Teleskop Luar Angkasa James Webb kembali mencatatkan penemuan bersejarah. Dalam pengamatan terbarunya, Webb berhasil mendeteksi galaksi “ubur-ubur” (jellyfish galaxy) terjauh yang pernah ditemukan manusia. Galaksi ini berada pada redshift 1,156—artinya cahaya yang kita saksikan saat ini berasal dari masa sekitar 8,5 miliar tahun lalu.
Penemuan ini tidak sekadar mencetak rekor jarak. Ia membuka wawasan penting tentang bagaimana galaksi berevolusi di era awal alam semesta.
**Mengapa Disebut Galaksi Ubur-Ubur?**
Galaksi ubur-ubur mendapat sebutan tersebut karena bentuknya yang khas. Galaksi ini memiliki aliran gas panjang menyerupai tentakel yang menjulur ke belakang.
“Galaksi ubur-ubur dinamai dari aliran panjang seperti tentakel yang tertinggal di belakangnya,” jelas Dr. Ian Roberts dari University of Waterloo bersama tim penelitinya.
Fenomena ini terbentuk ketika galaksi bergerak sangat cepat menembus gugus galaksi yang panas dan padat. Gas di dalam gugus tersebut bertindak seperti angin kencang yang mendorong gas milik galaksi ke belakang, menciptakan jejak memanjang.
**Proses Ram-Pressure Stripping**
“Secara teknis, proses ini disebut ram-pressure stripping,” kata Dr. Roberts. Dalam proses ini, tekanan dari medium antargalaksi yang padat “mengupas” gas dari galaksi yang melintas, mirip angin yang meniup debu dari permukaan mobil yang melaju kencang.
**Penemuan di Wilayah COSMOS**
Galaksi yang diberi nama COSMOS2020-635829 ini ditemukan dalam data ruang angkasa mendalam yang ditangkap Webb. Ia berada di wilayah langit yang dikenal sebagai COSMOS field, area yang telah lama menjadi target berbagai teleskop untuk mempelajari galaksi jauh.
“Kami menyisir sejumlah besar data dari wilayah langit yang telah banyak diteliti ini dengan harapan menemukan galaksi ubur-ubur yang belum pernah dipelajari sebelumnya,” ujar Dr. Roberts.
Ia menambahkan, “Di awal pencarian data Webb, kami menemukan galaksi ubur-ubur jauh yang belum terdokumentasi dan langsung memicu ketertarikan besar.”
**Ciri Khas yang Mencolok**
Secara visual, COSMOS2020-635829 memiliki cakram galaksi yang tampak normal. Namun yang mencolok adalah simpul-simpul biru terang di sepanjang jejak gasnya.
Simpul biru ini ternyata adalah bintang-bintang yang sangat muda. Usia bintang-bintang tersebut menunjukkan bahwa mereka terbentuk bukan di pusat galaksi, melainkan di luar galaksi utama—tepatnya di sepanjang jejak gas yang terlepas akibat ram-pressure stripping.
**Mengguncang Teori Alam Semesta Awal**
Yang membuat penemuan ini begitu penting adalah implikasinya terhadap teori pembentukan galaksi. Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa pada masa 8–9 miliar tahun lalu, gugus galaksi masih dalam tahap pembentukan awal. Lingkungan di dalamnya dianggap belum cukup “keras” untuk secara rutin menyebabkan ram-pressure stripping.
Namun temuan Webb justru menunjukkan sebaliknya.
“Penemuan pertama adalah bahwa lingkungan gugus galaksi saat itu sudah cukup keras untuk mengupas galaksi,” jelas Dr. Roberts.
Ia melanjutkan, “Yang kedua, gugus galaksi mungkin telah mengubah sifat-sifat galaksi secara kuat jauh lebih awal dari yang diperkirakan.”
**Misteri Galaksi “Mati” Terpecahkan?**
Temuan ini juga berkaitan dengan misteri lain dalam kosmologi: mengapa banyak galaksi di gugus galaksi modern saat ini sudah “mati”—yakni tidak lagi membentuk bintang baru?
Dr. Roberts menyebut ada kemungkinan bahwa berbagai tantangan lingkungan seperti ram-pressure stripping telah berperan besar dalam membentuk populasi besar galaksi mati yang kita lihat sekarang.
“Semua tantangan yang disebutkan tadi mungkin berperan dalam membangun populasi besar galaksi mati yang kita lihat di gugus galaksi saat ini,” katanya.
**Dampak Jangka Panjang**
Dengan kata lain, proses pengupasan gas sejak miliaran tahun lalu bisa jadi telah “mematikan” galaksi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Data ini memberi kita wawasan langka tentang bagaimana galaksi berubah di alam semesta awal,” tutup Dr. Roberts.
**Jendela Menuju Masa Lalu Kosmos**
Penemuan galaksi ubur-ubur paling jauh ini menunjukkan betapa kuatnya kemampuan Teleskop James Webb dalam menyingkap sejarah kosmos. Dengan mengamati objek pada redshift tinggi, para ilmuwan dapat memahami bagaimana lingkungan ekstrem di gugus galaksi memengaruhi evolusi galaksi sejak dini.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Astrophysical Journal. Seiring Webb terus mengamati alam semesta dalam kedalaman yang belum pernah dicapai sebelumnya, bukan tidak mungkin kita akan menemukan lebih banyak “ubur-ubur kosmik” yang mengubah cara kita memahami sejarah besar alam semesta.
Temuan ini sekali lagi membuktikan bahwa alam semesta menyimpan rahasia-rahasia yang terus mengejutkan para ilmuwan, bahkan di era teknologi canggih seperti saat ini.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan