Siulan Listrik Misterius Terdeteksi di Mars, Bukti Kilatan Listrik di Atmosfer Planet Merah

Para ilmuwan akhirnya berhasil merekam bukti pertama adanya pelepasan listrik di atmosfer Mars. Sinyal yang tertangkap berupa “siulan listrik” (electric whistle)—sebuah gelombang radio lemah yang muncul akibat pelepasan listrik mirip petir.

Penemuan ini mengubah sebuah kemungkinan teoritis menjadi fakta ilmiah. Artinya, Mars ternyata mampu menghasilkan letupan listrik yang mengirim gelombang radio hingga ke luar angkasa.

Temuan tersebut dianalisis dari data wahana MAVEN milik NASA yang mengorbit Mars. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances.

**Jejak Gelombang Radio Mengungkap Petir Mars**

Semua bermula dari satu jejak gelombang radio yang tertangkap di orbit tinggi Mars. Pola sinyal tersebut menunjukkan bentuk khas yang dikenal ilmuwan sebagai “descending electromagnetic whistle”—frekuensi yang menurun secara bertahap.

Fisikawan atmosfer Frantisek Nemec dari Charles University kemudian menganalisis sinyal tersebut dan menemukan bahwa polanya sangat mirip dengan sidik jari radio dari pelepasan listrik yang dihasilkan petir.

Peristiwa ini berlangsung sangat singkat, kurang dari setengah detik, tetapi menunjukkan karakteristik yang sama dengan sinyal “whistler” yang sering terdeteksi di Bumi.

Nemec menjelaskan bahwa fenomena ini penting karena Mars jarang memungkinkan gelombang semacam itu naik ke luar angkasa tanpa melemah.

“Sinyal yang kami lihat memiliki pola frekuensi menurun yang identik dengan sinyal whistler yang dihasilkan oleh petir di Bumi,” kata Nemec.

Temuan tersebut juga menimbulkan pertanyaan baru: seberapa sering pelepasan listrik tersembunyi ini sebenarnya terjadi di Mars?

**Mekanisme Pembentukan Siulan Radio**

Ketika terjadi pelepasan listrik, energi dilepaskan dalam berbagai frekuensi, termasuk gelombang radio frekuensi sangat rendah. Jika gelombang ini naik melalui atmosfer yang mengandung partikel bermuatan, sinyalnya bisa berubah menjadi whistler, yaitu suara radio yang frekuensinya turun secara bertahap.

Hal ini terjadi karena frekuensi tinggi bergerak lebih cepat melalui gas bermuatan, sedangkan frekuensi rendah bergerak lebih lambat. Akibatnya, ketika sinyal mencapai wahana antariksa, ledakan listrik tunggal berubah menjadi pola nada yang menurun, seperti siulan.

**Debu Mars sebagai Generator Listrik**

Mars dikenal sangat kering dan berdebu. Namun justru kondisi ini memungkinkan listrik terbentuk. Butiran debu yang terus saling bertabrakan dapat menghasilkan muatan listrik melalui efek triboelektrik—yaitu listrik yang muncul ketika dua benda saling bergesekan.

Fenomena ini sangat umum di Mars karena banyak dust devil atau pusaran debu raksasa, ditambah badai debu yang bisa mencakup seluruh planet. Kondisi tersebut membuat kemungkinan adanya petir di Mars semakin masuk akal, meskipun kilatan cahaya petir belum pernah tertangkap kamera.

**Kondisi Khusus untuk Deteksi**

Mars tidak memiliki medan magnet global seperti Bumi. Sebagai gantinya, hanya ada sisa-sisa medan magnet lokal pada kerak planet. Di daerah tertentu yang memiliki medan magnet ini, lapisan ionosfer—lapisan atmosfer yang bermuatan listrik—dapat menyalurkan energi radio ke luar angkasa.

Namun biasanya, sinar matahari membuat ionosfer terlalu padat, sehingga gelombang radio sulit menembusnya. Karena itu, para ilmuwan memperkirakan peristiwa pada Juni 2015 terjadi tepat setelah matahari terbenam di lokasi tersebut.

Pada kondisi lebih gelap, ionosfer menjadi lebih tipis sehingga sinyal dapat lolos dan terdeteksi oleh MAVEN. Tanpa kondisi tersebut, sinyal kemungkinan besar akan menghilang sebelum mencapai orbit.

**Kelangkaan Data yang Mengejutkan**

Tim peneliti memeriksa 108.418 rekaman gelombang radio dari Mars. Hasilnya mengejutkan: hanya satu sinyal yang benar-benar cocok dengan pola whistler.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang untuk mendeteksinya sangat kecil. Kurang dari 1% rekaman berasal dari wilayah dengan konfigurasi medan magnet yang tepat, dan lebih sedikit lagi terjadi di sisi malam planet.

Artinya, kelangkaan sinyal mungkin bukan karena Mars tidak aktif secara listrik, tetapi karena sangat sulit terdeteksi.

Para peneliti juga menemukan bahwa hanya bagian frekuensi rendah dari sinyal yang berhasil mencapai wahana. Frekuensi tinggi menghilang selama perjalanan karena kehilangan energi saat melewati plasma, yaitu gas yang berisi partikel bermuatan.

Akibatnya, MAVEN hanya mendeteksi frekuensi hingga sekitar 110 hertz, meskipun pelepasan listrik aslinya kemungkinan jauh lebih luas.

**Estimasi Kekuatan Kilatan Listrik**

Di orbit, sinyal ini tampak cukup lemah—sekitar 10 kali lebih kuat dari kebisingan latar belakang radio. Namun setelah memperhitungkan energi yang hilang selama perjalanan, para peneliti memperkirakan sumbernya sebanding dengan pelepasan listrik kuat di Bumi.

Meski demikian, para ilmuwan belum dapat menentukan lokasi pasti kejadian tersebut. Estimasi terbaiknya masih berada dalam area sekitar 320 kilometer.

**Bukti Tambahan dari Permukaan Planet**

Menariknya, bukti aktivitas listrik di Mars juga muncul dari permukaan planet. Pada akhir 2025, rover Perseverance merekam suara retakan kecil dari pelepasan listrik selama peristiwa badai debu.

Instrumen rover mencatat 55 kejadian listrik kecil, biasanya saat terjadi dust devil atau badai debu di sekitar rover.

Jika digabungkan dengan data MAVEN, para ilmuwan kini melihat bahwa Mars memiliki berbagai bentuk aktivitas listrik, mulai dari percikan kecil hingga pelepasan energi yang lebih besar.

**Implikasi untuk Kimia Prebiotik**

Pelepasan listrik tidak hanya menghasilkan sinyal radio. Energi tersebut juga dapat memecah molekul gas sederhana dan membentuk molekul baru. Proses ini berkaitan dengan kimia prebiotik, yaitu tahap kimia yang mendahului munculnya kehidupan.

Eksperimen terkenal Miller–Urey pada tahun 1953 menunjukkan bahwa pelepasan listrik dapat menghasilkan asam amino dari gas sederhana dalam kondisi laboratorium.

Mars memang belum terbukti dapat mendukung kehidupan. Namun setiap bukti adanya pelepasan listrik be


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

2045 Hz: Frekuensi Masa Depan Indonesia