Populasi Harimau Sumatra Terus Menurun, Hilangnya Mangsa dan Habitat Jadi Ancaman

Harimau sumatra, satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, kini menghadapi ancaman serius. Satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatra ini populasinya justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir akibat menyusutnya hutan dan berkurangnya satwa mangsa di alam liar.

Prof Ani Mardiastuti, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menyoroti kondisi mengkhawatirkan ini dalam IPB Podcast yang disiarkan di kanal YouTube IPB TV. Menurut dia, populasi harimau sumatra menunjukkan tren yang menurun, bukan bertambah.

“Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit,” jelasnya.

Prof Ani menjelaskan bahwa berkurangnya habitat hutan serta menurunnya populasi rusa sebagai mangsa utama menjadi faktor utama yang menekan kelangsungan hidup predator puncak tersebut.

**Peran Vital sebagai Predator Tertinggi**

Dalam ekosistem hutan, harimau sumatra menempati posisi sebagai apex predator atau predator puncak. Posisi ini menempatkannya di tingkat tertinggi dalam rantai makanan. Perannya sangat krusial karena membantu menjaga keseimbangan populasi satwa lain, terutama hewan herbivora.

Kehadiran harimau memastikan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati di hutan tetap terpelihara. Tanpa kehadiran predator puncak, populasi hewan pemakan tumbuhan dapat meningkat secara tidak terkendali. Akibatnya, vegetasi hutan berisiko rusak karena tekanan makan yang berlebihan.

**Kelangkaan Mangsa Picu Konflik dengan Manusia**

Selain kehilangan habitat, harimau sumatra menghadapi masalah serius berupa berkurangnya mangsa alami, seperti rusa. Kondisi ini memaksa harimau mencari sumber makanan alternatif, termasuk mendekati permukiman manusia.

Ketika situasi ini terjadi, konflik antara manusia dan satwa liar sering tidak dapat dihindari. Harimau yang kelaparan terkadang memangsa ternak milik warga.

“Sebetulnya masyarakat bukan anti harimau. Mereka hanya takut karena ternaknya diambil. Di sinilah dilema terjadi antara keselamatan manusia dan pelestarian satwa,” kata Prof Ani.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa konflik bukan semata-mata karena masyarakat tidak peduli pada konservasi, melainkan karena kebutuhan ekonomi dan rasa aman.

**Perubahan Lanskap Memperburuk Situasi**

Pembukaan hutan untuk berbagai kebutuhan pembangunan semakin memperparah kondisi harimau sumatra. Lanskap Pulau Sumatra yang dahulu didominasi hutan kini telah berubah secara drastis. Akibat perubahan tersebut, satwa liar tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan sumber makanan alami.

Harimau yang terdesak sering kali akhirnya ditangkap atau dipindahkan setelah konflik dengan manusia terjadi. Langkah-langkah ini memang bertujuan meredakan konflik, namun dalam jangka panjang dapat mempercepat penurunan populasi harimau di alam liar.

**Dampak Ekosistem jika Harimau Punah**

Menurut Prof Ani, kepunahan harimau tidak sekadar berarti hilangnya satu spesies. Dampaknya dapat merambat ke seluruh ekosistem. Predator puncak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi satwa lain. Jika predator ini hilang, populasi mangsa dapat meningkat drastis dan merusak vegetasi hutan.

“Ada semakin banyak satwa liar, kondisi bumi semakin seimbang. Kalau keseimbangan ini terganggu, dampaknya sering baru terasa puluhan tahun kemudian,” jelasnya.

Ia mencontohkan penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan bagaimana hilangnya predator menyebabkan perubahan besar pada ekosistem. Tanpa predator, populasi mangsa meningkat tidak terkendali hingga merusak regenerasi tumbuhan di hutan.

**Konservasi Memerlukan Keterlibatan Semua Pihak**

Untuk menjaga kelangsungan hidup harimau sumatra, Prof Ani menekankan pentingnya melindungi habitat hutan dan memastikan ketersediaan mangsa alami, seperti rusa. Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memperdagangkan bagian tubuh satwa liar serta meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi dan kampanye konservasi.

Menurutnya, upaya menyelamatkan harimau sumatra tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Semua pihak, termasuk masyarakat, memiliki tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan satwa liar ini.

“Sebelum terlambat, cobalah kita selamatkan. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” tutupnya.

Upaya konservasi yang komprehensif dan melibatkan semua stakeholder menjadi kunci untuk mencegah kepunahan harimau sumatra dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan Indonesia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Nat Geo Predatorpedia

Catatan di Sumatra