Anak ayam langsung mencari makan saat menetas dari telur. Anak kuda atau rusa berlatih berdiri beberapa menit setelah dilahirkan. Anak ular kobra bahkan memiliki bisa mematikan sesaat setelah menetas.
Namun, mengapa bayi manusia lahir dalam kondisi begitu lemah dan bergantung total pada orang dewasa?
**Lebih Kompleks dari Sekadar Otak Besar**
Selama ini, banyak orang percaya penyebabnya sederhana: otak bayi terlalu besar sementara panggul ibu terlalu sempit. Namun studi terbaru menunjukkan kenyataannya jauh lebih rumit.
Sebuah tinjauan komprehensif yang dipublikasikan di Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society menyimpulkan bahwa kondisi tak berdaya bayi manusia saat lahir bukan sekadar akibat “benturan” antara otak besar dan pinggul sempit.
**Batasan Anatomi dan Metabolisme yang Saling Berkaitan**
Sebaliknya, waktu dan sulitnya proses persalinan merupakan hasil dari batasan anatomi dan metabolisme yang saling tumpang tindih—memaksa bayi lahir sebelum benar-benar matang.
Selama puluhan tahun, bukti anatomi dan data persalinan menunjukkan adanya “kecocokan sempit” antara ukuran kepala janin dan panggul ibu. Celahnya begitu tipis, sehingga sedikit perubahan saja bisa berdampak besar.
**Margin Kesalahan Sangat Tipis**
Dr. Martin Haeusler dari University of Zurich menjelaskan bahwa bentuk panggul, pertumbuhan janin, dan kondisi fisiologis ibu bertemu dalam “margin yang sangat sempit dan hampir tanpa ruang kesalahan.”
Perubahan kecil pada ukuran kepala bayi, bentuk panggul, atau kondisi kesehatan ibu dapat mengubah persalinan normal menjadi berisiko.
**Proses Kelahiran yang Rumit**
Berbeda dengan primata lain, proses kelahiran manusia lebih kompleks. Bukaan terluas panggul dan pintu keluarnya tidak sejajar, sehingga bayi harus mengikuti jalur melengkung.
Saat persalinan, bayi berputar tahap demi tahap agar kepala dan bahunya bisa menyesuaikan dengan ruang yang tersedia.
**Otak Berkembang Setelah Lahir**
Dibandingkan primata lain, bayi manusia lahir dengan pertumbuhan otak yang masih panjang. Studi tahun 2012 menunjukkan bahwa otak bayi manusia saat lahir baru mencapai kurang dari 30 persen ukuran otak dewasa. Sementara itu, simpanse sudah mencapai sekitar 40 persen.
Jika bayi manusia harus mencapai tingkat kematangan seperti simpanse sebelum lahir, kehamilan harus berlangsung lebih lama dan ukuran kepala akan lebih besar—yang berarti persalinan jauh lebih berbahaya.
**Batas Energi Tubuh Ibu**
Faktor penting lain adalah batas energi tubuh ibu. Pada akhir kehamilan, kebutuhan energi harian ibu meningkat drastis, mendekati dua kali lipat metabolisme saat istirahat.
Peneliti memperkirakan tubuh mulai memicu persalinan ketika kebutuhan energi janin melampaui ambang yang bisa dipertahankan ibu.
**Kehamilan Tidak Bisa Diperpanjang**
Jika kehamilan diperpanjang satu bulan saja, kebutuhan energi bisa melampaui kemampuan banyak ibu untuk bertahan selama berminggu-minggu.
Artinya, waktu kelahiran mencerminkan batas kemampuan seluruh tubuh ibu—bukan hanya ukuran tulang panggul.
**”Secondarily Altricial”**
Dalam biologi, manusia disebut sebagai secondarily altricial—lahir dalam kondisi sangat bergantung meskipun termasuk kelompok primata.
Pada awal kehidupan, bayi manusia belum mampu menopang kepala dengan stabil, mengatur suhu tubuh secara optimal, atau bergerak terarah.
**Keuntungan Lahir Lebih Awal**
Lahir lebih awal membuat ukuran kepala dan tubuh cukup kecil untuk melewati jalan lahir, tetapi konsekuensinya adalah keterlambatan koordinasi dan kekuatan.
Namun kelahiran yang lebih awal ternyata memberi keuntungan lain. Di luar rahim, otak bayi berkembang dalam respons terhadap suara, wajah, dan rutinitas sehari-hari.
**Pembentukan Koneksi Saraf**
Koneksi saraf yang sering digunakan akan menguat, sementara yang jarang dipakai akan melemah. Proses ini membentuk bahasa, kemampuan sosial, dan pengendalian diri—sesuatu yang tidak mungkin dilatih saat masih di dalam kandungan.
**Pengasuhan Bersama dalam Evolusi**
Sepanjang sejarah evolusi, ibu jarang membesarkan bayi sendirian. Ilmuwan menyebut sistem ini sebagai cooperative breeding—pengasuhan bersama oleh ayah, kakek-nenek, dan anggota kelompok lain.
Tanpa dukungan sosial yang andal, melahirkan bayi yang sangat bergantung mungkin akan menjadi jalan buntu evolusioner.
**Panggul Lebar Tidak Menghambat Gerak**
Studi tahun 2015 menguji apakah panggul yang lebih lebar meningkatkan biaya energi saat berjalan atau berlari. Hasilnya: tidak. Peneliti menemukan bahwa lebar panggul tidak memprediksi total energi yang digunakan saat bergerak.
**Bukan Cuma “Obstetrical Dilemma”**
Banyak peneliti menyebut tekanan evolusioner ini sebagai obstetrical dilemma—ketegangan antara kebutuhan melahirkan bayi berotak besar dan kemampuan berjalan tegak.
Namun Haeusler mengingatkan bahwa istilah ini sering digunakan secara kurang tepat. “Penggunaan istilah ‘obstetrical dilemma’ yang tidak presisi menimbulkan kebingungan dan pencampuran berbagai gagasan yang berbeda,” tulis Haeusler.
**Sistem yang Lebih Besar**
Menurutnya, dilema tersebut hanyalah satu bagian dari sistem yang lebih besar yang juga mencakup metabolisme dan dukungan sosial.
**Kompromi Evolusi yang Menguntungkan**
Pada akhirnya, kondisi bayi manusia yang tampak “tidak berdaya” adalah hasil kompromi evolusi. Kompromi ini melindungi ibu, memungkinkan pertumbuhan otak besar, tetapi menunda kemandirian.
Penelitian selanjutnya—termasuk yang dilakukan di University of Zurich—akan menguji bagaimana faktor seperti nutrisi, beban kerja, dan layanan medis memengaruhi batas-batas ini, tanpa menyederhanakan persoalan pada satu faktor saja.
**Fondasi Peradaban Manusia**
Kelahiran manusia memang sulit dan penuh risiko. Namun justru dari keterbatasan inilah muncul ciri khas kita: masa kanak-kanak panjang, otak yang plastis, dan budaya peng
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Pergulatan Transisi Energi Berkeadilan: Satu Isu Beragam Dilema
Perencanaan Pembangunan, Keuangan, dan Transisi Energi Daerah