Menentukan usia hewan yang sudah mati—khususnya hewan purba seperti dinosaurus—bukanlah hal yang mudah. Para ilmuwan biasanya bergantung pada berbagai petunjuk yang tersimpan di dalam tulang.
Namun riset terbaru menunjukkan bahwa metode yang selama ini dianggap cukup akurat mungkin perlu dievaluasi kembali.
Studi terbaru tentang buaya mengungkap bahwa hewan ini bisa mengalami lebih dari satu siklus pertumbuhan dalam setahun. Temuan ini penting karena buaya merupakan kerabat dekat dinosaurus.
Jika pola yang sama terjadi pada dinosaurus, maka sebagian estimasi usia dinosaurus yang selama ini digunakan mungkin tidak sepenuhnya tepat.
**Cara Menentukan Usia dari Tulang**
Dalam biologi dan paleontologi—ilmu yang mempelajari organisme purba—ada beberapa cara untuk memperkirakan usia kerangka hewan.
Salah satunya adalah mengamati tingkat penyatuan sutura pada tulang, yaitu seberapa jauh lempeng-lempeng tulang telah menyatu saat hewan berkembang.
Metode lain adalah memeriksa tekstur permukaan tulang. Namun metode yang paling banyak digunakan adalah mempelajari tanda pertumbuhan (growth marks) pada struktur mikroskopis tulang.
Sebagian besar hewan modern tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama sepanjang tahun. Mereka biasanya mengalami periode pertumbuhan cepat pada musim yang menguntungkan, misalnya ketika makanan melimpah, suhu ideal, dan air tersedia cukup.
Sebaliknya, pertumbuhan melambat pada musim yang kurang menguntungkan.
**Jejak Pertumbuhan seperti Cincin Pohon**
Perlambatan pertumbuhan ini meninggalkan jejak pada tulang, mirip seperti cincin pada batang pohon.
Dengan menghitung jumlah tanda tersebut, ilmuwan dapat memperkirakan usia hewan. Metode ini dikenal sebagai skeletochronology.
Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian telah mencoba menentukan kapan siklus pertumbuhan tersebut terbentuk dan bagaimana metode ini bisa digunakan untuk menentukan usia hewan.
**Pentingnya Metode Ini untuk Studi Dinosaurus**
Skeletochronology sangat penting dalam penelitian tentang reptil purba, termasuk dinosaurus. Metode ini membantu ilmuwan menyusun grafik pertumbuhan dinosaurus dari waktu ke waktu, sekaligus membandingkan laju pertumbuhan berbagai spesies.
Informasi tersebut penting untuk memahami bagaimana hewan purba ini berkembang hingga mencapai ukuran raksasa.
Namun penelitian baru menunjukkan bahwa metode ini mungkin memiliki keterbatasan.
**Temuan Mengejutkan pada Caiman Muda**
Peneliti dari laboratorium paleobiologi di University of Cape Town sebelumnya menemukan sesuatu yang tidak terduga ketika mempelajari caiman muda—reptil yang masih satu keluarga dengan buaya dan aligator.
Pada hewan yang berusia kurang dari satu tahun, para peneliti sudah menemukan tanda pertumbuhan pada tulangnya.
Padahal secara teori, hewan yang masih sangat muda seharusnya belum menunjukkan siklus pertumbuhan tahunan.
Temuan ini membuat para peneliti menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati dalam memperkirakan usia kerangka hewan.
**Eksperimen dengan Antibiotik sebagai Penanda**
Penelitian pada buaya Nil awalnya bertujuan untuk memahami dinamika pertumbuhan hewan tersebut.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan memberikan antibiotik pada buaya berusia dua tahun yang dipelihara di peternakan Le Bonheur Reptiles and Adventures, sekitar 60 kilometer dari Cape Town, Afrika Selatan.
Antibiotik tersebut kemudian terintegrasi ke dalam tulang yang sedang tumbuh, sehingga berfungsi sebagai penanda waktu.
Setelah buaya tersebut mati, para peneliti mempelajari tulangnya dengan membuat irisan tipis yang diamati di bawah mikroskop.
Dari penanda antibiotik tersebut, ilmuwan dapat mengetahui berapa banyak tulang yang terbentuk dalam periode waktu tertentu.
**Hasil Mengejutkan: Siklus Ganda dalam Setahun**
Hasilnya sangat mengejutkan. Selain perlambatan pertumbuhan pada musim dingin yang memang diperkirakan terjadi, para peneliti juga menemukan tanda pertumbuhan tambahan pada musim panas—periode yang seharusnya menjadi masa pertumbuhan cepat.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa buaya kemungkinan merespons faktor lingkungan tertentu—seperti suhu, curah hujan, atau kompetisi—dengan memperlambat pertumbuhan mereka untuk sementara waktu, sehingga membentuk cincin pertumbuhan baru.
**Lima hingga Enam Siklus pada Buaya Berusia Dua Tahun**
Para peneliti menemukan bahwa buaya berusia dua tahun dapat memiliki lima hingga enam siklus pertumbuhan di dalam tulangnya.
Padahal jika mengikuti asumsi sebelumnya, seharusnya hanya ada satu siklus per tahun.
Artinya, jika ilmuwan menggunakan metode skeletochronology secara langsung, usia buaya tersebut akan terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.
Selama ini para ilmuwan justru lebih khawatir akan meremehkan usia hewan, karena beberapa tanda pertumbuhan bisa hilang selama proses pertumbuhan tulang.
Namun penelitian ini menunjukkan bahwa sebaliknya juga bisa terjadi—usia hewan bisa terlihat lebih tua dari yang sebenarnya.
**Implikasi untuk Penelitian Dinosaurus**
Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting tentang keakuratan metode skeletochronology dalam memperkirakan usia dinosaurus.
Memang, buaya dalam penelitian ini dipelihara di peternakan, sehingga kondisinya mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan lingkungan alami.
Namun di peternakan tersebut, buaya justru mendapatkan kondisi yang optimal untuk tumbuh—dan tetap saja mereka membentuk tanda pertumbuhan tambahan.
Selain itu, penelitian tentang tulang dinosaurus juga menghadapi beberapa tantangan lain, seperti banyaknya tanda pertumbuhan yang sangat rapat sehingga sulit dibedakan, atau tanda pertumbuhan yang tidak membentuk lingkaran penuh pada potongan tulang.
**Kerabat Dinosaurus Menunjukkan Pola Serupa**
Para peneliti juga menambahkan bahwa kerabat hidup dinosaurus—yaitu burung dan buaya—ternyata bisa membentuk tanda pertumbuhan tambahan.
Karena itu, sangat mungkin sebagian tanda pada tulang dinosaurus juga merupakan “cincin ekstra” yang tidak berkaitan langsung dengan usia.
**Perlunya Penelitian Lanjutan**
Temuan ini menunjukkan bahwa metode yang selama ini digunakan untuk menentukan usia dinosaurus mungkin perlu dikaji ulang dengan lebih hati-hati
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait: