Sore ini, 3 Maret 2026, gerhana bulan total yang kerap dijuluki blood moon atau “bulan darah” akan menghiasi langit. Fenomena ini bukan hanya memukau secara visual, tetapi juga memiliki makna khusus karena menjadi gerhana bulan total terakhir yang terlihat sebelum 31 Desember 2028.
Artinya, setelah peristiwa ini, kita harus menunggu hampir tiga tahun untuk kembali menyaksikan Bulan berubah merah sepenuhnya akibat bayangan Bumi. Lebih menarik lagi, gerhana ini terjadi bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1447 H, sekitar 13–14 Ramadhan, menjadikannya pengalaman spiritual sekaligus ilmiah yang langka.
**Mekanisme Gerhana Bulan Total**
Gerhana bulan total berlangsung ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, dengan Bumi berada di tengah. Dalam posisi ini, Bumi menghalangi cahaya Matahari yang seharusnya menerangi Bulan. Akibatnya, Bulan perlahan memasuki bayangan Bumi.
Bayangan ini terdiri dari dua bagian:
– Penumbra (bayangan samar)
– Umbra (bayangan inti yang gelap)
Fase paling dramatis terjadi saat Bulan sepenuhnya masuk ke dalam umbra. Selama sekitar 58–59 menit totalitas, Bulan bergerak sepenuhnya ke dalam bayangan umbra Bumi dan berubah menjadi merah. Inilah momen yang disebut sebagai blood moon.
**Asal Mula Julukan “Blood Moon”**
Julukan blood moon merujuk pada warna merah tembaga hingga merah jingga gelap yang muncul saat fase totalitas. Fenomena ini terjadi karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami proses penyaringan alami.
Cahaya biru dan hijau (dengan panjang gelombang pendek) lebih mudah tersebar oleh partikel atmosfer. Sebaliknya, cahaya merah (bergelombang lebih panjang) tetap lolos dan dibiaskan menuju permukaan Bulan.
Efek ini serupa dengan warna jingga kemerahan saat matahari terbit atau terbenam. Bedanya, kali ini “senja” tersebut terjadi di permukaan Bulan.
Menariknya, tingkat kecerahan dan warna merah Bulan juga dipengaruhi kondisi atmosfer Bumi. Atmosfer yang bersih membuat Bulan tampak lebih terang dan oranye kemerahan. Sedangkan atmosfer dengan banyak partikel debu atau polusi membuat Bulan tampak lebih gelap dan merah pekat.
Prediksi awal menunjukkan kondisi atmosfer relatif bersih, sehingga Bulan kemungkinan akan bersinar dalam warna merah-oranye yang cukup cerah.
**Jadwal Lengkap di Seluruh Indonesia**
Secara keseluruhan, rangkaian gerhana berlangsung sekitar 5 jam 39 menit, sementara fase totalitas berlangsung sekitar 58–59 menit.
**Waktu Indonesia Barat (WIB – Jakarta dan sekitarnya)**
– Gerhana sebagian mulai (U1): 16:50 WIB (Bulan belum terbit)
– Gerhana total mulai (U2): 18:04 WIB
– Puncak gerhana: 18:33–18:34 WIB
– Gerhana total berakhir (U3): 19:02 WIB
– Gerhana sebagian berakhir (U4): 20:17 WIB
Di wilayah WIB, Bulan terbit sekitar pukul 18.00–18.30 WIB, sehingga saat muncul di ufuk timur, Bulan sudah atau sedang memasuki fase totalitas dan tampak merah.
**Waktu Indonesia Tengah (WITA – Bali, Makassar)**
– Gerhana sebagian mulai: 17:50 WITA
– Gerhana total mulai: 19:04 WITA
– Puncak: 19:33–19:34 WITA
– Gerhana total berakhir: 20:02 WITA
Wilayah ini masih bisa menyaksikan proses menuju totalitas dengan cukup jelas.
**Waktu Indonesia Timur (WIT – Papua)**
– Gerhana sebagian mulai: 18:50 WIT
– Gerhana total mulai: 20:04 WIT
– Puncak: 20:33–20:34 WIT
– Gerhana total berakhir: 21:02 WIT
Indonesia Timur memiliki peluang terbaik untuk menikmati rangkaian fase yang lebih lengkap karena Bulan terbit relatif lebih awal terhadap fase gerhana.
**Keamanan Pengamatan**
Ya. Gerhana bulan sepenuhnya aman dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan gerhana matahari yang berisiko merusak retina, gerhana bulan hanya menampilkan cahaya Matahari yang dipantulkan Bulan.
Tidak diperlukan kacamata khusus atau alat pelindung mata. Anda bahkan punya waktu cukup lama untuk menikmatinya karena fenomena ini berlangsung berjam-jam.
**Panduan Mengamati Blood Moon**
Agar pengalaman menyaksikan blood moon semakin maksimal, berikut beberapa tips praktis:
**1. Pilih Lokasi Terbuka**
Cari tempat dengan pandangan bebas ke arah timur (arah Bulan terbit), seperti lapangan terbuka, pantai, atau dataran tinggi.
**2. Hindari Polusi Cahaya**
Menjauh dari lampu kota akan membuat warna merah Bulan tampak lebih dramatis.
**3. Gunakan Binokular atau Teleskop**
Alat bantu optik memungkinkan Anda melihat detail permukaan Bulan saat menggelap dan berubah warna.
**4. Tips Memotret dengan Smartphone**
Bahkan kamera ponsel bisa menghasilkan foto bagus jika:
– Dipasang pada tripod
– Mengurangi exposure agar Bulan tidak terlalu terang (overexposed)
– Menggunakan mode manual jika tersedia
**5. Perhatikan Langit Sekitar**
Saat totalitas, langit di sekitar Bulan akan lebih gelap. Bintang-bintang yang biasanya kalah terang oleh cahaya Bulan akan muncul. Anda mungkin dapat melihat Spica (sekitar 250 tahun cahaya dari Bumi) dan Regulus (sekitar 78 tahun cahaya).
**Gerhana Berikutnya Masih Lama**
Jika Anda melewatkan momen ini, kesempatan berikutnya tidak datang dalam waktu dekat. Gerhana bulan sebagian berikutnya terjadi pada 27–28 Agustus 2026, tetapi tidak optimal terlihat dari Indonesia.
Untuk gerhana bulan total yang kembali terlihat di wilayah ini, kita harus menunggu hingga malam Tahun
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: