2 Spesies Baru Begonia Ditemukan di Kalimantan, Rekor Daun Terbesar di Borneo

Ekspedisi biodiversitas yang dilakukan di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat, pada Oktober 2024 berhasil menemukan dua spesies tumbuhan baru dari genus Begonia. Kedua spesies ini menonjol karena ukuran daunnya yang luar biasa besar dibandingkan spesies Begonia lainnya di Borneo.

Dalam laporan penelitian yang diterbitkan di jurnal Taiwania (2026), kedua spesies tersebut resmi diberi nama Begonia lawar dan Begonia sadtataiana.

**Rekor Daun Terbesar di Borneo**

Spesies Begonia sadtataiana mencatatkan rekor sebagai Begonia dengan ukuran daun terbesar yang pernah ditemukan di Borneo sejauh ini. Ukuran daunnya dapat mencapai panjang 72 cm dan lebar 38 cm.

“Dengan ukuran daun raksasanya, B. sadtataiana adalah spesies Begonia dengan daun terbesar di Borneo sejauh ini,” tulis peneliti dalam dokumen tersebut.

Sementara itu, Begonia lawar memiliki ukuran daun yang sedikit lebih kecil namun tetap masif, yakni mencapai 52 x 22 cm. Nama “lawar” sendiri diambil dari bahasa Melayu Kalimantan Barat yang berarti indah atau menarik, merujuk pada pola bintik-bintik putih keperakan pada permukaan daunnya.

**Klasifikasi dan Pemanfaatan Tradisional**

Kedua spesies ini diklasifikasikan ke dalam seksyen Petermannia. Meskipun baru dideskripsikan secara ilmiah, masyarakat lokal ternyata telah memanfaatkan Begonia lawar dalam kehidupan sehari-hari.

“Masyarakat setempat mengonsumsi daun muda dan batang B. lawar secara mentah atau sebagai bumbu sup ikan karena memberikan rasa asam yang menyegarkan,” tulis peneliti.

**Habitat Spesifik dan Terbatas**

B. lawar ditemukan di lereng dekat aliran sungai hutan dipterokarpa dataran rendah. Sedangkan B. sadtataiana hanya ditemukan tumbuh di tebing-tebing vertikal kawasan karst (batu kapur) yang sangat basah dengan intensitas cahaya rendah.

**Status Konservasi yang Mengkhawatirkan**

Para peneliti memberikan peringatan serius mengenai status konservasi kedua tumbuhan ini. Begonia lawar masuk dalam kategori Genting (Endangered), sementara Begonia sadtataiana dikategorikan Kritis (Critically Endangered).

Ancaman utama bukan hanya berasal dari pembukaan lahan, melainkan juga dari perburuan tanaman hias. Spesies ini sudah dikenal luas di kalangan kolektor dengan nama dagang Begonia “umbrella”.

**Perburuan Tanaman Hias sebagai Ancaman Serius**

“Ancaman yang mungkin lebih serius adalah pengambilan oleh pemburu tanaman untuk dijual sebagai tanaman hias, yang menyebabkan penurunan berkelanjutan jumlah individu,” jelas peneliti dalam laporannya.

Di pasar internasional, harga satu tanaman ini dilaporkan dapat mencapai 75 dollar AS (Rp 1.279.815).

**Urgensi Konservasi Ex-Situ**

Mengingat populasinya yang terbatas dan risiko tinggi terhadap kebakaran lahan di sekitar habitatnya, peneliti menekankan pentingnya upaya konservasi ex-situ (budidaya di luar habitat asli) untuk mencegah kepunahan kedua spesies unik ini.

**Keunikan Morfologi dan Adaptasi**

Ukuran daun yang luar biasa besar pada kedua spesies ini diduga merupakan adaptasi terhadap kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya rendah. Daun berukuran besar memungkinkan tanaman menangkap cahaya matahari secara maksimal untuk proses fotosintesis.

Pola bintik-bintik putih keperakan pada Begonia lawar tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga diduga berfungsi sebagai refleksi cahaya untuk meningkatkan efisiensi fotosintesis di lingkungan yang minim cahaya.

**Pentingnya Eksplorasi Biodiversitas Berkelanjutan**

Penemuan kedua spesies ini menunjukkan bahwa Borneo masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang belum terungkap. Taman Nasional Betung Kerihun, sebagai kawasan konservasi penting, terbukti menjadi habitat bagi spesies-spesies endemik yang bernilai tinggi.

Eksplorasi biodiversitas yang sistematis dan berkelanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi spesies-spesies baru sebelum habitatnya mengalami degradasi atau hilang akibat aktivitas manusia.

**Tantangan Konservasi di Era Modern**

Popularitas tanaman hias eksotis di kalangan kolektor internasional menciptakan tekanan baru bagi spesies-spesies langka. Harga yang tinggi di pasar gelap tanaman hias memicu perburuan liar yang mengancam kelangsungan hidup spesies di alam liar.

Penegakan hukum yang ketat dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi menjadi kunci dalam melindungi spesies-spesies langka seperti Begonia lawar dan Begonia sadtataiana.

**Nilai Ekologi dan Ekonomi**

Selain nilai estetika dan ekonomi sebagai tanaman hias, kedua spesies Begonia ini juga memiliki potensi nilai ekologi yang penting dalam ekosistem hutan. Sebagai bagian dari understory forest, mereka berperan dalam menjaga keseimbangan mikroklimat dan siklus nutrisi di habitatnya.

Pemanfaatan tradisional Begonia lawar sebagai bahan pangan juga menunjukkan potensi nilai etnobotani yang perlu diteliti lebih lanjut untuk pengembangan sumber pangan alternatif.

**Strategi Perlindungan Terpadu**

Upaya konservasi yang efektif memerlukan pendekatan terpadu antara konservasi in-situ (di habitat asli) dan ex-situ. Pembentukan area konservasi khusus, program pemuliaan, dan bank benih menjadi strategi penting untuk memastikan kelangsungan hidup kedua spesies ini.

Kerjasama antara institusi penelitian, pemerintah, dan masyarakat lokal diperlukan untuk menciptakan program konservasi yang berkelanjutan dan efektif dalam melindungi kekayaan biodiversitas Indonesia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Si Bolang: 7 Cerita Seru di Negeri Nenek Bertelinga Panjang

The Art Of Embroidery Designs

Taman Nasional Indonesia: Permata Warisan Bangsa