Sekitar 250 juta tahun lalu, wilayah Kimberley di Australia Barat yang kini dikenal sebagai daerah kering, berdebu, dan terpencil, memiliki wajah yang sama sekali berbeda. Di tempat yang sekarang menjadi padang tandus dan peternakan sapi, dulunya terbentang teluk dangkal dengan air tropis hangat.
Di perairan itu, makhluk mirip buaya berenang sebagai predator puncak. Penemuan kembali fosil-fosil amfibi laut purba dari periode Trias Awal mengungkap kisah dramatis tentang bagaimana kehidupan bangkit setelah peristiwa kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi—kepunahan akhir-Permian.
**Kebangkitan dari Bencana Global**
Sekitar 252 juta tahun lalu, Bumi mengalami peristiwa yang dikenal sebagai kepunahan massal akhir-Permian. Peristiwa ini dipicu oleh pemanasan global ekstrem dan perubahan lingkungan besar-besaran yang menghancurkan ekosistem laut dan darat.
Dr. Benjamin Kear dari Swedish Museum of Natural History dan timnya menjelaskan, “Peristiwa kepunahan massal akhir-Permian yang dahsyat dan pemanasan global ekstrem memicu kemunculan ekosistem laut modern pada awal Zaman Dinosaurus (Era Mesozoikum).”
“Peristiwa evolusi penting ini melibatkan kemunculan pertama tetrapoda laut—vertebrata berkaki—termasuk amfibi dan reptil, yang dengan cepat menjadi predator puncak akuatik,” tambahnya.
**Catatan Terbatas dari Belahan Selatan**
Selama beberapa dekade, sebagian besar fosil “monster laut” awal ini ditemukan di Belahan Bumi Utara. Catatan dari Belahan Bumi Selatan, termasuk Australia, masih sangat terbatas dan belum banyak dipahami.
Penelitian terbaru kini mulai mengubah gambaran tersebut dengan mengungkap kekayaan fosil yang tersembunyi di Australia.
**Jejak yang Hilang Selama 50 Tahun**
Fosil yang menjadi pusat perhatian ditemukan dalam ekspedisi ilmiah pada 1960-an dan 1970-an di Noonkanbah cattle station, sebelah timur kota terpencil Derby, Kimberley. Sisa-sisa tengkorak amfibi laut yang terkubur di batuan pesisir kuno itu kemudian dibagi antara museum di Australia dan Amerika Serikat.
Pada 1972, para ilmuwan menerbitkan studi yang mengidentifikasi satu spesies baru berdasarkan fragmen tengkorak tersebut: Erythrobatrachus noonkanbahensis.
Namun, secara misterius, fosil asli Erythrobatrachus hilang dalam kurun waktu 50 tahun berikutnya. Alih-alih mengakhiri kisahnya, kehilangan itu justru memicu pencarian besar-besaran di koleksi museum internasional.
**Teknologi 3D Mengungkap Rahasia**
Pada 2024, para peneliti akhirnya berhasil menemukan kembali dan menelaah ulang fosil-fosil tersebut menggunakan teknologi pencitraan 3D resolusi tinggi. Hasilnya mengejutkan.
Awalnya, semua fragmen tengkorak dari Kimberley dianggap berasal dari satu spesies. Namun analisis rinci menunjukkan bahwa fosil tersebut sebenarnya mewakili setidaknya dua jenis trematosaurid berbeda: Erythrobatrachus, dan satu spesies lain dari genus terkenal Aphaneramma.
**Dua Predator dalam Satu Habitat**
Erythrobatrachus termasuk dalam kelompok trematosaurid temnospondyl, amfibi purba yang secara sekilas tampak seperti buaya, tetapi berkerabat dengan salamander dan katak modern. Panjang tubuhnya bisa mencapai dua meter.
“Trematosaurid adalah kerabat modern salamander dan katak yang tampak seperti buaya dan dapat tumbuh hingga 2 meter panjangnya,” jelas para ilmuwan.
Tim peneliti menambahkan, “Pemeriksaan tengkorak Erythrobatrachus menggunakan pencitraan 3D resolusi tinggi menunjukkan panjangnya sekitar 40 cm saat utuh, berasal dari predator bertubuh besar dengan kepala lebih lebar.”
Sebaliknya, “Aphaneramma berukuran hampir sama tetapi memiliki moncong panjang dan ramping untuk menangkap ikan-ikan kecil.”
**Strategi Berburu yang Berbeda**
Keduanya hidup berdampingan di teluk dangkal yang sama, tetapi mengisi relung ekologi berbeda. Yang satu kemungkinan memangsa hewan lebih besar dengan gigitan kuat, sementara yang lain menyambar ikan kecil dengan moncong sempitnya.
“Kedua trematosaurid ini berenang di kolom air yang sama, tetapi berburu mangsa berbeda dalam habitat yang sama.”
**Pemulihan Ekosistem yang Cepat**
Temuan ini sangat penting. Setelah kepunahan massal, ekosistem tidak pulih sekaligus. Biasanya dimulai dari sedikit spesies tangguh, lalu secara bertahap membangun kembali jejaring makanan kompleks.
Kehadiran dua predator laut berbeda dalam waktu relatif singkat setelah bencana global menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem laut terjadi lebih cepat dari perkiraan.
Kelompok ini sangat penting karena fosilnya ditemukan pada lapisan batuan pesisir yang terbentuk kurang dari satu juta tahun setelah kepunahan massal akhir-Permian. Artinya, mereka merupakan kelompok tetrapoda laut Mesozoikum tertua yang saat ini dapat dikenali secara geologis.
**Penyebaran Global di Superbenua**
Salah satu aspek paling mencolok dari penelitian ini adalah distribusi geografisnya. Erythrobatrachus sejauh ini hanya ditemukan di Australia. Namun fosil Aphaneramma telah dilaporkan dari Svalbard di Arktik Skandinavia, Timur Jauh Rusia, Pakistan, dan Madagaskar.
Sebaran ini menunjukkan bahwa pada awal Mesozoikum, ketika seluruh daratan masih menyatu dalam superbenua Pangaea, hewan-hewan ini mampu menyebar luas mengikuti garis pantai yang saling terhubung.
**Ekspansi Global Awal**
Para peneliti menyimpulkan, “Sisa-sisa trematosaurid Australia menunjukkan bahwa tetrapoda laut Mesozoikum paling awal ini tidak hanya berevolusi cepat ke berbagai relung ekologi, tetapi juga berhasil menyebar ke seluruh dunia, mungkin mengikuti tepi pantai superbenua yang saling terhubung selama dua juta tahun pertama Zaman Dinosaurus.”
Dengan kata lain, ini bukan sekadar kisah diversifikasi lokal, tetapi bukti ekspansi global yang menakjubkan.
**Memori Geologis di Bawah Gurun**
Hari ini, sulit membayangkan Kimber
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: