Ketika manusia semakin serius menjelajahi ruang angkasa dan merencanakan misi jarak jauh, satu pertanyaan besar muncul: dari mana kita akan mendapatkan sumber daya? Mengandalkan kiriman rutin dari Bumi jelas tidak akan selalu praktis, apalagi untuk misi ke Mars atau lebih jauh lagi.
Salah satu solusi yang mulai dilirik adalah menambang asteroid. Banyak asteroid diketahui kaya akan logam berharga, termasuk unsur golongan platinum yang sangat bernilai tinggi di Bumi.
Kini, eksperimen terbaru di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menunjukkan bahwa mikroorganisme seperti bakteri dan jamur bisa menjadi “penambang” masa depan di luar angkasa.
**Eksperimen BioAsteroid: Menguji Mikroba Penambang**
Dalam proyek bernama BioAsteroid, tim ilmuwan yang dipimpin Profesor Charles Cockell dari University of Edinburgh menguji kemampuan bakteri Sphingomonas desiccabilis dan jamur Penicillium simplicissimum untuk mengekstraksi unsur-unsur dari material asteroid jenis L-chondrite.
Para peneliti mengamati 44 unsur kimia dalam material tersebut. Hasilnya, 18 unsur berhasil diekstraksi secara biologis oleh mikroorganisme.
Eksperimen ini bukan sekadar uji coba biasa. Ini merupakan salah satu eksperimen pertama yang menggunakan meteorit langsung di ISS.
“Ini mungkin eksperimen pertama semacam ini di Stasiun Luar Angkasa Internasional yang menggunakan meteorit,” ujar Dr. Rosa Santomartino, peneliti dari Cornell University dan University of Edinburgh.
**Dua Spesies dengan Kemampuan Berbeda**
Menurutnya, pendekatan penelitian ini sengaja dibuat spesifik sekaligus cukup umum agar hasilnya bisa berdampak luas.
“Ini adalah dua spesies yang benar-benar berbeda, dan mereka akan mengekstraksi hal yang berbeda,” kata Santomartino.
Karena itu, para ilmuwan ingin memahami bukan hanya apa yang bisa diekstraksi, tetapi juga bagaimana mekanismenya bekerja—terutama dalam kondisi mikrogravitasi yang masih minim dipahami.
**Mekanisme Penambangan Biologis**
Bakteri dan jamur ini menghasilkan molekul karbon yang disebut asam karboksilat (carboxylic acids). Molekul ini dapat menempel pada mineral melalui proses yang disebut kompleksasi, lalu membantu melepaskan unsur logam dari batuan.
Untuk memahami mekanisme ini lebih dalam, para peneliti juga melakukan analisis metabolomik. Dalam metode ini, sebagian cairan kultur dari sampel eksperimen dikumpulkan, lalu dianalisis untuk mengidentifikasi biomolekul yang terkandung di dalamnya, terutama metabolit sekunder.
**Perbandingan Kondisi Luar Angkasa vs Bumi**
Eksperimen di ISS dilakukan oleh astronaut NASA Michael Scott Hopkins dalam kondisi mikrogravitasi. Sementara itu, tim peneliti di Bumi menjalankan eksperimen kontrol dalam kondisi gravitasi normal untuk membandingkan hasilnya.
“Kami membagi analisisnya menjadi per unsur, lalu mulai bertanya, apakah ekstraksinya berperilaku berbeda di luar angkasa dibandingkan di Bumi?” kata Dr. Alessandro Stirpe dari Cornell University dan University of Edinburgh.
**Temuan Mengejutkan di Mikrogravitasi**
Meski tidak ditemukan perbedaan yang sangat drastis, para ilmuwan menemukan beberapa hasil yang sangat menarik.
Salah satu temuan penting adalah perubahan metabolisme mikroba di luar angkasa, terutama pada jamur. Dalam kondisi mikrogravitasi, jamur meningkatkan produksi berbagai molekul, termasuk asam karboksilat, dan secara signifikan meningkatkan pelepasan logam seperti paladium, platinum, dan unsur lainnya.
**Mikroba Lebih Stabil dari Proses Non-Biologis**
Menariknya, untuk banyak unsur, proses pelindian non-biologis (tanpa mikroba) justru kurang efektif di mikrogravitasi dibandingkan di Bumi. Sebaliknya, mikroba menunjukkan hasil yang relatif konsisten di kedua kondisi tersebut.
“Dalam kasus ini, mikroba tidak selalu meningkatkan ekstraksi itu sendiri, tetapi mereka menjaga ekstraksi tetap pada tingkat yang stabil, terlepas dari kondisi gravitasi,” jelas Dr. Santomartino.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi pada paladium. “Ini tidak hanya berlaku untuk paladium, tetapi juga untuk berbagai jenis logam lainnya, meskipun tidak semuanya.”
**Variabilitas Berdasarkan Jenis Logam dan Mikroba**
Namun, hasilnya juga menunjukkan bahwa tingkat ekstraksi sangat bergantung pada jenis logam, jenis mikroba, dan kondisi gravitasi.
**Membuka Era Pertambangan Biologis**
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah npj Microgravity. Meski masih tahap awal, studi ini membuka peluang besar bagi konsep pertambangan biologis di luar angkasa.
Di masa depan, koloni manusia di Bulan, Mars, atau bahkan sabuk asteroid bisa memanfaatkan mikroorganisme untuk mengekstraksi logam penting langsung dari batuan setempat. Ini akan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Bumi, sekaligus membuat eksplorasi ruang angkasa lebih berkelanjutan.
**Revolusi Teknologi dari Makhluk Mikroskopis**
Eksperimen BioAsteroid menunjukkan satu hal penting: di tengah lingkungan ekstrem ruang angkasa, makhluk hidup mikroskopis justru bisa menjadi kunci teknologi besar.
Jika jamur dan bakteri mampu menambang logam di luar angkasa, maka era pertambangan asteroid bukan lagi sekadar fiksi ilmiah—melainkan kemungkinan nyata yang sedang diuji di orbit Bumi.
Penelitian ini menandai langkah penting menuju masa depan di mana mikroorganisme menjadi partner teknologi manusia dalam menjelajahi dan memanfaatkan sumber daya alam semesta.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Seri Klasik Semasa Kecil: Prim & Prim-3, Petualangan di Luar Angkasa