Penelitian terbaru mengungkap sistem magma di bawah Pavonis Mons, Mars, jauh lebih kompleks dan aktif dari yang diperkirakan.
Selama ini, letusan gunung api kerap dibayangkan sebagai satu peristiwa tunggal: magma naik ke permukaan, meletus, lalu selesai. Namun, penelitian terbaru tentang Mars menunjukkan gambaran yang jauh lebih rumit.
Di balik permukaan Planet Merah, sistem magma ternyata bisa bertahan lama, berevolusi, dan membentuk lanskap secara bertahap.
**Temuan Mengungkap Evolusi Vulkanik yang Bertahap**
Riset yang dipublikasikan pada 29 Januari 2026 di jurnal Geology ini mengungkap kompleksitas tersembunyi di bawah salah satu gunung api terbesar di Mars, Pavonis Mons. Temuan ini membuka wawasan baru tentang dinamika interior Mars dan bagaimana planet berbatu membangun serta mengubah permukaannya dari waktu ke waktu.
Penelitian ini dipimpin oleh Bartosz Pieterek dari Adam Mickiewicz University. Dengan menggabungkan pemetaan permukaan secara detail dan data mineral dari pengamatan orbit, tim peneliti berhasil merekonstruksi evolusi vulkanik dan magmatik di wilayah selatan Pavonis Mons dengan tingkat ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Apa yang tampak seperti satu sistem letusan sederhana ternyata menyimpan sejarah panjang aktivitas bawah tanah.
**Sistem Magma yang Berevolusi Seiring Waktu**
“Hasil kami menunjukkan bahwa bahkan pada periode vulkanik paling muda di Mars, sistem magma di bawah permukaan tetap aktif dan kompleks,” ujar Dr. Pieterek.
Ia menambahkan, “Gunung api itu tidak meletus hanya sekali — ia berevolusi seiring waktu ketika kondisi di bawah permukaan berubah.”
**Transformasi dari Retakan hingga Kerucut Vulkanik**
Studi ini menemukan bahwa sistem vulkanik di selatan Pavonis Mons berkembang melalui beberapa fase letusan. Pada tahap awal, lava keluar melalui rekahan panjang (fissure-fed eruptions) dan menyebar luas di permukaan.
Seiring waktu, aktivitas vulkanik berubah menjadi lebih terfokus pada satu titik (point-source activity), menghasilkan ventilasi berbentuk kerucut atau cone-forming vent.
Sekilas, aliran lava dari berbagai fase ini terlihat berbeda. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semuanya berasal dari sistem magma bawah tanah yang sama.
**Sidik Jari Mineral Ungkap Perubahan Magma**
Yang menarik, setiap fase letusan menyimpan “sidik jari” mineral yang berbeda. Variasi komposisi mineral ini menjadi petunjuk penting bagi ilmuwan untuk melacak bagaimana magma berubah dari waktu ke waktu.
“Perbedaan mineral ini memberi tahu kita bahwa magmanya sendiri berevolusi,” kata Dr. Pieterek. “Kemungkinan besar ini mencerminkan perubahan pada kedalaman asal magma dan berapa lama ia tersimpan di bawah permukaan sebelum akhirnya meletus.”
**Mengungkap Interior Mars Tanpa Sampel Fisik**
Berbeda dengan Bumi, para ilmuwan belum bisa mengambil sampel langsung dari gunung api di Mars. Karena itu, pengamatan dari orbit menjadi satu-satunya cara untuk memahami apa yang terjadi di dalam planet tersebut.
“Karena pengambilan sampel langsung gunung api Mars saat ini belum memungkinkan, studi seperti ini memberikan wawasan langka tentang struktur dan evolusi interior planet,” jelas Pieterek.
Temuan ini sekaligus menegaskan betapa kuatnya teknologi observasi orbital dalam mengungkap kompleksitas tersembunyi sistem vulkanik — bukan hanya di Mars, tetapi juga di planet berbatu lain di Tata Surya.
**Pandangan Baru tentang Dinamika Mars**
Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Mars pada periode paling akhir sekalipun tidak bersifat sederhana atau sesaat. Di bawah permukaan, sistem magmatik dapat bertahan lama, berubah secara kimiawi, dan memengaruhi bentuk permukaan secara bertahap.
Artinya, Mars bukanlah planet “mati” dengan sejarah geologi yang statis. Sebaliknya, ia pernah memiliki dinamika internal yang aktif dan kompleks, mirip dengan proses yang terjadi di Bumi.
Dengan semakin detailnya data orbital dan analisis mineral, para ilmuwan kini dapat “membaca” sejarah internal Mars hanya dari jejak yang tertinggal di permukaannya. Dan mungkin, dari sana, kita bisa lebih memahami bagaimana planet berbatu — termasuk Bumi — terbentuk, berevolusi, dan membangun lanskapnya selama miliaran tahun.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: