Isu ketahanan pangan kembali menguat dalam beberapa tahun terakhir. Gangguan rantai suplai global pasca pandemi, konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga gandum dan pakan, serta dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan memaksa berbagai negara, termasuk Indonesia, meninjau kembali strategi pangannya.
Di dalam negeri, tantangan tersebut bertemu dengan masalah gizi seperti stunting dan kesenjangan konsumsi protein antarwilayah. Dalam situasi ini, diversifikasi sumber protein bukan lagi wacana akademik, tetapi kebutuhan strategis.
Salah satu alternatif yang semakin mendapat perhatian forum global adalah serangga sebagai sumber protein berkelanjutan (edible insects).
**Potensi Besar Berdasarkan Riset Global**
Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menekankan bahwa serangga memiliki potensi besar sebagai sumber pangan masa depan karena kandungan gizinya tinggi dan dampak lingkungannya relatif lebih rendah dibandingkan ternak konvensional.
Dalam publikasi Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security (FAO, 2013), disebutkan bahwa lebih dari 2.000 spesies serangga telah dikonsumsi secara tradisional di berbagai belahan dunia. Kandungan proteinnya mencapai 40–70 persen (basis kering), dengan profil asam amino esensial yang baik, serta mineral penting seperti zat besi dan seng.
Dari sisi keberlanjutan, sejumlah studi life cycle assessment menunjukkan bahwa budidaya serangga seperti jangkrik dan larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) memerlukan lahan, air, dan pakan lebih sedikit dibandingkan sapi atau ayam untuk menghasilkan jumlah protein yang setara (Oonincx & de Boer, 2012; Halloran et al., 2016).
Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pun relatif lebih rendah. Dalam konteks komitmen Indonesia terhadap pengurangan emisi dan pembangunan rendah karbon, aspek ini menjadi relevan. Apalagi sektor peternakan global diketahui berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.
**Ekonomi Sirkular dalam Praktik**
Menariknya, pengembangan serangga juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang kini banyak didorong pemerintah dan pelaku industri. Larva BSF, misalnya, dapat memanfaatkan limbah organik sebagai pakan, sehingga membantu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan biomassa berprotein tinggi.
Di Indonesia, budidaya BSF sudah berkembang pesat sebagai solusi pengelolaan sampah dan pakan alternatif. Walau saat ini pemanfaatannya lebih dominan untuk pakan ternak dan ikan, potensi pengembangan ke arah pangan manusia terbuka melalui kajian keamanan dan regulasi yang memadai.
**Regulasi Global Membuka Jalan**
Secara global, diskursus mengenai novel food termasuk serangga juga semakin menguat. Uni Eropa melalui regulasi Novel Food Regulation telah menyetujui beberapa spesies serangga untuk konsumsi manusia setelah melalui evaluasi keamanan pangan oleh otoritas terkait.
Peristiwa ini memicu diskusi luas tentang masa depan protein alternatif, bersamaan dengan berkembangnya industri plant-based dan daging kultur. Indonesia tentu tidak perlu meniru sepenuhnya, tetapi pengalaman tersebut memberi pelajaran penting tentang pentingnya kerangka regulasi yang adaptif dan berbasis sains.
**Hambatan Psikologis yang Perlu Diatasi**
Tantangan terbesar di Indonesia justru bukan pada aspek teknis produksi, melainkan penerimaan konsumen. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis seperti rasa jijik (disgust factor) dan food neophobia menjadi penghalang utama (Hartmann & Siegrist, 2017).
Namun, studi juga membuktikan bahwa penerimaan meningkat ketika serangga diolah dalam bentuk tepung atau bahan campuran dalam produk yang sudah familiar. Artinya, inovasi teknologi pangan memegang peran kunci.
Produk seperti biskuit tinggi protein, mi fortifikasi, atau snack ekstrudat berbasis tepung serangga dapat menjadi jembatan antara inovasi dan preferensi konsumen.
**Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional**
Dari perspektif ketahanan pangan nasional, diversifikasi protein melalui serangga dapat memperkuat resiliensi sistem pangan. Ketergantungan pada impor bahan baku pakan tertentu dan fluktuasi harga global membuat sektor protein hewani rentan.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan teknologi budidaya yang relatif sederhana, serangga dapat menjadi alternatif yang lebih fleksibel, terutama bagi usaha kecil dan menengah. Potensi ini juga relevan dalam mendukung program perbaikan gizi dan pengentasan stunting, selama keamanan dan kualitas produk terjamin.
**Agenda Strategis Nasional 2025-2026**
Dalam konteks kebijakan pangan Indonesia 2025–2026, isu diversifikasi sumber protein menjadi semakin relevan. Pemerintah tengah mendorong penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dalam negeri, hilirisasi pangan, serta pengembangan sumber protein alternatif.
Pada saat yang sama, target percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas nasional. Program makan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok rentan yang kini menjadi bagian dari agenda strategis pembangunan menuntut ketersediaan bahan pangan berprotein tinggi yang terjangkau dan berkelanjutan.
Dengan demikian, edible insect tidak hanya diposisikan sebagai inovasi eksperimental, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kebijakan pangan yang terintegrasi: mendukung ketahanan pangan, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus berkontribusi pada pencapaian target penurunan stunting.
**Riset Komprehensif sebagai Fondasi**
Tentu saja, pengembangan edible insect harus disertai riset komprehensif. Aspek alergi, keamanan mikrobiologis, kandungan logam berat, hingga standar budidaya harus diteliti secara sistematis. Tanpa dasar ilmiah yang kuat, inovasi ini berisiko menimbulkan resistensi publik.
Di sinilah peran perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan regulator menjadi sangat penting. Komunikasi publik yang berbasis data dan tidak sensasional juga diperlukan agar masyarakat memahami isu ini secara proporsional.
Tantangannya kini adalah keberanian untuk mengintegrasikan riset, regulasi, dan kebijakan publik dalam satu kerangka transformasi pangan nasional yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
**Bukan Solusi Tunggal, Tetapi Strategi Adaptif**
Pada akhirnya, serangga bukan solusi tunggal atas seluruh persoalan pangan Indonesia. Namun, di tengah perubahan iklim, tekanan populasi, dan dinamika geopolitik global, membuka ruang bagi
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: