Tersimpan di Museum Satu Abad, Fosil Ini Ternyata Landak Semut Purba Seberat 15 Kg

Teka-teki paleontologi yang telah membingungkan para peneliti selama lebih dari satu abad akhirnya menemukan jawaban. Fosil tengkorak landak semut raksasa yang tersimpan di museum sejak 1907 baru-baru ini berhasil diidentifikasi. Temuan ini memastikan bahwa Owen’s Giant Echidna, leluhur landak semut modern berukuran monster, pernah menjelajahi wilayah Victoria, Australia, pada zaman Pleistosen.

**Mamalia Bertelur Berukuran Raksasa**

Landak semut atau echidna dikenal sebagai mamalia unik yang bertelur, serupa dengan platipus. Jika landak semut modern biasanya hanya berukuran 35 hingga 75 sentimeter, jutaan tahun lalu kawasan Australia dihuni oleh leluhur mereka yang berukuran jauh lebih besar.

**Dua Kali Lipat Ukuran Modern**

Salah satunya adalah Owen’s giant echidna (Megalibgwilia owenii). Spesies ini dapat tumbuh hingga panjang 1 meter dengan berat mencapai 15 kilogram—lebih dari dua kali lipat ukuran kerabat terkecil mereka yang masih hidup saat ini.

**Kesenjangan Geografis yang Membingungkan**

Meskipun sisa-sisa spesies raksasa ini telah ditemukan di hampir seluruh penjuru Australia, mulai dari Tasmania hingga Australia Barat, para peneliti sempat bingung karena tidak adanya bukti keberadaan mereka di negara bagian tenggara, Victoria.

Teka-teki ini akhirnya terpecahkan berkat pengamatan jeli terhadap koleksi lama museum.

**Harta Tersembunyi di “Gua Udara Busuk”**

Ilmuwan di Museums Victoria Research Institute berhasil mengidentifikasi fosil landak raksasa ini di antara tumpukan fosil yang pertama kali digali pada tahun 1907 di “Foul Air Cave” (Gua Udara Busuk), bagian dari Buchan Caves di East Gippsland, Victoria.

**Penyelidikan dengan Peralatan Sederhana**

Fosil tersebut awalnya ditemukan oleh Frank Spry, seorang naturalis yang melakukan penyelidikan hanya dengan bantuan tali dan lampu minyak tanah lebih dari seabad yang lalu.

**Pengakuan Signifikansi di Era Modern**

Namun, signifikansi fosil tengkorak parsial tersebut baru disadari pada tahun 2021 oleh Tim Ziegler, Manajer Koleksi Paleontologi Vertebrata di museum tersebut.

“Koleksi museum melestarikan hubungan antara sains, warisan, dan orang-orang. Lebih dari seabad yang lalu, Spry bersama para ilmuwan dan penduduk setempat menyelidiki gua-gua Buchan dan mereka menginspirasi kami untuk melanjutkan pekerjaan mereka,” ujar Ziegler dalam pernyataan resmi.

**Teknologi 3D Memecahkan Misteri**

Melalui pemindaian 3D yang membandingkan spesimen landak semut modern dan fosil di seluruh koleksi museum Australia, tim menyimpulkan bahwa fosil tersebut memang milik Owen’s giant echidna.

**Mengisi Celah 1.000 Kilometer**

Penemuan ini sangat signifikan karena berhasil mengisi celah geografis sejauh 1.000 kilometer dalam peta persebaran spesies tersebut. Sebelumnya, absennya data di wilayah Victoria menjadi lubang besar dalam sejarah migrasi megafauna Australia.

**Catatan Megafauna Buchan Caves**

“Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa Buchan Caves menyimpan catatan luar biasa tentang megafauna unik Australia, termasuk kangguru berwajah pendek Simosthenurus occidentalis dan marsupial raksasa Palorchestes azael,” tambah Ziegler.

**Penemuan dari Koleksi Lama**

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Alcheringa: An Australasian Journal of Palaeontology ini membuktikan bahwa penemuan besar tidak selalu harus datang dari penggalian baru di lapangan.

**Harta Tersembunyi di Laci Museum**

Terkadang, rahasia sejarah alam tersembunyi di balik ketelitian mata para ilmuwan saat menelusuri kembali koleksi kuno yang berdebu di dalam laci museum.

**Adaptasi Lingkungan Pleistosen**

Ukuran raksasa Owen’s giant echidna kemungkinan merupakan adaptasi terhadap kondisi iklim yang lebih dingin dan ketersediaan makanan yang melimpah selama periode Pleistosen.

**Kepunahan Megafauna Australia**

Spesies ini punah bersamaan dengan gelombang kepunahan megafauna Australia sekitar 40.000-60.000 tahun lalu, kemungkinan akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia purba.

**Metode Identifikasi Modern**

Tim peneliti menggunakan teknik morfometri dan analisis filogenetik untuk memastikan identitas fosil, membandingkannya dengan database digital spesimen echidna dari berbagai museum.

**Implikasi bagi Konservasi**

Temuan ini memberikan wawasan penting tentang sejarah evolusi echidna modern dan dapat membantu strategi konservasi untuk melindungi spesies yang tersisa saat ini.

**Potensi Penemuan Lebih Lanjut**

Kesuksesan identifikasi fosil ini mendorong para peneliti untuk memeriksa kembali koleksi museum lainnya yang mungkin menyimpan spesimen serupa yang belum teridentifikasi.


Sumber: Kompas.com


Buku Terkait:

Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab