Pakar IPB Ungkap 3 Alasan Mengapa Satwa Langka Sering Berpapasan dengan Manusia

Belakangan ini, masyarakat kerap dihebohkan dengan kabar kemunculan satwa langka di berbagai wilayah Indonesia. Banyak yang menganggap fenomena ini sebagai sinyal positif pulihnya alam nusantara.

Namun, ahli konservasi justru memberikan peringatan keras: seringnya satwa terlihat belum tentu berarti populasi mereka sedang membaik.

**Kompleksitas di Balik Fenomena**

Pakar Konservasi Satwa dari IPB University, Prof Ani Mardiastuti, menjelaskan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks.

Menurut Prof Ani, setidaknya ada tiga penyebab utama mengapa satwa yang biasanya bersembunyi kini lebih sering menampakkan diri. Ironisnya, salah satu penyebab utamanya justru adalah kondisi hutan yang semakin memprihatinkan.

**Desakan Akibat Kerusakan Habitat**

Penyusutan lahan hutan memaksa satwa keluar dari zona nyaman mereka. Ketika ruang gerak mengecil, probabilitas mereka bertemu dengan manusia pun meningkat drastis.

“Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia,” ujar Prof Ani.

**Kemajuan Teknologi Pemantauan**

Faktor kedua adalah kemajuan teknologi deteksi. Dulu, peneliti kesulitan memantau satwa di hutan lebat. Kini, penggunaan camera trap inframerah dan perangkat bioakustik memudahkan identifikasi satwa malam seperti burung hantu melalui suara.

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) juga mulai mengambil peran besar. AI digunakan untuk mempercepat identifikasi individu, misalnya membedakan harimau melalui pola belangnya atau mencocokkan rekaman suara burung dengan pangkalan data internasional seperti Xeno-canto.

**Pemantauan dengan Drone**

“Teknologi drone juga dimanfaatkan untuk memonitor sarang burung berukuran besar seperti elang jawa, burung pemangsa, atau bangau di lokasi yang sulit dijangkau seperti tebing tinggi atau hutan mangrove,” tambah Prof Ani.

**Pencarian Spesies yang Diduga Punah**

Penyebab ketiga adalah meningkatnya intensitas ekspedisi khusus untuk mencari spesies yang diperkirakan telah punah, atau dikenal sebagai Lazarus Species. Temuan ini sangat penting bagi pemerintah untuk menentukan status konservasi berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN).

**Tantangan Sosial dan Ekonomi**

Namun, Prof Ani mengingatkan bahwa tantangan konservasi di Indonesia tidak hanya soal teknis, tetapi juga faktor sosial dan ekonomi.

Di Papua, misalnya, penggunaan bagian tubuh burung cendrawasih untuk hiasan adat masih terjadi karena desakan ekonomi, meskipun kesadaran konservasi masyarakat adat mulai tumbuh.

“Masyarakat adat sebenarnya memiliki kesadaran konservasi, tetapi sering kali terdesak oleh kebutuhan ekonomi sehingga penegakan hukum tetap diperlukan,” tegasnya.

**Harapan untuk Masa Depan**

Di akhir penjelasannya, Prof Ani berharap temuan-temuan spesies langka di masa depan dapat memicu semangat eksplorasi keanekaragaman hayati di tanah air. Meski demikian, ia mengakui bahwa pendanaan penelitian untuk pencarian spesies masih menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan dalam negeri.

**Interpretasi yang Tepat Diperlukan**

Para ahli menekankan pentingnya interpretasi yang tepat terhadap fenomena kemunculan satwa langka. Masyarakat perlu memahami bahwa visibilitas yang meningkat tidak selalu mencerminkan pemulihan populasi.

**Camera Trap Sebagai Alat Monitoring**

Penggunaan camera trap telah merevolusi cara peneliti memantau satwa liar. Teknologi ini memungkinkan dokumentasi perilaku alami satwa tanpa gangguan manusia, memberikan data yang lebih akurat tentang keberadaan dan aktivitas mereka.

**Bioakustik untuk Identifikasi**

Teknologi bioakustik menjadi terobosan penting dalam identifikasi spesies nokturnal. Rekaman suara dapat mengungkap keberadaan satwa yang sulit diamati secara visual, terutama di habitat yang rimbun.

**Fragmentasi Habitat sebagai Ancaman**

Fragmentasi habitat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar. Habitat yang terpecah-pecah mempersulit pergerakan satwa untuk mencari makanan, pasangan, dan wilayah baru.

**Peran AI dalam Konservasi**

Kecerdasan buatan semakin berperan dalam upaya konservasi modern. Kemampuan AI untuk memproses data dalam jumlah besar membantu peneliti mengidentifikasi pola dan tren yang sulit dideteksi secara manual.

**Database Internasional**

Kolaborasi dengan database internasional seperti Xeno-canto memperkaya referensi ilmiah dan mempercepat proses identifikasi spesies. Platform digital ini memfasilitasi pertukaran informasi antar peneliti global.

**Drone untuk Lokasi Sulit**

Teknologi drone membuka akses ke habitat yang sebelumnya sulit dijangkau. Pemantauan dari udara memberikan perspektif baru dalam studi ekologi dan perilaku satwa di lingkungan alami mereka.

**Status Konservasi IUCN**

Penetapan status konservasi berdasarkan kriteria IUCN memerlukan data ilmiah yang akurat. Penemuan spesies baru atau rediscovery spesies yang diduga punah dapat mengubah strategi konservasi nasional.

**Dilema Konservasi dan Ekonomi**

Konflik antara kebutuhan ekonomi dan upaya konservasi menunjukkan kompleksitas pengelolaan sumber daya alam. Pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi menjadi kunci keberhasilan konservasi jangka panjang.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Globalisasi, Ekonomi Konstitusi, dan Nobel Ekonomi

Tafsir Konsep Ekonomi Rakyat Gus Dur

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab