Ternyata Homo erectus Sudah Tiba di Asia Timur 1,77 Juta Tahun Lalu

Penemuan tiga tengkorak Homo erectus di Yunxian, Provinsi Hubei, China, kembali mengguncang dunia paleoantropologi. Hasil penanggalan terbaru menunjukkan fosil tersebut berusia sekitar 1,77 juta tahun—sekitar 600.000 tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

Temuan ini bukan sekadar revisi angka. Ia berpotensi menulis ulang kisah awal penyebaran manusia purba dari Afrika ke Asia, sekaligus memicu perdebatan baru tentang asal-usul Homo erectus.

**Kapan Tepatnya Asia Timur Pertama Kali Dihuni?**

Selama ini, para ilmuwan sepakat bahwa Homo erectus berasal dari Afrika sebelum menyebar ke Eurasia. Fosil tertua di Asia diketahui berasal dari situs Dmanisi di Georgia, berusia sekitar 1,78–1,85 juta tahun. Namun, kapan tepatnya Homo erectus mencapai Asia Timur masih menjadi tanda tanya.

“Walaupun Homo erectus, nenek moyang jauh kita, diakui berasal dari Afrika sebelum menyebar ke Eurasia, garis waktu kedatangannya di Asia Timur belum diketahui secara pasti,” kata Dr. Christopher Bae, antropolog dari University of Hawai’i at Manoa.

Kini, melalui kombinasi fosil Yunxian dan teknik penanggalan modern, para peneliti berhasil merekonstruksi usia yang jauh lebih tua dari dugaan sebelumnya.

**Revolusi Metode Penanggalan Fosil**

Sebelumnya, usia tengkorak Yunxian diperkirakan antara 800.000 hingga 1,1 juta tahun. Perkiraan tersebut didasarkan pada usia gigi hewan yang ditemukan di sekitarnya serta metode resonansi spin elektron dan penanggalan uranium.

Namun kali ini, tim menggunakan metode yang lebih mutakhir: cosmogenic nuclide burial dating, yang memanfaatkan isotop Aluminium-26 (Al-26) dan Berilium-10 (Be-10).

Dr. Hua Tu dari Shantou University dan Nanjing Normal University menjelaskan: “Isotop Al-26 dan Be-10 terbentuk ketika sinar kosmik menghantam mineral kuarsa. Setelah terkubur jauh di bawah tanah, produksi isotop berhenti dan peluruhan radioaktif mulai terjadi.”

Dengan mengukur rasio kedua isotop tersebut di sedimen sekitar fosil, ilmuwan bisa menghitung sudah berapa lama material itu terkubur.

**Keunggulan Teknologi Baru**

Keunggulan metode ini sangat signifikan. Jika penanggalan karbon-14 hanya efektif hingga 50.000 tahun, teknik Al-26/Be-10 mampu menembus usia hingga 5 juta tahun.

Hasilnya mengejutkan: fosil Yunxian berusia sekitar 1,77 juta tahun.

**Kejutan yang Mengguncang Paradigma**

Bae mengaku tidak menyangka dengan hasil tersebut. “Saya benar-benar merasa terkejut ketika pertama kali melihat hasil analisisnya,” ujarnya.

Usia yang lebih tua ini memaksa para ahli mempertimbangkan ulang kapan Homo erectus pertama kali muncul. Selama ini, spesies ini diyakini berevolusi sekitar 2 juta tahun lalu di Afrika.

“Apa artinya ini? Kita perlu mempertimbangkan untuk memundurkan asal-usul Homo erectus hingga sekitar 2,6 juta tahun lalu,” kata Bae.

Jika benar, maka evolusi manusia purba mungkin dimulai lebih awal dari yang selama ini diajarkan.

**Penyebaran yang Mengagumkan**

Karena usia Yunxian hampir sezaman dengan fosil Dmanisi di Georgia, hasil ini memperkuat dugaan bahwa Homo erectus menyebar melintasi Asia dengan relatif cepat setelah keluar dari Afrika.

Namun, ada hal menarik lainnya. Bentuk dan ukuran tengkorak Yunxian menunjukkan bahwa hominin ini memiliki otak lebih besar dibandingkan fosil Dmanisi, meskipun usianya hampir sama.

“Ini menunjukkan adanya variasi penting pada hominin awal di luar Afrika,” kata Karen Baab, profesor anatomi di Midwestern University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

**Kompleksitas Evolusi di Asia**

Artinya, evolusi manusia purba di Asia mungkin lebih kompleks daripada sekadar satu gelombang migrasi sederhana.

**Misteri Alat Batu yang Lebih Tua**

Meski temuan ini penting, masih ada celah misterius sekitar 600.000 tahun antara bukti fosil tertua dan bukti alat batu tertua di China. Beberapa situs di China menghasilkan alat batu yang berusia 2,1 hingga 2,43 juta tahun—lebih tua dari usia Yunxian dan bahkan mendahului perkiraan kemunculan Homo erectus.

“Jika Homo erectus bukan penghuni paling awal yang mencapai Asia, maka kita perlu mempertimbangkan spesies alternatif,” kata Bae.

**Skeptisisme dari Sebagian Ahli**

Meski hasilnya dramatis, sebagian ahli tetap berhati-hati. Chris Stringer, paleoantropolog dari Natural History Museum London, mengatakan bahwa akan “sangat luar biasa” jika usia Yunxian memang hampir 1,8 juta tahun.

Namun ia mengingatkan, “Menempatkan Yunxian pada usia setua itu akan membuatnya tidak sinkron dengan catatan fosil lainnya.”

Dalam penelitian sebelumnya, Stringer dan timnya mengusulkan bahwa fosil Yunxian mungkin termasuk kelompok yang kemudian melahirkan Denisovan, yang diperkirakan muncul sekitar 1,2 juta tahun lalu.

**Pintu Gerbang Pemahaman Baru**

Karena itu, ia menekankan perlunya penelitian lanjutan. “Saya menyarankan bahwa penelitian lebih lanjut mengenai penanggalan situs ini memang sangat diperlukan!”

Artinya misteri kapan tepatnya Homo erectus pertama dan terakhir muncul di Asia Timur masih belum terpecahkan sepenuhnya.

Yang pasti, dengan usia 1,77 juta tahun, tengkorak Yunxian kini menjadi bukti tertua keberadaan kerabat manusia purba di Asia Timur—dan mungkin menjadi kunci untuk memahami bab awal perjalanan panjang manusia di muka Bumi.

Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah migrasi manusia purba jauh lebih rumit dan berlangsung lebih awal dari yang pernah dibayangkan para ilmuwan. Di balik tengkorak-tengkorak kuno tersebut, tersimpan cerita tentang keberanian nenek moyang kita yang berani menjelajahi dunia yang belum dikenal jutaan tahun silam.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

1000 Fakta tentang Dinosaurus

Seri Tempo: 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika

Barus: Seribu Tahun Yang Lalu