Pernahkah Anda merasa hewan peliharaan berusaha “berbicara” dengan Anda? Misalnya ketika anjing menatap dengan ekspresi tertentu, menggonggong dengan nada khas, atau merengek saat waktunya makan. Banyak pemilik hewan merasakan seolah-olah mereka bisa memahami maksud hewan peliharaan mereka.
Namun pertanyaannya: apakah manusia suatu hari benar-benar bisa bercakap-cakap dengan hewan?
Gagasan ini menjadi tema dalam film terbaru Disney dan Pixar berjudul Hoppers. Dalam cerita tersebut, para ilmuwan menemukan teknologi yang memungkinkan kesadaran manusia “dipindahkan” ke robot mirip hewan. Dengan cara itu, manusia bisa masuk ke dunia hewan dan berbicara langsung dengan mereka.
Meski terdengar seperti fiksi ilmiah, sejumlah ilmuwan mengatakan bahwa sebagian konsep komunikasi lintas spesies sebenarnya mulai dipelajari secara serius.
**Riset Komunikasi Hewan Berkembang Pesat**
Beberapa ilmuwan percaya bahwa komunikasi dua arah antara manusia dan hewan mungkin saja terjadi suatu hari nanti, meskipun tidak dalam bentuk bahasa seperti percakapan manusia.
National Geographic Explorer David Gruber menjelaskan bahwa meski teknologi seperti dalam film masih fiksi, riset tentang komunikasi hewan berkembang pesat. Ia dan timnya melalui proyek Project CETI (Cetacean Translation Initiative) mencoba memecahkan kode vokalisasi paus sperma.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi paus mungkin lebih mirip bahasa manusia daripada yang sebelumnya diperkirakan.
“Meski masih terdengar seperti fiksi ilmiah untuk ‘masuk’ ke kesadaran hewan, beberapa aspek dari itu sebenarnya mulai menjadi mungkin saat ini,” kata Gruber.
**Bukti Kemampuan Komunikasi Lintas Spesies**
Penelitian lain di berbagai negara juga menunjukkan hal menarik:
– Simpanse di penangkaran berhasil diajari bahasa isyarat
– Cumi-cumi (cuttlefish) diketahui menggunakan gerakan tentakel sebagai sinyal
– Lumba-lumba hidung botol menggunakan siulan unik mirip sistem nama
Temuan-temuan ini membuat sebagian ilmuwan percaya bahwa beberapa hewan tertentu mungkin mampu mempelajari unsur bahasa manusia.
“Jika memang demikian, kita mungkin bisa melakukan percakapan dengan hewan yang telah dilatih,” kata Arik Kershenbaum, peneliti dari Girton College, University of Cambridge.
Namun ia menambahkan satu catatan penting: “Kami cukup yakin bahwa tidak ada hewan yang menggunakan bahasa seperti manusia di alam liar.”
**Mengapa Anjing Tampak Paling Mudah Dipahami**
Manusia mungkin merasa paling mudah memahami anjing dibanding hewan lain. Hal ini bukan kebetulan. Selama ribuan tahun domestikasi, anjing berevolusi untuk memahami manusia. Mereka belajar membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, nada suara, dan perintah sederhana.
“Dalam beberapa hal, kemampuan komunikasi lintas spesies itu memang ‘dibudidayakan’ pada anjing,” jelas Kershenbaum.
Namun kemampuan mengenali kata tidak berarti mereka memahami struktur kalimat atau konsep kompleks.
Menurut ahli zoologi Tel Aviv University, Yossi Yovel, bahasa manusia memiliki keunikan yang belum ditemukan pada spesies lain.
“Saya tidak melihat sesuatu yang benar-benar serupa di dunia hewan,” katanya. “Jika kamu berharap bisa bercakap-cakap dengan hewan seperti kita berbicara sekarang… mungkin tidak.”
**Sistem Komunikasi Hewan yang Kompleks**
Meski tidak memiliki bahasa seperti manusia, hewan tetap memiliki sistem komunikasi yang kaya. Mereka menggunakan berbagai cara sekaligus, seperti suara, bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta bau atau feromon.
Informasi yang disampaikan bisa berupa rasa lapar, rasa takut, sinyal bahaya, ajakan kawin, hingga status sosial.
Hewan yang hidup dalam kelompok sosial kompleks cenderung memiliki sistem komunikasi lebih rumit. Contohnya anjing dan serigala, lumba-lumba, paus, dan primata.
“Ketika hidup dalam kelompok sosial, memahami kondisi emosional individu lain menjadi sangat penting,” kata Kershenbaum.
Namun kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa bahkan sistem komunikasi paling canggih sekalipun tidak memiliki tata bahasa dan kemampuan menyampaikan ide abstrak seperti bahasa manusia.
**Hambatan Fundamental dalam Memahami Hewan**
Kesulitan terbesar dalam memahami hewan adalah perbedaan cara mereka merasakan dunia. David Gruber menjelaskan bahwa setiap spesies memiliki pengalaman sensorik yang sangat berbeda dari manusia.
“Spesies lain memiliki cara menyampaikan makna yang tidak selalu cocok dengan cara manusia,” katanya.
Ia memberi contoh hipotetis: Bahkan jika seekor singa bisa menggunakan kata-kata manusia, pengalaman hidup dan prioritasnya yang berbeda mungkin tetap membuat maknanya sulit dipahami manusia.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan filsuf Ludwig Wittgenstein bahwa kata-kata saja tidak cukup untuk menciptakan makna, karena pengalaman hidup tiap makhluk sangat berbeda.
**Teknologi AI Membuka Peluang Baru**
Salah satu perkembangan paling menjanjikan datang dari teknologi kecerdasan buatan (AI). Model deep learning kini mampu menemukan pola dalam suara hewan yang sangat sulit dikenali manusia.
Gruber mengatakan teknologi ini bisa membuka cara baru untuk memahami komunikasi spesies lain.
“Kita berada di ambang kemampuan untuk mendengar dan menerjemahkan jutaan spesies lain yang hidup bersama kita di planet ini,” ujarnya.
Namun prosesnya tidak mudah. Bahkan jika AI menemukan perbedaan pola suara, ilmuwan masih harus memastikan arti sebenarnya.
“Pada akhirnya, hanya lumba-lumba yang bisa memberi tahu apakah perbedaan suara itu memiliki makna berbeda,” kata Kershenbaum.
Metode lain seperti pemindaian otak juga dipertimbangkan, tetapi sulit dilakukan karena hewan harus berada dalam kondisi tidak alami, misalnya duduk diam di dalam mesin MRI.
**Manfaat Potensial Komunikasi Lintas Spesies**
Jika komunikasi lintas spesies berhasil dikembangkan, manfaatnya bisa sangat besar. Beberapa di antaranya adalah memahami kebutuhan hewan peliharaan, meningkatkan kesejahteraan hewan ternak, membantu konservasi sat
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: