Bukan dari Inti Bumi, Logam Tanah Jarang Ternyata Terbentuk di Zona Subduksi Purba

Pencarian logam tanah jarang, bahan baku vital industri baterai kendaraan listrik hingga ponsel pintar, selama ini menjadi tantangan besar bagi dunia. Namun, studi terbaru mengungkap terobosan geologi yang mampu memetakan lokasi deposit ini dengan lebih akurat. Para peneliti menemukan bahwa elemen-elemen langka ini terbentuk melalui proses purba di atas zona subduksi, tempat lempeng tektonik menunjam satu sama lain.

**Kristalisasi di Mantel Bumi**

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 8 April 2026 menawarkan solusi baru. Tim ilmuwan dari University of Adelaide, Australia, menemukan bahwa logam tanah jarang mengkristal di dalam mantel Bumi dalam gumpalan magma yang kaya logam alkali dan mineral karbonat.

Magma jenis ini, yang dikenal sebagai magma alkali dan karbonatit, ternyata terbentuk di atas zona subduksi kuno.

**Jejak Purba Bahan Kritis**

“Penelitian ini menunjukkan bahwa bahan-bahan untuk deposit mineral kritis ini sudah ada sejak jutaan bahkan miliaran tahun yang lalu,” ujar penulis utama studi, Prof. Carl Spandler, pakar mineralogi dari University of Adelaide, dalam pernyataan resmi.

Menurut Spandler, dengan mengidentifikasi lokasi proses kuno ini, area pencarian penemuan deposit masa depan dapat dipersempit secara signifikan.

**Menggugat Teori Mantle Plumes**

Dikutip Live Science, temuan ini menantang teori sebelumnya yang menghubungkan deposit logam tanah jarang dengan mantle plumes—kolom batuan cair panas yang berasal dari dekat inti Bumi.

Para peneliti mencatat bahwa suhu plumes mungkin terlalu panas untuk menghasilkan magma alkali dan karbonatit yang diperlukan membawa logam tanah jarang ke permukaan.

**Pemodelan Tektonik 2 Miliar Tahun**

Dalam studi ini, tim menggunakan pemodelan canggih untuk merekonstruksi tektonik lempeng Bumi selama 2 miliar tahun terakhir. Mereka membandingkan posisi zona subduksi kuno dengan lokasi deposit logam tanah jarang yang ada saat ini.

**Hasil Mengejutkan**

Hasilnya mengejutkan: 72 persen dari deposit logam tanah jarang yang dikenal saat ini berada tepat di atas material mantel yang pernah mengalami proses subduksi. Angka ini bahkan melonjak menjadi 92 persen untuk deposit yang berusia lebih dari 540 juta tahun.

**Proses “Pemupukan” Mantel**

Proses ini dimulai ketika sebuah lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Cairan seperti air dan elemen halogen (seperti fluor dan klorin) dilepaskan ke mantel di atasnya.

Zat-zat ini kemudian bereaksi dengan batuan peridotit, menciptakan wilayah mantel yang “terpupuk” atau terfertilisasi.

**Stabilitas Jangka Panjang**

Menariknya, wilayah kaya mineral ini bisa tetap stabil selama jutaan tahun sebelum akhirnya mencair dan menghasilkan deposit logam tanah jarang yang kita kenal sekarang.

“Jeda waktu ini adalah salah satu aspek yang paling mengejutkan dari temuan kami,” kata Spandler. “Ini menunjukkan bahwa mantel Bumi dapat menyimpan zona yang diperkaya ini dalam waktu yang sangat lama sebelum kondisi yang tepat muncul untuk membentuk deposit mineral.”

**Strategi Eksplorasi Baru**

Rekan penulis studi, Andrew Merdith, menambahkan bahwa hasil ini akan sangat membantu negara-negara dan korporasi dalam mengamankan pasokan mineral kritis mereka.

“Dengan berfokus pada zona tektonik kuno ini, perusahaan eksplorasi dan pemerintah dapat mengambil pendekatan yang lebih bertarget dan efisien untuk menemukan deposit baru,” jelas Merdith.

**Kriteria Lokasi Ideal**

Penelitian ini menunjukkan bahwa tempat terbaik untuk mencari logam tanah jarang adalah area yang memiliki sejarah zona subduksi purba, di mana magma terbentuk pada suhu rendah, serta wilayah kerak dan mantel atas yang sangat stabil.

**Akselerasi Transisi Energi Hijau**

Terobosan ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi hijau dunia yang sangat bergantung pada ketersediaan 17 elemen logam langka ini.

**Implikasi Geokimia**

Temuan ini mengubah pemahaman fundamental tentang bagaimana elemen langka berkonsentrasi di kerak Bumi, menunjukkan peran penting fluida subduksi dalam mengangkut dan mengkonsentrasikan logam-logam kritis.

**Metodologi Penelitian**

Tim menggunakan kombinasi analisis geokimia, pemodelan numerik, dan rekonstruksi paleogeografi untuk melacak pergerakan lempeng tektonik dan evolusi komposisi mantel selama miliaran tahun.

**Signifikansi Ekonomi Global**

Dengan permintaan logam tanah jarang yang terus meningkat untuk teknologi hijau, temuan ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada sumber tunggal dan meningkatkan keamanan pasokan global.

**Validasi Lapangan**

Para peneliti kini berencana memvalidasi model mereka melalui survei geofisika dan pengeboran eksplorasi di lokasi-lokasi yang diprediksi memiliki potensi tinggi berdasarkan rekonstruksi zona subduksi kuno.

**Aplikasi Teknologi Masa Depan**

Metode pemetaan ini dapat diterapkan untuk mencari deposit mineral kritis lainnya yang terbentuk melalui proses serupa, membuka peluang penemuan sumber daya mineral strategis baru di seluruh dunia.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

National Geographic: Batupedia