Jatuhnya sampah antariksa roket Long March-3B milik China yang melintasi langit Lampung dan Banten pada Sabtu (4/4) malam kembali memicu diskusi mengenai keamanan penduduk di Bumi.
Meski terlihat indah seperti kembang api, benda yang terbakar di atmosfer tersebut menyisakan pertanyaan krusial: mungkinkah ada bagian yang jatuh ke daratan dan menimbulkan kerusakan?
Pengamat angkasa luar dari lembaga Ekliptika, Marufin Sudibyo, memberikan gambaran mengenai risiko fisik dari fenomena re-entry atau jatuh-kembalinya benda antariksa ke permukaan Bumi.
**Sepersepuluh Massa Masih Tersisa**
Meskipun sebagian besar material sampah antariksa akan menguap dan hancur saat bergesekan dengan atmosfer, tidak semua bagian benar-benar musnah. Marufin menjelaskan bahwa secara umum, masih ada sisa material yang mampu mencapai permukaan.
“Secara kasar, umumnya sepersepuluh massa sampah antariksa akan tersisa dan mendarat ke permukaan Bumi,” ungkap Marufin kepada Kompas.com.
Bagian-bagian yang bertahan ini biasanya adalah komponen yang dirancang khusus untuk kondisi ekstrem.
“Biasanya adalah bagian-bagian yang relatif kuat, tahan suhu tinggi, dan tahan tekanan tinggi. Misalnya mesin, tangki bahan bakar, hingga tangki gas-generator yang umumnya berisi Helium untuk mengendalikan kerja mesin,” tambahnya.
**Nasib Serpihan di Kasus Lampung**
Untuk kasus di Lampung dan Banten kemarin, Marufin melakukan rekonstruksi lintasan untuk memetakan titik jatuh sisa material tersebut. Berdasarkan data, lintasan sampah antariksa upperstage Long March-3B/E ini melewati Laut Jawa di utara Banten dan Jakarta.
Hal ini diperkuat dengan adanya kesaksian warga dari Cilegon dan Serang yang melihat kilatan cahaya serupa di langit.
“Maka kalaupun masih ada yang tersisa dari sampah antariksa ini, material itu jatuhnya ke Laut Jawa sebelah utara Banten-Jakarta. Jadi tidak ada potensi bahaya di darat (untuk kasus ini),” tegas Marufin.
**Pelajaran dari Tragedi Madura 2016**
Meski dalam kejadian kali ini daratan Indonesia aman, Marufin mengingatkan bahwa potensi kerusakan di darat akibat sampah antariksa adalah ancaman nyata yang kian tumbuh. Indonesia sendiri memiliki catatan sejarah kelam terkait hal ini.
Pada tahun 2016, sebuah kandang sapi di Pulau Madura hancur setelah tertimpa sampah antariksa yang berasal dari upperstage roket Falcon-9 milik SpaceX.
“Saat itu objek yang menimpa adalah tangki COPV (Composite Overwrapped Pressure Vessel) untuk Helium,” kenang Marufin.
Kejadian di Madura tersebut menjadi bukti otentik bahwa tangki gas bertekanan tinggi merupakan salah satu komponen roket yang paling tangguh dan berbahaya jika jatuh di kawasan pemukiman.
**Mengapa Beberapa Komponen Bertahan?**
Proses re-entry sampah antariksa melibatkan pemanasan ekstrem akibat gesekan dengan atmosfer. Suhu bisa mencapai ribuan derajat Celsius, cukup untuk menguapkan sebagian besar material logam.
Namun, komponen-komponen tertentu memiliki karakteristik khusus yang membuatnya lebih tahan:
– Tangki bertekanan tinggi dibuat dari material komposit atau logam super yang tahan panas
– Mesin roket dirancang untuk menahan suhu pembakaran yang ekstrem
– Struktur internal tertentu terlindungi oleh lapisan material di sekitarnya
Bentuk dan orientasi objek saat masuk atmosfer juga mempengaruhi seberapa banyak material yang bertahan hingga mencapai permukaan.
**Ancaman yang Meningkat**
Seiring dengan semakin padatnya orbit Bumi oleh aktivitas peluncuran satelit global, koordinasi internasional mengenai manajemen sampah antariksa menjadi sangat mendesak demi meminimalisir risiko bagi penduduk di daratan.
Saat ini, diperkirakan ada lebih dari 34.000 objek berukuran lebih dari 10 cm yang beredar di orbit Bumi. Tidak semua objek ini dapat diprediksi dengan akurat kapan dan di mana akan jatuh.
Insiden seperti yang terjadi di Lampung mengingatkan pentingnya sistem pemantauan global yang lebih baik untuk melindungi populasi di permukaan Bumi.
**Upaya Mitigasi Risiko**
Para ahli antariksa kini mengembangkan berbagai teknologi untuk mengurangi risiko sampah antariksa, termasuk:
– Desain roket yang lebih mudah terbakar habis di atmosfer
– Sistem deorbit terkontrol untuk satelit besar
– Teknologi pembersihan orbit aktif
Namun, implementasi teknologi ini masih memerlukan kerjasama internasional yang lebih kuat dan regulasi yang mengikat semua negara yang memiliki program antariksa.
Fenomena di Lampung menjadi pengingat bahwa eksplorasi ruang angkasa, meski membawa manfaat besar, juga membawa tanggung jawab untuk menjaga keamanan planet yang kita tinggali.
**Catatan**: Tanggal dalam artikel ini (April 2026) tampaknya merujuk masa depan dan kemungkinan terdapat kesalahan dalam artikel sumber.
Sumber: Kompas.com
Buku Terkait:
Melintas Perbedaan: Suara Perempuan, Agensi, Politik Solidaritas