Apa Itu “Kremasi Air” yang Disebut Lebih Ramah Lingkungan?

Dunia industri pemakaman tengah mengalami transformasi signifikan. Seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya kesadaran lingkungan, pilihan metode pemakaman tidak lagi terbatas pada penguburan atau kremasi konvensional. Kini muncul inovasi baru yang jauh lebih ramah lingkungan: kremasi air atau aquamation.

Skotlandia baru-baru ini mencatat sejarah dengan menjadi negara pertama di Britania Raya yang secara resmi melegalkan metode pemakaman berkelanjutan tersebut. Keputusan ini menarik perhatian global karena menawarkan solusi alternatif dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan kremasi tradisional.

**Teknologi Hidrolisis Alkali**

Kremasi air memiliki beragam sebutan, antara lain aquamation, biocremation, resomation, atau flameless cremation. Metode ini mengandalkan proses kimia bernama hidrolisis alkali untuk mengurai tubuh manusia atau hewan.

Berbeda dengan kremasi konvensional yang menggunakan api, proses ini memanfaatkan campuran air dan zat alkali yang dipanaskan untuk memecah jaringan tubuh. Jenazah ditempatkan dalam wadah bertekanan tinggi berisi larutan air dan kalium hidroksida (potash/lye).

Larutan tersebut kemudian dipanaskan hingga mencapai suhu 90–150 derajat Celsius. Karena berada dalam wadah bertekanan, larutan tidak mendidih. Sebaliknya, cairan tersebut secara bertahap mengurai jaringan organik tubuh selama beberapa jam hingga hanya menyisakan bagian tulang.

**Hasil Akhir yang Berbeda**

Meskipun menggunakan cairan, kremasi air tidak sepenuhnya melarutkan tubuh. Sama seperti kremasi api, kerangka tulang tetap bertahan dan kemudian digiling menjadi abu kremasi yang dapat disimpan keluarga dalam guci atau ditebar di tempat tertentu.

Perbedaan terletak pada karakteristik abu yang dihasilkan. Abu dari kremasi api biasanya berwarna abu-abu, sedangkan abu dari kremasi air cenderung berwarna putih. Selain itu, jumlah abu yang dihasilkan dari aquamation biasanya lebih banyak.

Metode ini memiliki beberapa keunggulan teknis. Perangkat medis seperti alat pacu jantung tidak perlu dilepas sebelum proses dilakukan. Menurut penelitian dari National Law School of India University, merkuri dari tambalan gigi dapat ditangkap dan didaur ulang, tidak terbakar dan terlepas ke atmosfer seperti pada kremasi api.

**Dampak Lingkungan yang Lebih Kecil**

Kremasi tradisional memerlukan energi besar untuk menghasilkan panas tinggi guna menghancurkan tubuh manusia. Proses tersebut menghasilkan jutaan ton karbon dioksida setiap tahun, serta melepaskan polutan seperti PM10 dan PM2.5 ke udara.

Kedua partikel ini memiliki dampak kesehatan serius. PM10 dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan bunuh diri, sementara PM2.5 berhubungan dengan gangguan jantung dan paru-paru, penyakit kronis, hingga komplikasi kelahiran.

Sebaliknya, aquamation hanya membutuhkan sekitar sepersepuluh energi yang diperlukan kremasi api. Metode ini tidak menghasilkan emisi langsung, sehingga diperkirakan dapat mengurangi jejak karbon hingga 75 persen.

Sisa cairan dari proses ini berupa campuran steril senyawa organik, termasuk garam dan asam amino. Cairan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk atau dinetralkan dan dibuang dengan aman ke saluran air.

**Tantangan Adopsi Global**

Meski memiliki banyak keunggulan, kremasi air belum tersedia secara luas di berbagai negara. Penyebabnya antara lain regulasi pemakaman yang beragam serta keterbatasan fasilitas pendukung.

Namun, meningkatnya kesadaran global terhadap perubahan iklim dan dampak lingkungan membuat metode ini semakin mendapat perhatian. Beberapa tokoh dunia bahkan telah memilih metode ini, termasuk Uskup Agung Desmond Tutu.

**Pelopor Perubahan**

Dengan melegalkan aquamation, Skotlandia kini menjadi pelopor di Britania Raya dalam menyediakan opsi pemakaman yang lebih berkelanjutan. Keputusan ini mencerminkan komitmen negara tersebut terhadap inovasi ramah lingkungan.

Seiring meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, bukan tidak mungkin kremasi air akan menjadi alternatif yang semakin populer di masa mendatang. Langkah Skotlandia dapat menjadi inspirasi bagi negara lain untuk mengadopsi teknologi pemakaman yang lebih berkelanjutan.

Revolusi dalam industri pemakaman ini menunjukkan bahwa bahkan dalam aspek paling fundamental kehidupan manusia, inovasi teknologi dapat memberikan solusi yang lebih baik bagi planet ini.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Orkestra Pemakaman

Metode Ovulasi Billings

Ensiklopedia Saintis Junior: Tubuh Manusia