukup. Inilah yang menyebabkan:

– Gigi berjejal
– Gigi tonggos
– Overbite atau underbite
– Gigi tumbuh tidak beraturan
– Gigi bungsu tidak tumbuh sempurna atau harus dicabut

Bahkan, menurut Ungar, rahang yang relatif lebih kecil juga berkaitan dengan meningkatnya kasus sleep apnea. Ketika ruang dalam mulut menyempit, lidah tidak memiliki cukup ruang dan dapat mengganggu jalur pernapasan saat tidur.

Dengan kata lain, masalah gigi modern bukan semata-mata kosmetik—melainkan efek samping perubahan pola makan dan gaya hidup.

**Nenek Moyang Bukan Sempurna**

Meski nenek moyang kita memiliki ruang cukup untuk semua gigi, bukan berarti senyum mereka seputih iklan pasta gigi. Roger Forshaw, pakar kesehatan gigi dari KNH Centre for Biomedical Egyptology di University of Manchester, menjelaskan bahwa manusia purba sudah berusaha menjaga kebersihan gigi mereka.

Mereka menggunakan kayu yang dikunyah, ranting, bulu burung, tulang hewan, dan serat tanaman. Bukti tertua tindakan perawatan gigi bahkan ditemukan sekitar 14.000 tahun lalu di Italia utara.

Catatan tentang gigi tidak sejajar juga ada pada era Yunani-Romawi, meski teknik penanganannya masih sangat sederhana dan sering kali menyakitkan.

**Perkembangan Teknologi Behel Modern**

Teknologi behel mulai berkembang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Awalnya, alat ortodonti digunakan bukan untuk alasan estetika, melainkan untuk memperbaiki fungsi kunyah dan mengurangi rasa sakit akibat susunan gigi parah.

Salah satu alat awal adalah Bandeau karya Pierre Fauchard—sebuah pita logam berbentuk tapal kuda yang perlahan memperluas lengkung gigi. Kemudian, sekitar tahun 1910, E.H. Angle memperkenalkan bracket logam yang menjadi cikal bakal behel modern.

Seiring berkembangnya ilmu tentang pergerakan gigi, perawatan ortodonti menjadi lebih efektif dan terprediksi. Kini, teknologi telah jauh berubah:

– Digital imaging
– Material yang lebih ringan dan nyaman
– Teknik yang minim rasa sakit
– Clear aligner yang nyaris tak terlihat

**Solusi Dimulai dari Masa Kanak-Kanak**

Dari sisi evolusi maupun medis modern, solusi terbaik terhadap rahang kecil sebenarnya dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun tentu saja, bukan berarti anak-anak harus mengunyah potongan daging besar hanya demi memperbesar rahang—risiko tersedak jelas lebih besar.

Sebagai gantinya, banyak ahli menyarankan evaluasi ortodonti pertama dilakukan sekitar usia 7 tahun.

**Evolusi Belum Mengejar Perubahan Zaman**

Intinya, gigi nenek moyang kita rapi tanpa behel bukan karena mereka lebih sehat atau lebih kuat menahan sakit. Mereka hidup dalam lingkungan yang “sesuai” dengan desain biologis tubuh mereka.

Kita hidup di era makanan lunak, cepat, dan praktis. Rahang mengecil, tetapi ukuran gigi tetap. Ketidaksesuaian inilah yang membuat behel menjadi bagian umum dari masa tumbuh kembang modern.

Jadi, jika Anda atau


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan