Upaya besar-besaran China menanam miliaran pohon di sekitar Gurun Taklamakan mulai menunjukkan hasil yang tak terduga. Gurun yang selama ini dijuluki sebagai “biological void” atau kehampaan biologis kini dilaporkan berubah menjadi penyerap karbon—wilayah yang menyerap lebih banyak karbon dioksida dari atmosfer dibandingkan yang dilepaskannya.
Temuan ini membuka peluang baru dalam upaya global melawan perubahan iklim sekaligus mengatasi desertifikasi atau penggurunan.
**Gurun Terbesar China yang Keras**
Gurun Taklamakan—juga ditulis Taklimakan atau Takla Makan—merupakan salah satu gurun terbesar dan terkering di dunia. Luasnya mencapai sekitar 337.000 kilometer persegi, sedikit lebih besar dari negara bagian Montana di Amerika Serikat.
Gurun ini dikelilingi pegunungan tinggi yang menghalangi masuknya udara lembap hampir sepanjang tahun. Akibatnya, wilayah ini memiliki kondisi sangat kering dan keras, sehingga sulit bagi sebagian besar tanaman untuk bertahan hidup.
Lebih dari 95% wilayahnya tertutup pasir yang terus bergeser, membuatnya lama dianggap sebagai “ruang kosong biologis”. Sejak 1950-an, wilayah gurun ini juga terus meluas. Urbanisasi dan ekspansi lahan pertanian di China saat itu mengubah bentang alam alami, memicu badai pasir yang semakin sering terjadi.
**Proyek Tembok Hijau Raksasa**
Pada 1978, pemerintah China meluncurkan proyek rekayasa ekologi ambisius bernama Three-North Shelterbelt Program, yang juga dikenal sebagai Great Green Wall atau Tembok Hijau Raksasa. Tujuannya jelas, yakni menghambat penyebaran gurun, mengurangi badai pasir, memulihkan ekosistem, dengan menanam miliaran pohon hingga tahun 2050.
Sejauh ini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam di wilayah utara China. Pada 2024, China mengumumkan bahwa vegetasi telah berhasil mengelilingi Gurun Taklamakan sepenuhnya.
Upaya ini tidak hanya membantu menstabilkan bukit pasir, tetapi juga meningkatkan tutupan hutan nasional China dari sekitar 10% pada 1949 menjadi lebih dari 25% saat ini. Meski efektivitasnya dalam mengurangi badai pasir masih diperdebatkan, dampaknya terhadap penyerapan karbon kini mulai terlihat.
**Bukti Ilmiah Transformasi Gurun**
Penelitian terbaru yang diterbitkan pada 19 Januari di jurnal PNAS menemukan bahwa vegetasi di tepi Gurun Taklamakan kini menyerap lebih banyak CO2 dibandingkan jumlah yang dilepaskan gurun tersebut. Artinya, kawasan ini berpotensi menjadi penyerap karbon yang stabil.
Yuk Yung, profesor ilmu planet dari Caltech dan ilmuwan senior di NASA Jet Propulsion Laboratory, menyatakan: “Untuk pertama kalinya, kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering paling ekstrem, menunjukkan kemungkinan mengubah gurun menjadi penyerap karbon dan menghentikan desertifikasi.”
**Metode Penelitian Komprehensif**
Para peneliti menganalisis data lapangan dari berbagai jenis tutupan vegetasi serta data satelit selama 25 tahun terakhir. Mereka juga mencermati informasi tentang curah hujan, tutupan tanaman, fotosintesis, dan aliran CO2, serta model global Carbon Tracker dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Hasilnya menunjukkan tren jangka panjang berupa perluasan vegetasi di tepi gurun, peningkatan aktivitas fotosintesis, dan peningkatan penyerapan CO2. Yang menarik, pola ini selaras secara waktu dan lokasi dengan proyek Great Green Wall.
**Peran Penting Curah Hujan**
Selama musim basah (Juli–September), curah hujan di Taklamakan tercatat 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan musim kering, dengan rata-rata sekitar 16 milimeter per bulan. Curah hujan ini meningkatkan kepadatan vegetasi, tingkat kehijauan, dan aktivitas fotosintesis.
Dampaknya terlihat pada kadar CO2 di atmosfer di atas gurun, yang turun dari 416 bagian per sejuta (ppm) pada musim kering menjadi 413 ppm pada musim basah. Penurunan ini menunjukkan adanya peningkatan penyerapan karbon oleh vegetasi di sekitar gurun.
**Lebih Stabil dari Penyimpanan Pasir**
Penelitian sebelumnya memang pernah menyebut Taklamakan sebagai penyerap karbon. Namun fokusnya pada pasir gurun yang menyerap CO2. Masalahnya, penyimpanan karbon dalam pasir tidak stabil. Saat suhu meningkat akibat perubahan iklim, udara dalam pasir mengembang dan dapat melepaskan kembali CO2 ke atmosfer.
Sebaliknya, vegetasi menawarkan sistem penyimpanan karbon yang lebih aktif dan berkelanjutan melalui proses fotosintesis.
Menurut Yung: “Berdasarkan hasil studi ini, Gurun Taklamakan—meskipun hanya di bagian tepinya—menjadi model pertama yang berhasil menunjukkan kemungkinan mengubah gurun menjadi penyerap karbon.”
**Potensi Replikasi Global**
Apakah Great Green Wall benar-benar mampu menghentikan desertifikasi dalam jangka panjang masih menjadi perdebatan ilmiah. Namun perannya sebagai penyerap karbon kini memberi harapan baru.
Jika pendekatan ini terbukti berkelanjutan, proyek serupa berpotensi diterapkan di wilayah gurun lain di dunia, seperti Sahara di Afrika, gurun di Timur Tengah, dan wilayah kering di Australia.
Transformasi Gurun Taklamakan menunjukkan bahwa rekayasa ekologi skala besar, bila dirancang dengan tepat dan dipantau secara ilmiah, dapat memberi dampak nyata terhadap krisis iklim.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buah Leluhur dari Pohon Kehidupan: Memanggil Pulang Sukun ke Nusantara