Denyut Jantung 115 Saat Duduk Diam: Momen yang Mengubah Hidup Igor Saykoji

Suatu hari, Igor Saykoji duduk santai tanpa melakukan aktivitas apa pun. Tiba-tiba smartwatch di pergelangan tangannya bergetar. Notifikasi itu berbunyi: “Your heart rate is 115, but you don’t seem to be moving. Are you okay?”

Igor terdiam. Dalam kondisi duduk diam, denyut jantungnya menyentuh 115 bpm. Ia mencoba mengukur ulang. Angkanya tetap naik—113, 114, 115, bahkan 117. Padahal ia tidak sedang berlari atau menaiki tangga.

“Heart rate itu jadi patokan bahwa ada sesuatu yang salah,” ujarnya dalam acara Evo SL: The Art Of Fast: When run meets art yang diadakan Adidas Indonesia di MBloc, Sabtu (14/2/2026).

**Peringatan dari Teknologi dan Hati Nurani**

Saat itu berat badannya pernah menyentuh 150 kilogram. Ia sadar ada masalah, tetapi seperti banyak orang lain, ia memilih menyangkal. Hingga teknologi—sebuah smartwatch—menyodorkan realita dalam bentuk angka yang tak bisa dibantah.

Namun, bukan hanya angka yang mengubahnya. Ada pikiran lain yang ikut menghantam kesadarannya: keluarga.

Anaknya tiga. Ia mulai membayangkan masa depan—wisuda, pernikahan anak, kelahiran cucu.

“Kalau di momen penting hidup mereka kondisi saya begini, apakah mereka harus mengurus acara mereka sambil mengurus saya? Atau lebih parah lagi, saya sudah enggak ada?”

Kombinasi data kesehatan dan refleksi sebagai ayah menjadi titik balik. Sejak itu, Igor menjalani proses panjang—bukan instan—menuju hidup lebih aktif dan sehat.

**Bahaya Tersembunyi Gaya Hidup Duduk**

Kisah Igor bukan sekadar soal transformasi fisik. Ini tentang kesadaran akan bahaya gaya hidup malas gerak atau sedentary lifestyle—sebuah kebiasaan yang diam-diam menggerogoti tubuh dan pikiran.

Gaya hidup sedentari sering disebut sebagai silent killer. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kurangnya aktivitas fisik berkontribusi pada lebih dari 3 juta kematian setiap tahun secara global.

Masalahnya, banyak orang merasa “baik-baik saja”. Menurut dokter Ria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, Sp.KO, spesialis Kedokteran Olahraga yang menjadi pembicara dalam acara yang sama, ini adalah kekeliruan terbesar.

“Sehat itu belum tentu bugar,” jelasnya. Sehat berarti tidak didiagnosis penyakit. Tetapi bugar adalah kondisi ketika tubuh mampu menjalani aktivitas harian tanpa kelelahan berlebihan.

**Sinyal Bahaya yang Sering Diabaikan**

“Coba ukur dari hal sederhana: Apakah Anda terengah-engah saat naik tangga? Apakah lutut terasa nyeri saat berdiri dari duduk? Apakah punggung bawah sering pegal setelah duduk lama? Itu bisa menjadi sinyal awal tubuh kekurangan gerak,” ujar dr. Ria.

Secara ilmiah, duduk terlalu lama dan jarang bergerak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular secara signifikan.

**Dampak Serius pada Kesehatan Jantung**

Beberapa dampaknya antara lain:

**1. Risiko Penyakit Jantung Naik hingga 30%**
Metabolisme melambat, aliran darah tidak optimal, tekanan darah meningkat. Kondisi ini memicu hipertensi, serangan jantung, hingga gagal jantung.

**2. Gangguan Kolesterol**
Kurang gerak meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik), mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis).

**3. Kerusakan Pembuluh Darah**
Tekanan darah tinggi akibat kurang aktivitas membuat arteri menyempit dan rusak.

**4. Beban Kerja Jantung Meningkat**
Obesitas akibat gaya hidup pasif membuat jantung bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh.

Tak heran, denyut jantung Igor yang tinggi saat duduk diam menjadi alarm keras bagi dirinya.

**Dampak pada Kesehatan Mental yang Tak Terlihat**

Hubungan tubuh dan pikiran sangat erat. Kurang gerak juga berdampak pada kesehatan mental:

• **Penurunan Hormon Kebahagiaan**
Saat bergerak, otak melepaskan endorfin yang memperbaiki suasana hati. Tanpa aktivitas fisik, produksi hormon ini menurun.

• **Risiko Depresi dan Kecemasan**
Kurang gerak berkorelasi dengan meningkatnya rasa sedih, hampa, dan gelisah.

• **Gangguan Tidur**
Ketidakaktifan memperburuk kualitas tidur. Kurang tidur menurunkan performa fisik sekaligus meningkatkan risiko cedera.

• **Regulasi Emosi Terganggu**
Orang yang jarang bergerak cenderung lebih mudah tersinggung dan kehilangan motivasi.

Igor mengakui, dulu kualitas tidurnya juga terganggu karena kebiasaan scrolling tengah malam. Notifikasi ponsel membuatnya sulit benar-benar beristirahat.

**Mengapa Kita Sulit Berubah?**

Menurut Dokter Ria, perubahan gaya hidup mengikuti tahapan psikologis.

“Banyak orang berhenti di tahap ‘niat’. Masalahnya, mereka memulai dengan cara yang salah—langsung olahraga berat, lalu kapok. Karenanya konsistensi selalu lebih penting daripada intensitas,” tegasnya.

Igor menyebut konsep ini sebagai fast—bukan soal cepat, tetapi steadfast, mantap dan konsisten.

**Langkah Kecil, Dampak Besar**

Transformasi tidak harus ekstrem. Justru langkah kecil yang konsisten lebih efektif.

Menurut dokter Ria, salah satu hal terpenting untuk mulai adalah mempersiapkan mental, menetapkan target realistis, menghindari perfeksionisme, membuat jadwal sederhana, dan merayakan progres kecil.

“Celebrate your small goals,” kata Dokter Ria. “Seminggu tanpa gorengan? Rayakan. Berhasil minum air putih rutin menggantikan boba dan minuman manis? Rayakan.”

**Cara Praktis Keluar dari Pola Hidup Pasif**

Perubahan sederhana yang bisa dilakukan:
– Menggunakan tangga daripada lift
– Melakukan peregangan setiap 1 jam saat bekerja
– Berdiri dan berjalan singkat tiap jam


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Balita Reading Set