Setelah menghilang lebih dari 70 tahun lalu, harimau akhirnya bersiap kembali ke Kazakhstan. Negara di Asia Tengah ini tengah menjalankan proyek konservasi ambisius untuk mengembalikan predator terbesar di dunia itu ke habitat bersejarahnya.
Langkahnya tidak main-main. Sepanjang tahun lalu saja, Kazakhstan menanam 37.000 bibit dan stek pohon di kawasan South Balkhash, wilayah dekat Danau Balkhash di tenggara negara tersebut—daerah yang dulunya menjadi rumah bagi harimau.
Program reintroduksi ini dipimpin oleh pemerintah Kazakhstan dengan dukungan World Wildlife Fund (WWF) dan United Nations Development Programme (UNDP). Penanaman 37.000 pohon itu menambah sekitar 50.000 bibit yang telah ditanam sepanjang 2021 hingga 2024.
**Kepunahan Harimau Kaspia**
Harimau terakhir di Kazakhstan, yang dikenal sebagai harimau Kaspia, menghilang pada akhir 1940-an. Perburuan besar-besaran, hilangnya habitat, serta menurunnya populasi mangsa membuat spesies ini punah dari kawasan tersebut.
Kini, Kazakhstan ingin menulis ulang sejarah. Dua ekor harimau penangkaran—seekor jantan dan betina—telah tiba di Kazakhstan sebagai bagian dari proyek pengembangbiakan dan pelepasliaran. Selain itu, negara ini dijadwalkan menerima harimau liar pertama dari Rusia pada paruh pertama 2026.
**Program Penghijauan Masif**
Menghadirkan harimau saja tidak cukup. Mereka membutuhkan habitat yang layak dan kaya sumber daya. Di sinilah proyek penghijauan raksasa memainkan peran kunci.
Penanaman pohon di South Balkhash merupakan bagian dari inisiatif penghijauan nasional Kazakhstan yang sangat besar. Sejak 2021, negara ini telah menanam sekitar 1,4 miliar pohon dan menargetkan 2 miliar pohon pada 2027.
Di kawasan South Balkhash, area penanaman mencakup sekitar 4 kilometer garis pantai Danau Balkhash—danau terbesar di Asia Tengah dan terbesar ke-15 di dunia, dengan luas sekitar 17.000 kilometer persegi.
**Membangun Pulau-Pulau Hutan**
Vegetasi baru yang ditanam meliputi 30.000 bibit oleaster berdaun sempit, 5.000 stek pohon willow, dan 2.000 bibit poplar turanga. Pohon-pohon ini membentuk “pulau-pulau hutan” yang membantu mengatur aliran air, menstabilkan banjir dan limpasan, sekaligus memulihkan ekosistem.
Lebih penting lagi, vegetasi tersebut menyediakan perlindungan, akses air, dan sumber makanan bagi mangsa harimau seperti babi hutan dan rusa Bukhara (Cervus elaphus bactrianus).
Menurut WWF Asia Tengah, tanda-tanda pemulihan sudah mulai terlihat. “Sudah terlihat ungulata liar mencari makan di lokasi yang dipulihkan, yang menunjukkan bahwa ekosistem mulai berfungsi kembali,” ujar juru bicara WWF Asia Tengah.
**Harimau Amur sebagai Pengganti Genetik**
Harimau Kaspia memang telah punah. Namun, penelitian pada 2009 yang dipublikasikan di jurnal PLOS One menemukan bahwa harimau Kaspia dan harimau Amur—yang kini hidup di Rusia Timur Jauh dan China—kemungkinan berasal dari populasi yang sama sebelum aktivitas manusia memisahkan mereka pada abad ke-19.
Artinya, secara genetik, harimau Amur pada dasarnya adalah pengganti yang sangat dekat.
Pada 2024, Kazakhstan menerima dua harimau Amur dari suaka margasatwa di Belanda: betina bernama Bodhana dan jantan bernama Kuma. Keduanya kini tinggal di kandang khusus di Cagar Alam Ile-Balkhash.
**Strategi Pembibitan Bertahap**
Karena terbiasa hidup dalam penangkaran, Bodhana dan Kuma tidak akan dilepasliarkan. Namun, keturunan mereka diharapkan menjadi bagian dari populasi awal harimau Kazakhstan yang baru.
Meski demikian, tidak ada jaminan keduanya akan berkembang biak atau menghasilkan keturunan yang cocok untuk dilepasliarkan. Karena itu, sebagian besar populasi baru nantinya akan berasal dari harimau liar yang didatangkan dari Rusia.
WWF Asia Tengah menyebut bahwa berdasarkan informasi publik dan laporan media terbaru, harimau Amur yang diharapkan tiba pada paruh pertama 2026 berasal dari alam liar.
**Antisipasi Konflik dengan Manusia**
Mengembalikan predator besar seperti harimau bukan perkara mudah. Risiko konflik dengan manusia dan ternak selalu ada. Sebuah studi tahun 2024 di The Journal of Wildlife Management menunjukkan bahwa upaya reintroduksi harimau di Rusia cukup berhasil.
Enam anak harimau yatim direhabilitasi, diajarkan berburu, dan mampu bertahan hidup di alam liar. Namun, satu harimau hasil rehabilitasi sempat membunuh lebih dari 13 kambing dalam satu kejadian dan tidak menunjukkan rasa takut yang cukup terhadap manusia.
**Tim Respons Cepat**
Belajar dari pengalaman itu, Kazakhstan telah menyiapkan langkah antisipatif. “Tugas utama kelompok ini meliputi patroli rutin, pemantauan pergerakan harimau melalui kalung satelit, deteksi dini potensi pendekatan ke permukiman, serta langkah respons cepat,” jelas juru bicara WWF Asia Tengah.
Tim khusus akan terus melacak harimau yang dilepasliarkan dan menangani potensi konflik manusia-satwa liar.
**Melibatkan Masyarakat Lokal**
Program ini juga menggandeng masyarakat lokal melalui edukasi tentang cara bersikap jika bertemu harimau, serta mendorong pembangunan berkelanjutan lewat hibah untuk pertanian dan ekowisata.
“Semua ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk hidup berdampingan secara damai antara manusia dan predator,” kata juru bicara tersebut. “Skema kompensasi bagi warga lokal juga direncanakan jika harimau menyebabkan kerugian ternak.”
**Eksperimen Ekologi Berskala Besar**
Upaya Kazakhstan mengembalikan harimau bukan sekadar proyek konservasi biasa. Ini adalah eksperimen ekologi berskala besar yang memadukan sains, restorasi habitat, diplomasi lintas negara, dan pendekatan sosial terhadap masyarakat lokal.
Jika berhasil, Kazakhstan akan menjadi contoh global bahwa spesies predator besar yang hilang dari suatu wilayah masih bisa k
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Buku Teks tentang Penilaian Skala Besar Pencapaian Pendidikan