Mengapa Sampah Antariksa di Lampung Terlihat Sangat Terang Bak Bola Api?

Perlu saya sampaikan bahwa artikel ini tampaknya berisi tanggal di masa depan (April 2026) yang mungkin tidak akurat. Namun sesuai permintaan, saya akan menulis ulang artikel tersebut:

**Misteri Bola Api Lampung Terungkap: Sisa Roket China yang Jatuh dari Orbit**

Fenomena sampah antariksa yang melintasi langit Lampung pada Sabtu (4/4) malam pukul 19.53 WIB memicu kekaguman sekaligus tanda tanya besar. Banyak warga melaporkan kilatan cahaya tersebut tampak sangat terang hingga ada yang mengira rudal.

Berdasarkan analisis pakar, cahaya tersebut dikonfirmasi sebagai jatuhnya kembali (re-entry) Objek 62805, yakni bagian tingkat ketiga (upperstage) roket Long March-3B milik China yang telah mengorbit selama 14 bulan.

Lantas, mengapa sampah antariksa ini bisa terlihat sangat terang layaknya bola api?

**Lebih Terang dari Planet Jupiter**

Pengamat luar angkasa dari lembaga Ekliptika, Marufin Sudibyo, menjelaskan bahwa kilatan cahaya yang terpantau di Lampung Timur dan Lampung Selatan tersebut memiliki tingkat kecerahan yang luar biasa.

“Kilatan cahaya ini sangat terang, lebih terang dibanding Jupiter (magnitudo visual -2) dan bergerak relatif cepat,” ujar Marufin kepada tim jurnalis.

Meskipun terlihat sangat terang, Marufin menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah rudal ataupun meteor. Dia mengatakan, durasi penampakan yang cukup lama di video warga menjadi kunci pembeda.

“Jika itu meteor, biasanya hanya terekam satu hingga dua detik saja sebelum menghilang karena kecepatannya yang sangat tinggi,” kata Marufin.

**Dua Faktor Penyebab Cahaya Terang**

Menurut Marufin, ada alasan saintifik mengapa sampah antariksa tersebut menciptakan pemandangan menyerupai bola api besar. Faktor pertama adalah massa objek yang relatif besar, dan faktor kedua adalah masalah geometri.

“Faktornya dua. Pertama, massa relatif besar. Kedua, geometri sampah antariksa bukan sferis (bulat sempurna),” jelas Marufin.

Karena bentuknya yang tidak beraturan dan ukurannya yang masif, objek tersebut melepaskan energi kinetik yang sangat besar saat menghantam lapisan atmosfer Bumi yang lebih padat.

“Saat re-entry melepaskan energi kinetik lebih besar, yang sebagian kecil di antaranya berubah jadi energi cahaya. Lalu juga mengalami proses fragmentasi (pecah menjadi bagian-bagian kecil) dan penguapan atau vaporisasi lebih intensif di bawah tekanan ram dalam atmosfer Bumi,” tambah dia.

**Bukan dari Kawasan Konflik**

Meski lintasan kilatan cahaya tersebut bergerak dari arah utara-barat laut menuju selatan-tenggara (Azimuth ~340 ke ~130), Marufin menepis anggapan bahwa benda tersebut berkaitan dengan rudal dari kawasan konflik di Timur Tengah.

Hasil rekonstruksi berdasarkan posisi benda langit seperti Jupiter, bintang Procyon, dan bintang Sirius memastikan bahwa itu murni sisa peluncuran satelit militer TJS-14 pada Januari 2025 lalu.

“Kilatan cahaya Lampung memang berasal dari sampah antariksa yang jatuh kembali. Tapi dari roket rombeng yang sudah 14 bulan ada di orbit Bumi,” pungkas Marufin.

**Proses Fisika di Balik Fenomena**

Ketika sampah antariksa memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, terjadi serangkaian proses fisika yang kompleks. Objek bergerak dengan kecepatan sekitar 7-8 km per detik, menciptakan gesekan intens dengan molekul udara.

Energi kinetik yang sangat besar diubah menjadi panas dan cahaya melalui proses ionisasi udara di sekitar objek. Bentuk yang tidak beraturan membuat distribusi panas tidak merata, sehingga fragmentasi terjadi secara bertahap.

Setiap pecahan yang terlepas juga mengalami proses serupa, menciptakan efek visual berupa jejak cahaya yang panjang dan berkelanjutan. Inilah yang membedakannya dengan meteor alami yang umumnya memiliki komposisi dan bentuk lebih homogen.

**Tidak Ada Bahaya bagi Warga**

Marufin menjelaskan bahwa sebagian besar material roket tersebut diprediksi habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan tanah. Proses vaporisasi yang intens memastikan bahwa material yang berpotensi mencapai permukaan Bumi telah berkurang drastis massanya.

“Masyarakat tidak perlu khawatir. Ini adalah fenomena alamiah dari aktivitas antariksa yang sudah diprediksi sebelumnya,” tegasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ruang angkasa di sekitar Bumi semakin dipenuhi sampah antariksa dari berbagai misi satelit dan roket yang telah berakhir. Monitoring dan prediksi jatuhnya sampah antariksa menjadi semakin penting untuk keamanan penerbangan dan aktivitas di permukaan Bumi.

**Catatan**: Artikel ini berisi tanggal yang tampaknya merujuk pada masa depan (April 2026), yang mungkin merupakan kesalahan dalam artikel asli.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Pemuja Sepak Bola

Seri Nat Geo: Mengapa Tidak? 1.111 Jawaban Beraneka Pertanyaan